Hari Pendidikan Nasional di sekolah kami diikuti dengan ragam lomba. Untuk kali ini, Nabila terpilih ikut dalam Lomba Cerdas Cermat. Yang menetapkan Miss Mona.
Begitu Wali Kelas mengumumkan nama Nabila, satu ruangan tertawa diikuti sorak-sorai. Meskipun sangat menusuk hatinya, Nabila ikut tertawa. “Sabar, Bil. Mereka memang jahat, primitif,” bela Diva membesarkan hati sahabatnya.
Terus terang, Bila jadi down. Tetapi jauh di lubuk hatinya, sikap kawan-kawannya membuatnya bersemangat untuk belajar lebih banyak.
Biasa, pulang sekolah langsung melempar tas ke ranjangnya. Kemudian lanjut main-main. Malam hari pun diisi dengan hobinya. Bila baru membuka buku bila ada tugas rumah dari guru.
Namun sejak ditetapkan menjadi peserta Cerdas Cermat, Bila fokus dengan pelajaran. Ikut les bahkan bimbingan di luar sekolah. Sambil rutin menjalani ekstra kurikuler, juga ikut les nyanyi dan musik.
Ketika kawan-kawannya tahu, Bila makin dileceh. Menurut mereka, apa kaitannya antara les musik plus nyanyi dengan cerdas cermat? Bila sampai ingin memutuskan mundur dari perlombaan. Soalnya, hatinya membenarkan apa yang dikatakan kawannya. Sepertinya gak nyambung kursus musik dan nyanyi dengan Cerdas Cermat. Namun, mamanya tetap memaksakan hal itu.
“Kamu kan belum pernah ikut lomba seperti itu. Nanti disaksikan massa. Tak cuma rekan sekelas, tapi keluarga besar sesekolah,” urai mamanya. “Di sana tak hanya pengetahuan yang diperlukan tapi persiapan mental menghadapi massa. Berhadapan dengan penonton yang banyak, diuji di atas pentas, beda dengan bila di rumah!”
“Tapi, Ma...”
“Les musik dan nyanyi melatih mental bertanding. Nanti, setelah selesai lomba, sudah... berhenti les musik dan nyanyinya,” tambah mama Bila.
Bila mulai semangat lagi berlatih. Kali ini latihannya justru tidak di ruangan. Guru privatnya mengajak Bila tampil di mal.
Ketika hendak tampil, bukan main Bila gemetar. Rasanya mau pipis di celana. Benar juga, ketika menyuguhkan suaranya, kerongkongan seperti tercekat. Penampilannya jadi hambar.
Jangankan berharap tepukan, penonton pada cuek. Penampilan Bila seperti tak ada. Buktinya, pengunjung hilir-mudik terus. Padahal, persiapan sudah begitu matang.
Guru Bila terus memaksa muridnya tampil. Kedua dan ketiga, sudah lumayan. Tetapi, yang dipetik Bila adalah kekuatan mentalnya tampil di depan umum, semakin tinggi. Apalagi memerhatikan audiens dari kalangan yang jamak, orang-orang yang sama sekali tak dikenalnya.
Bersamaan dengan itu, Bila terus melatih kualitas ingatannya pada ilmu pengetahuan. Seperti yang dianjurkan papanya, tiap hari membaca koran dan menyaksikan televisi khususnya berita. “Lupakan nonton sinetron!”
Saat yang dinanti tiba. Pagi hari, saat seisi rumah belum bangun, Bila sudah mandi dan menyiapkan sarapannya sendiri. Sampai-sampai asisten rumah tangganya keheranan dan takut dimarahi sebab tidak menjalankan tugas, sebagaimana biasa dijalaninya.
Sambil makan, Bila teriak-teriak sendiri. Menyanyikan lagu yang kemarin dibawakannya di depan publik di mal megah di kotanya. Sebelum berangkat, Bila masih menyanyi lagi atas permintaan mama papanya.
Begitu sampai di sekolah, di dalam kelas, tetap saja ia bernyanyi sekuatnya. Rekannya makin gemas dan menuduh Bila stres menjelang lomba. Soalnya, yang diikuti Lomba Cerdas Cermat tapi kok menghapal lagu.
“EGP,” teriak Diva mendukung Bila. Cuma Diva yang mau memahami perjuangan sahabatnya.
Benar juga. Ketika lomba dimulai, Bila merasa plong. Naik ke podium dan duduk berhadapan dngan peserta lain sebagai hal biasa. Soal jawaban benar atau tidak, tapi argumen-argumen menguraikan pertanyaan guru diutarakan dengan baik.
Begitu turun, Wali Kelas menangkap tangan Bila dan memberi pujian. Bila justru diminta menggantikan posisi rekannya untuk ikut Lomba Vokal Solo. “Kamu ikut apa kata saya. Bila ikut Lomba Vokal Solo. Soalnya, suara kawanmu tiba-tiba hilang. Serak!”
“Lagu apa Miss?”
“Terserahmu,” tantang Miss Mona. “Yang penting... ingat, kamu mewakili kelas. Tunjukkan keistimewaanmu. Jangan sia-siakan kepercayaan Miss!”
Mengetahui Bila ditunjuk mewakili kelas di Lomba Vokal Solo, kawan-kawan pada protes. Miss Mona marah. “Kenapa kalian protes. Kenapa kalian tadi tidak mau ketika ditawarkan pada kalian ha...”
Rekan sekelas yang protes merepet panjang dan tak mau melihat pertandingan. Tetapi, ketika Bila naik ke pentas dan beroleh tepukan, kawan-kawan yang sengaja berkumpul di kantin terpanggil melihat karena massa bertepuk.
Dari atas pentas, mengimprovisasi penampilannya, Bila mengucapkan terima kasih atas dukungan Miss Mona dan kawan-kawan.
Ketika pengumuman digelar, MC mengutarakan pemenang Lomba Cerdas Cermas adalah Azmi dari kelas 12 A. Jantung Bila mau copot. Terbanyak bagaimana nanti kawan-kawan akan meleceh.
“Ya Allah... jangan buat aku menderita karena ejekan kawan-kawan,” doanya dalam hati.
“Pemenang kedua jatuh pada Okta dari 10 A,” ucap pembawa acara yang membuat Bila semakin ketakutan. “Pemenang ketiga, Nabila Andini!”
Tanpa sadar Bila berteriak dan loncat kegirangan hingga roknya tersingkap dan menampakkan bagian dalam. Ia kemudian bersujud.
Tak terasa air matanya menitik. Saat pengumuman Lomba Vokal Solo dimulai, Bila lari ke kantin dan berbagi bahagia dengan kawan-kawannya, khususnya yang mengolok-olok.
Bila merasa tidak ada kans untuk menang di lomba nyanyi. Soalnya tanpa persiapan. Hasil Cerdas Cermat telah memberinya kepuasan. Saat ketawa-ketawa, Miss Mona datang dengan mata melotot dan meneriaki nama Bila.
“Kamu menang. Cepat ke pentas!”
“Menang apa, Miss?”
“Juara Vokal Solo!”
“Ya Allah...” Bila tak bisa berkata apa-apa selain menubruk dan memeluk erat tubuh Wali Kelas serta sujud syukur.
(f)