Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Sepatu Hadiah si Benalu

* karya Dinar Hutagaol-Porsea
- Minggu, 17 April 2016 15:52 WIB
236 view
Tidak ada hasrat lain dari diri Rere selain sepatu. Soalnya, selama tiga tahun, tak pernah ada sepatu baru. Jika alas kaki tersebut bisa bersuara, ia pasti akan protes dan mogok dipakai.

Setiap hari Rere berdoa kiranya Tuhan memberikan sepatu baru. Apalagi sudah dekat perpisahan sekolah. Kalau mau camping, pakai hiking, kau butuh sepatu. Jika sepatu butut ini yang juga dipakai, robeklah. Tuhan, tolong berikan aku sepatu baru.

Lagi asyik berdoa, seorang perempuan mendekat. “Boleh aku minta sedikit makananmu?” Pinta gadis itu dengan suara lemah seraya. memamerkan tampang minta dikasihani.

Namanya Juwit. Anak baru di kelas Rere. Penampilannya mirip pengemis. Seragam kumal dan kusut. Rambutnya berantakan seperti tak pernah tersentuh sisir. Wajahnya dekil. Di ujung kiri bibirnya ada sebuah garis berlekuk sepanjang kira-kira tiga cm. Rere sangat meyakini kalau garis itu adalah jejak yang ditinggalkan air liur karena setiap pagi Rere selalu melihat hal yang sama di wajahnya.

“Boleh aku minta sedikit makananmu?” melihat Rere bengong bagaikan patung, Juwit mengulang permohonannya. Pertanyaan yang meneguhkan pernyataan Rere kalau Juwit tak ubahnya seperti seorang pengemis.

“Tolonglah! Aku sangat lapar”.
Rere buru-buru membagi separuh makanannya. Gadis dekil bernama Juwit itu memang terlihat sangat kelaparan. Bibirnya pucat dan kering. Tubuhnya terlihat lemah.

Jangankan sedikit, Rere menyerahkan semua. Harapannya, muncul kesadaran si dekit tidak menyantapnya. Tetapi emang sedang lapar. Makanan itu dilahap dengan lezat.

Besoknya, Juwit minta lagi. Bahkan sudah jadi agenda tetap. Akhirnya, antara kesal dan marah, Rere tiap hari bawa dua porsi agar bisa dibagi. Eeee...Juwit jadi kebiasaan. Makanan lain pun dimintanya. Alhasil, Juwit jadi benci tapi tak dapat menjauh.

Juwit memang suka minta tapi terus memberi. Caranya beda. Perempuan yang masih berpenampilan kumal itu melayani Rere seperti bos. Bahkan tiap hari dengan setia mengumpulkan buku pelajaran dan memasukkan ke tas sandang Rere. Juwit pun belum bersedia pulang jika Rere belum beranjak. Meski dipersilakan pergi, Juwit menjauh tapi tetap menunggu di gerbang sekolah.

Rere kini merasa iba atas nasib Juwit. Ia anak yatim-piatu dan tinggal bersama neneknya yang berprofesi PRT. Rere pun jadi tertarik dengan cerita Juwit yang tiap hari harus bangun pagi-pagi, menyiapkan kebutuhkan neneknya. Mengurus rumah di gubuk reyot.

Jadi itu yang bikin kamu jadi benalu, batin Rere. Iapun senyum sendiri. Setelah capek membantin dan menyumpah serapah, Rere belajar ikhlas memberi.
Yang diinginkan Rere dari Juwit adalah ilmunya. Selain jago di kelas, Juwit pun mahis bahasa Inggris dan Bahasa Korea. Soalnya, Juwit ratu televisi yang tak pernah lupa nonton drama dari negeri ginseng.

Persahabatan Rere-Juwit jadi akrab. Juwit kini sudah selalu diajak Rere ke rumahnya. Di sanalah Juwit seperti di surga karena bebas makan minum. Tetapi Juwit rajin. Itulah yang membuat Rere suka. “Kamu mandi sana! Sebelum para lalat bersarang di kepalamu!” ujar Rere ketika Juwit tiap petang hendak pulang.

Kadang Rere masih menganggap Juwit benalu.

***
Rere kini jadi perawat Juwit. Bila usai mandi, Rere menghiasi wajah sahabat benalu yang kini tidak kumal. Juwit kini benar-benar berubah. Totally change. Anak-anak sekelas heran.

Dari Rere pula Juwit dapat pekerjaan yakni sebagai penterjemah. Ada tiga rumah ekspatriat di Balige yang mempekerjakannya.

Entah pikiran dari mana. Ketika Juwit mendapat gaji pertama, yang ditemuinya adalah Rere. Ia menyerahkan satu bungkus kotak.

Rere terpelongo menerimanya. Apalagi ketika membuka isinya ternyata sepatu.

“Kau belu dari mana Benalu?
“Gak beli”.
“Jadi?”
“Jadi?” Kaucuri. Aku gak mau barang curian Benalu.”

“Aku tidak tahu apakah orang kaya di daerah kita ini punya sepatu macam begitu hingga tak mungkin kucuri!”
“Jadi?”

“Muridku yang bule itu pulang kekampungnya dan dikirimnya. Kupikir, hanya kakimu yang cocok memakainya.”

Rere terpukul. Dipeluknya Juwit sambil menitip air matanya. Ingin ditolaknya sepatu itu tapi rasanya sayang sekali menolak hasratnya sudah tiga tahun. Soalnya, harus berdoa 36 bulan baru dikabulkanNya ***

Especially for Ivan R.Siahaan. Thanks for being myinspiration!
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru