Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Kerupuk Hardiknas

* Juliana, SMA Methodist 2 Rantauprapat
- Senin, 09 Mei 2016 09:52 WIB
470 view
Aku tegas-tegas bilang t i d a k! Tidak untuk berpasangan dengan Alex. Betapapun Bu Noni sudah menyeleksi dan menetapkan couple untuk Lomba Makan Kerupuk, aku tak mau. Soalnya, bila kuiyakan berarti aku menelan ludah yang sudah kumuntahkan.

Ingat setahun lalu, kan?! Ketika itu ada lomba Cerdas Cermat. Pemenangnya tak hanya berdasarkan hasil di lapangan tapi diakumulatifkan berdasarkan hasil rapor.

Bagiku cara seperti itu lebih fair play, obyektif. Dengan penilaian seperti itu berarti seluruh peserta tidak simultan tapi harus belajar sejak jauh hari. Ketika pengumuman, aku muncul sebagai pemenang. Mengalahkan Alex yang selama ini terus-menerus di ranking pertama di kelas bahkan pernah menjadi jawara umum sekolah.

Hasil itu membuatnya marah. Alex bahkan membanding-bandingkan prestasiku dengan adapku sehari-hari. Puih, rupanya ada salah apa dengan kepribadian seharian?

Aku gak sangka Alex sekejam itu. Kami berteman cukup lama, sejak SMP. Setiap hari bersama, kadang di luar jam sekolah masih bermain bersama. Lalu, gegara hasil  Cerdas Cermat yang tak sesuai dengan ekspektasinya, ia murka dan mencaci-makiku.

Aku berjanji, tak mau lagi bicara dengannya. Bila langit runtuh, aku tetap tak mau terhimpit di dekatnya. Itulah sebabnya kenapa aku berani menolak pilihan Wali Kelas. Tetapi, Bu Noni tetap pada keputusannya.

Akhirnya, sepanjang hari, aku memikirkan bagaimana caranya agar tidak berpasangan dengan Alex. Aku sudah punya skenario, minta surat sakit biar tak datang di Hari Pendidikan Nasional. Otomatis aku gak ikut perlombaan itu. Namun, tugasku sebagai anggota Paskibraka mewajibkan aku hadir. Tidak bisa diwakilkan. Sekolah pun tidak pernah menyeleksi untuk cadangan.

Tidak gampang lho terpilih jadi pasukan pengibar duplikat Sang Merah Putih. Aku kemudian mencari rekan sekelas untuk mengganti posisiku berdampingan dengan Alex dalam lomba.

Setelah lama mencari, Cherry, akhirnya bersedia. Betapa baiknya sahabatku itu karena mau memahami ketakutanku. Tetapi, ketika lomba hendak dimulai, Alex mendekat dan menarik tanganku. Aku menampik dengan keras namun ia bersikukuh.

“Maafkan aku. Maafkan semua kejadian lalu. Ini untuk nama harum kelas kita,” harapnya. Aku masih tetap menolak tapi Alex terus menarik aku ke lokasi lomba dengan gerak minta maaf yang membuatku luluh.

Selama ini, aku memang terlalu ego. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru