Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Tak Ada yang Beda

* Natasya CC Sirait, SMP Budi Murni 1 Medan
- Minggu, 26 Juni 2016 15:32 WIB
251 view
Tak Ada yang Beda
Kata orangtuaku, sahabat yang baik adalah yang mau berteman saat susah maupun bahagia. Teman yang membangun itu adalah yang bersedia mengkritik atau menunjukkan kesalahan rekannya. Tetapi beda dengan sohibku. Sebut saja namanya Litha.

Ia anak orang kaya. Apa saja yang diinginkannya, pasti dikabulkan. Saat rekan sebayanya tak mengerti smartphone, Litha sudaj karib dengan iPhone. Bandingkan dengan aku yang tak punya apa-apa. Beli HP pun harus yang second. Lebih tepatnya barang sisa kakakku.

Cara mendapatkannya pun harus mengerjakan perintahnya. Katanya, daripada diberi upah duit lebih baik HP. Gak papalah. Yang penting halal.

Bisa sih aku pinjam peranti canggih Litha tapi sampai kapan itu dilakukan. Apalagi saat ini, ia sedang benci denganku. Pasalnya karena aku bilang padanya jangan pilih-pilih kawan. Jangan sepele pada orang lain. Mentang-mentang kaya, memandang orang lain sebelah mata.

Aku tidak terlalu memikirkan marahnya. Aku hanya khawatir sahabatku karena semakin banyak musuhnya. Siapa sih yang suka disepelekan di depan umum. Apalagi karena beda materi.

Kalau aku sudah kebal dengan marahnya Litha. Aku justru berterima kasih. Dengan berangnya karibku itu berarti aku telah menjalankan koreksi dengan baik. Dan aku tidak akan pernah berhenti menunjukkan apa yang terbaik padanya. Minimal untuk ukuran moral dan adab seperti yang kuketahui dari ajaran orangtuaku dan agamaku.

Ironisnya, semakin kunasihati, Litha semakin menjadi-jadi. Sekarang, menjauh dariku. Ia dapat kawan baru. Anak sekolah ternama, yang selama ini rival dengan sekolahku. Aku masih selalu diajaknya tapi aku menolak dengan alasan takut terkontaminasi. Litha justru marah. Dituduhnya aku sok suci dan moral rendah.
Alasannya, kalau sudah punya kepribadian, tak akan pernah teracuni. Benar juga ya... tapi aku yakin Litha cepat terpengaruh hal-hal buruk.

Tengoklah, sekarang ia jarang pulang petang. Alasannya pada mama-papanya, les sampai malam. Suatu kali, ia ngaku ikut retreat program sekolah. Padahal tidak.

Untuk yang satu ini, aku benar-benar marah. Litha masih muda sudah mahir berbohong.

Tahu aku tak suka. Ia menutup alat komunikasinya hingga tak bisa dihubungi. Firasatku sangat tak enak, antara takut dan ngeri. Kuberanikan mendatangi rumahnya. Maksudku ingin membocorkan perangai Litha pada keluarganya. Tetapi betapa terkejutnya aku karena di rumah itu ramai orang bertangisan. Ada bendera mengabarkan duka.

Aku ikut menangis karena ternyata kedua orang tua Litha meninggal korban kecelakaan lalu-lintas. Melihat dua peti mati berjajar di satu ruang, aku gemetar. Tak sadar aku menangis histeris. Di mana Litha...

Keluarganya pun bingung karena tak ada yang tahu keberadaannya. Ketika prosesi penguburan hendak dimulai, tiba-tiba Litha muncul.

Ia terpukul. Berteriak-teriak. Tangisannya semakin keras dan tiba-tiba hilang. Aku jadi tumpuan rebahan tubuhnya yang lunglai, seperti tak bertulang. Setelah siuman dari tak sadarnya, kudengar ia minta maaf padaku tapi kuarahkan agar minta pengampunan padaNya dan sesegeranya banyak mendoakan arwah orangtuanya.

Aku kembali menegaskan, tidak ada yang beda derajatnya karena sama-sama ciptaanNya. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru