Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Cerpen

Aku Ingin Kita Memandang Langit yang Sama Seperti Dulu

* Karya Laba Supriano Simanjuntak - Rantauprapat, Sumut
- Minggu, 24 April 2016 19:40 WIB
381 view
Aku melanjutkan montage photoshop yang kutinggalkan empat tahun lalu. Kali ini, sama seperti 1.460 hari yang lalu, pekerjaanku macet lagi. Apa sih susahnya melukis dengan paint? Kan cuma mengikuti alur yang tergurat. Tapi, uniknya, setiap hendak memulai, memoriku tentang Grace Audia Boru Pardede membuat jantungku berdetak lebih kencang. Bukan cuma berlari tapi menggerudu seperti peluru berlompatan dari senapan serbu.

Aku mengenalnya tahun 2011, tepatnya 20 September di Rantauprapat. Mulanya aku sangsi bicara langsung. Itulah sebabnya aku minta nomor hpmu via sahabatmu. Bukan takut namun jantungku bergerak kacau. Sama seperti saat hendak melanjutkan lukisan yang tertunda.

Sehari kemudian, tepat pada malam Kamis 24 September 2011, kau membalas SMSku. Betapa riangnya aku karena saat pertemuan pertama komunikasi kita mencari seperti air sejuk. Aku pun jadi berani menyentuh ujung hidungmu ketika air di pantai berkecipak menempel di anak rambutmu.

Yang paling membahagiakanku ketika engkau mempertahankan rasa hatimu meski orangtuamu menolakku. Kau bilang, alasan usiamu yang lebih banyak ketimbang aku, bukan prioritas. Memang sih, aku adik kelasmu tapi dalam rasa, kita sama.

Buktinya, selama dua tahun kita berjalan, aku dan engkau sama-sama memandang langit yang sama, menikmati udara yang sama dan berbasah di air yang sama. Bahkan kita sepakat untuk mempertahankan cinta yang sama. Untuk mau dibawa ke hubungan selanjutnya, kita sepakat saat menginjak usia 25 tahun!

Hanya saja, di bulan kelima setelah 4 tahun kita rayakan kebersamaan, engkau berulah. Ya, berulah. Aku pun semakin marah padamu karena engkau bertahan dengan modelmu.

Coba camkan. Pantaskah aku berdiam mematung melihat engkau dekat dengan pria lain. Lazimkah engkau berpenampilan seperti artis Hollywood bergaun seperti kekurangan bahan. Kita ini hidup di timur dengan kebudayaan yang menjunjung norma tapi kau justru menjawab dengan amukan.

Sejujurnya aku bilang, aku malu dengan penampilanmu tapi namanya aku the best friend tetap mendampingimu malam itu. Setelah kita bertengkar hebat, aku menyesal. Tapi bukan berarti menyetujui adab dan adatmu. Sekali lagi, kita orang Batak yang dibatasi norma. Tidak bisa suka-suka.

Saking kesalnya, aku banting teleponku. Setelah hatiku tenang, aku yang pertama kali menghubungimu tapi kenapa kau begitu kejam.

 "Jangan kau telpon aku lagi," ucapmu dengan nada yang sangat tajam menikam hatiku.

Ingin kumaki tapi aku berpikir, tak layak berbuat kasar. Sejak saat itu hidupku seperti berlari dalam ruang gelap. Tak tahu arah.

Aku melanglang sendiri. Ya, seorang diri. Seperti play boy uzur yang tak selera lagi dengan wanita. Tetapi, bukan tak ada perempuan yang suka padaku.
Bukan satu, dua atau tiga. Mungkin sepuluh. Bukan dari perempuan sembarangan tapi mulai dari kelas menengah hingga selebritas. Tetapi hatiku tak tertarik, meskipun aku jalan berdua dengan wanita-wanita sempurna.

Hanya Tuhan yang tahu betapa hancur hatiku bila berjalan dengan perempuan lain selain dirimu. Soalnya, betapapun aku tertawa cekikikan, kebahagiaan yang kupagut tak senikmat seperti berdua bersamamu. Apalagi bila dibanding 4 tahun 5 bulan yang kita rajut.

Dalam kehampaan hati, aku tetap berdoa padaNya kiranya Yang Di Atas menggerakkan hatimu untuk kembali berpaling padaku. Kutegaskan padamu, cinta tulus tak bisa dibohongi, tak dapat berpura-pura, tak bisa munafik.

Hari ini aku ingin berdamai dengan masa laluku. Bersama dengan itu, aku ingin melupakan sakitnya dengan melanjutkan lukisan yang tertunda lebih dari 48 bulan lalu.

Aku ingin kita memandang langit yang sama seperti dulu lagi. Forever.
I Want to give you my heart. I Want to give you my live. Only for you.... (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru