Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Dospita Mariani Sidauruk SMPN 1 Silimakuta, Saribudolok

Prestasi untuk Ayah Sahabatku

- Minggu, 17 April 2016 15:54 WIB
315 view
Aku punya kawan sekolah. Farel namanya. Dia anak kedua dengan seorang kakak. Rajin benar sekolah. Tak ada waktunya untuk berleha-leha. Baginya, kerja dan belajar adalah bermain.

Sepulang sekolah, misalnya, Farel kerja di doorsmeer, mencuci kendaraan. Maklum, jalan di kampung kami belum seperti di kota yang mulus. Bila tidak ada kerjaan masih mencari kesibukan lain yakni menjadi tukang sorong di pajak.

Uniknya, meski hari-harinya penuh dengan memeras peluh, Farel tetap juara di kelas. Bahkan kakak kelasku selalu minta jasanya mengerjakan bila mana ada PR dari guru. Dari sana pun Farel mendapat upah.

Terus terang, aku kagum padanya tapi Farel menampik puji-pujian yang dialamatkan untuknya. Ketika jadi utusan sekolah ke pertandingan ilmiah, Farel juara. Ia menganggap prestasi tersebut biasa saja meskipun satu sekolah bangga dan menaruh perhatian padanya.

Yang bikin Farel haru, ia tidak dapat menunjukkan hasil kerja kerasnya pada ayahnya. Menurut ibunya, ayah Farel sudah menghadapNya. Tapi kok tidak tahu di mana makam lelaki yang diimpikan Farel itu.

Aku pun ikut-ikutan mencari tahu di mana kuburan ayah Farel tapi tak juga ketemu. Satu kali, saat aku menemaninya pulang dari pajak, tiba-tiba ibunya menerkam Farel dan memeluk erat.

Perempuan yang melahirkan Farel menangis kuat-kuat hingga aku tergugup. Bingung. Ibu Farel mengabarkan bahwa ayahnya meninggal di Batam. Ayahnya? Bukankah selama ini diberi tahu ayah Farel sudah wafat?

Ibunya lalu mengaku selama ini telah berbohong karena sejak merantau, ayahnya tidak pernah memberi kabar, memberi biaya hidup keluarga. Itulah alasan ibunya mengatakan ayah Farel sudah berpulang.

Mengetahui itu, Farel bersikeras mengunjungi ayahnya. Aku dan kawan-kawan ikut mengumpul uang untuk membeli tiket sahabat baik kami itu ikut prosesi penguburan. Dari pulau yang berada berdampingan dengan Singapura itu Farel mengabarkan, masih sempat memeluk jasad ayahnya.

Bahkan Farel masih sempat meletakkan plakat penghargaan yang diterimanya saat menjuarai Olimpiade Matematika. Menurutnya, apa yang diimpikan belasan tahun ini, terwujud meski berujung dengan air mata. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru