Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026
Cerpen

Barisan Kasih di Kaki Bukit Barisan

* Karya : Thom Chadwick Panjaitan/ SMP N 3 Sei Bingai -Langkat
- Minggu, 12 Juni 2016 16:10 WIB
421 view
Barisan Kasih di Kaki Bukit Barisan
Kelopak mataku akan selalu basah jika mengingat semua kisah itu. Selimut kemiskinan yang enggan beranjak sejak dulu bahkan hingga kini masih terasa hangatnya efek dari keadaan tersebut. Namun berkat dekapan kasih mereka, kakiku tegar meski terkadang terantuk dengan batu-batu besar yang menghampar sepanjang perjalanan kehidupan. Mereka adalah Ayah dan Ibu. Orangtua yang selalu mengajariku bahwa kasih adalah kunci segala-galanya.

Ayah! Sejak aku mengenalnya hingga memasuki usia senja, tubuhnya tetap seperti itu. Kurus. Saya paham itu adalah efek kerasnya hidup yang menerpanya hingga dia tidak sempat memikirkan bagaimana menyimpan lemak di dalam lipatan tubuhnya. Namun kakinya amat tegar menapaki duri, bahunya amat kuat sekuat unta menahan beban.

Saat berumur delapan tahun, saya ingat betul bagaimana bahu itu memundakku. Membawa berobat karena diserang penyakit diare dan demam tinggi. Napasku tinggal satu-satu akibat sakitnya yang kualami. Lalu Ayah memundakku menuju Pak Mantri yang ada di desa Onansau, yang jaraknya hampir 20 kilometer.
Tiada keluh sepatah kata terdengar saat menapaki punggung bukit. Peluh  yang membanjiri tubuhnya tiada dia rasa. Kaki itu semakin cepat diayun, dengan tujuan agar hidupku terselamatkan.

Aku merasa nyaman di pundaknya. Dan rasa aman itulah yang membuat aku cepat sembuh dan juga efek suntikan Pak Mantri.

Ayahku sedikit pemarah. Sifat itu akan muncul jika ada sesuatu yang tidak beres di hatinya. Namun di balik itu, ada sifat lain yang mungkin jarang kutemukan pada Ayah-ayah lain. Ayahku  sangat suka memasak. Meski dengan bumbu seadanya, nikmatnya luar biasa. Jenis daun-daun tumbuhan apapun dapat diolahnya menjadi sayur, apalagi saat kami berada di ladang.

"Semua daun-daun ini dapat diolah menjadi obat. Kalian makanlah, agar tubuh kalian sehat," ucapnya saat kami sangsi memakan sayuran yang telah dihidangkannya.

"Ayah..., kenapa selalu ada lengkuas di sayuran yang Ayah masak?" tanyaku kemudian.
"Sekerat lengkuas, dapat menggantikan penyedap berbahan Monosodium Glutamat," suara Ayah seperti seorang guru yang lagi menerangkan pelajaran. Itu memang sangat terbukti. Ayah paling tidak suka makanan yang mengandung zat penyedap rasa buatan pabrik.

"Zat-zat penyedap alami, jauh lebih baik bagi tubuh," lanjutkan lagi. Kami semua tercengang akan kepintaran Ayah.

Kini kusadari itu adalah tindakan yang luar biasa yang menambah daya tahan tubuhnya. Meski usia ayah sudah memasuki masa senja, matanya tetap terang membaca tanpa alat optik. Punggungnya tetap lurus, dan kakinya masih tetap kuat. Hingga detik ini Ayah tidak pernah dihinggapi penyakit parah. Ayah tidak pernah menginap semalampun di rumah sakit. Hebat bukan? Aku ingin seperti Ayah.

****
Ibu! Kasih Ibu sepanjang masa. Tiada insan yang meragukan ungkapan itu. Sesulit apapun medan perjuangan, tangan Ibu yang lembut sanggup meneduhkan lara yang tengah berkecamuk.

Dalam kepekatan malam dan rumah hanya berhias lampu teplok, rengkuhan Ibu terasa nyaman menghalau ketakutan hatiku. Malam selalu Ibu habiskan mendongeng agar kami anak-anaknya tertidur. Kebiasaan Ibuku memang mendongeng. Karena dongeng-dongeng yang selalu berkumandang itulah yang menyuntikkan aku hingga begitu suka menulis cerita. Setelah kami tertidur pulas, Ibu akan "Mangaletek" atau mengayam tikar.

Jika Ibu kehabisan bahan dongeng, dia akan menceritakan kejadian yang menimpa hidupnya. Saat itu saya masih bayi, berumur delapan bulan.
"Masa kamu bayi, sebuah tragedi menimpa kita berdua, Nak!," suara Ibu, suatu malam, saat kami hendak berbaring.

Saat itu musim "Mamuro" atau menjaga padi. Di tengah heningnya huma, karena burung pipit tengah istirahat, sebuah lebah mencoba menyengat punggung Ibuku yang tengah asyik mencari kayu bakar di tepi huma. Dengan sigap tangan Ibu menepuk lebah dan pingsan seketika. Ternyata tindakan Ibu itu adalah awal petaka. Beberapa menit kemudian terdengar dengungan dari langit.

"Ya..., Tuhan tolong kami," doa Ibu sejenak.
Segerombolan lebah diganggu burung elang untuk mengambil madunya, menyerbu huma kami. Ibu berlari sekuat tenaga. Tujuannya hanya satu menyelamatkan saya yang tengah tertidur lelap di ayunan di dalam gubuk. Terlelap menikmati angin dan damainya hidup di bumi ini. Dengan terengah-engah dia menarik dan memelukku yang saat itu tiada bersuara, seolah tahu kalau Ibuku tengah terancam nyawanya akibat menyelamatkanku.

Ratusan ekor lebah yang berang karena madu dan anaknya diganggu elang, telah berhasil menempelkan bisanya di tubuh Ibuku. Dia terus berlari dan berlari sambil memelukku melindungi dari sengatan lebah yang terus mengejar kami.

Duri-duri ilalang yang menusuk kaki yang tidak beralas itu tiada dia rasakan. Mata ibu sembab, seekor lebah berhasil menyengat kelopaknya. Ibu kewalahan berlari akibat tenaganya sudah habis tercurah.

Di tengah kepanikan, sebuah suara menenangkan batinnya agar berhenti. Ibu bersembunyi di tengah ilalang yang sangat tinggi dan lebat. Doa-doa permohonan pertolongan tiada henti-hentinya. Sejurus kemudian dengan tangan kiri, kain penutup kepalanya dia lemparkan sejauh tenaganya. Lalu kembali merunduk melindungi tubuhnya.

Keajaiban terjadi. Ibu menyaksikan gerombolan lebah itu menyerbu kain itu. Beberapa menit kemudian, suara dengungan itu hilang. Air matanya tidak terbendung menyaksikan pertolongan Tuhan saat itu. Mata ibuku basah tetesan air matanya tak sengaja menetes di tubuhku dan saat itu aku tiba-tiba menangis. Menangis haru melihat perjuangannya menyelamatkan nyawa kami. Ibu menciumi pipiku.

"Jadi kalau kita diserang lebah atau hewan penyengat, baju atau kain yang kita pakai, kita lemparkan saja. Dan hewan-hewan itu mengira kain itu adalah tubuh kita," kata Ibu mengakhiri ceritanya malam itu.

Segala daya, akan Ibu lakukan demi  anak-anaknya. Dia rela tidak membeli baju baru, bahkan rela tidak memakan makanan yang enak demi kehidupan anak-anaknya. Doa-doanya selalu berkumandang di tengah keheningan malam. Agar Sang Maha Mendengar, melindungi anak-anaknya.

Di kaki Bukit Barisan, begitulah kasih Ayah dan Ibu bersemi sepanjang masa. Kasih yang memang luar biasa. Panutannya akan selalu kukenang dan akan kuwarisi kepada anak cucu. Kelak kasih itu akan merekatkan semuanya. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru