Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Menjahit Gelombang

* Karya Hotmarulitua Siagian - Teater ‘Coret’ SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 15 Mei 2016 16:57 WIB
432 view
Aku terbangun di pagi hari yang begitu cerah. Kucoba menghirup udara baru saat membuka jendela. Kulihat sekitarnya untuk pertama kalinya. Betapa indah bagai rangkaian bunga, menggugah rasa dan daya cipta. Luar biasa.

Cepat-cepat ke sekolah. Ramai orang tapi aku tak kenal seorang pun. Mencoba ramah tapi tiba-tiba ada seseorang yang berteriak. Kulihat sesaat namun aku melanjutkan jalan. Sekonyong-konyong tubuhku ditabrak dari belakang hingga buku yang kubawa jatuh berserak.

Kutatap tajam matanya hingga bola mataku seperti hendak menyambar tapi dia cuek saja. Seperti tak bersalah sama sekali. Setelah merapikan, aku duduk di bawah pohon rindang. Lama bersekolah, ada kenal dau sahabat. Namanya Edim dan Marsia.

Edim pelajar polos dengan kacamata yang menempel di wajahnya. Marsia si tomboi yang selalu berpenampilan rapi dan konsisten. Kami bertiga adalah sebaya.

Masuk di kelas baru, kami bertiga sekelas. Ada sahabat baru lagi. Namanya Asyila Huang. Gengku di kelas kini ada dua kelompok. Yang pertama dengan Endim dan Marsia. Yang kedua dengan Asyila plus bertiga dengan Hana dan Felix.

Aku ingin menggabungkan dua kelompok tersebut tapi sahabatku di masing-masing kelompok seperti menolak. Alasannya, ada orang asing. Meski sudah kujelaskan berulang kali jangan skeptis apalagi curiga dengan yang lain, tetap saja tak berhasil

Aku justru dituduh macam-macam. Mulai tidak nasionalis hingga materialis. Emangnya, kenapa berteman dekat dengan Asyila? Aku gak ngerasa seperti benalu kok. Mungkin tuduhan itu karena mereka skeptis saja. Mentang-mentang Asyila kaya, seolah aku memanfaatkannya.

Dari menjaga jarak denganku, kini aku seperti dimusuhi. Apalagi sejak kejadian hujan ketika pulang sekolah. Aku diajak Asyila menumpang mobilnya namun kawan yang lain tidak. Jangankan mempersilakan menegur saja tidak. Aku juga jadi ikut-ikutan menjaga perasaan mereka. Sudah kuutarakan pada Asyila tapi ia cuek karena lebih fokus pada persoalan kelaurganya.

"Kedua orang tuaku bertengkar makin hebat. Aku tak tahan menyaksikannya. Yang aku khawatirkan, mereka cerai!"

Asyila makin menutup diri dari sahabat-sahabat di kelas. Kini, cuma padaku ia berteman. Tetapi aku bingung, bagaimana menutup jurang antara Asyila dengan para kawan? Kadanya aku berpikir, ingin menceritakan secara jujur kenapa Asyila seperti eksklusif, tapi aku khawatir justru menjadi alat bagi mereka menyerang sahabatku.

Satu-satunya jalan agar kawan-kawan tidak menilai negatif pada Asyila, aku selalu membagi apa yang diberikan padaku secara diam-diam. Eh, niat baikku diapresiasi negatif. Aku jadi seperti pesinetron. Terus saja bersandiwara.

Pada kawan-kawan kukatakan Asyila punya masalah keluarga hingga terbawa pada sikap kesehariannya. Sementara pada Asyila kukatakan bahwa kawan-kawan tetap memerhatikan Asyila. Meski sahabatku itu tidak yakin aku terus saja cerita soal positif Asyila.

Tetapi, tetap saja usahaku tak berhasil. Aku semakin merasa bersalah. Bukan soal gagalnya usaha tapi kini Asyila seperti curiga padaku. Ia selalu bilang, apa yang diceritakannya padaku, tidak perlu diketahui orang lain.

Aku terpukul. Seolah Asyila menerima cerita sebaliknya dari upayaku. Aku jadi tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan.

Kesempatan berharga datang ketika perlombaan antarkelas digelar. Oleh guru, kami dibagi dalam kelompok-kelompok guna menghadapi kelompok dari kelas lain. Aku minta dijadikan satu kelompok dengan Asyila dan rekan-rekan dalam geng tapi terjadi pertentangan. Asyila pun menolak aktif.

Aku mulai berbohong lagi. Bilang ke Asyila bahwa kawan-kawan memaklumi persoalannya hingga memberi rekomendasi untuk tak aktif. Seterusnya pada kawan-kawan kukatakan, Asyila tak aktif secara fisik tapi tetap bekerja di rumah. Buktinya, tugas kelompok dalam melatih kualitas dikerjakannya.

Memang, untuk soal otak, Asyila pintar. Mengungguli yang lain rekan sekelas. Ketika pertandingan menulils karya ilmiah digelar, hasil rangkuman per kelompok diserahkan pada panitia. Aku bilang pada kawan-kawan, semua pekerjaan dilakukan Asyila. Padahal, nyatanya tidak demikian. Aku menempa karya penelitian ke rekan abangku yang punya pekerjaan pembuat skripsi.

Saat pengumuman digelar, karya kelompok kami dinilai terbaik. Mendapat kabar itu, kawan-kawan yang semua antipati pada Asyila berbalik menyukainya.

Begitu ketemu Asyila, kami langsung mengelukannya. Kebekuan yang ada selama ini, mencair. Asyila pun menerima.(r)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru