Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
C u r h a t

Masih Perasaan yang Sama Seperti 10 Tahun Lalu

* R Mahendra Mohan Cettiar - Lubukpakam, Deliserdang
- Minggu, 10 Juli 2016 17:50 WIB
254 view
Masih Perasaan yang Sama Seperti 10 Tahun Lalu
Kata orang, kalau bertemu cewek dan jantung bergetar aneh, berarti ada rasa sesuatu. Aku, waktu masih SMA, duduk bersama wanita. Lagi asyik berdua, jariku meremas kabel berarus. Jangankan jantungku, seluruh tubuhku pun seperti disengat tawon. Rasanya badanku jadi panas. Padahal kejadiannya di Berastagi, Tanah Karo yang dingin. Ujung-ujungnya, aku justru benci berdua-duaan di gelap malam. Kwkwkwk.

Berawal dari sepupuku, yang memakcomblangiku dengan rekannya. Aku sih oke aja.

Aku dikenalkan dengan cewek cantik luar biasa. Tak hanya anggun, tapi kepribadiannya memesona. Sudah begitu, ia kental dengan adat-istiadat. Perempuan tipe seperti ini yang kuimpikan.

Pertemuan pertama mengecewakan. Meski sudah ngobrol panjang, si cewek tetap tak mau terbuka tentang perasaannya. Ia hanya bilang, bakal SMS.

Sejak itu, sepanjang nafasku, aku memelototi HPku. Tapi, sepanjang perjalanan kembali ke Medan hingga ke rumah di Lubukpakam, Deliserdang, tak ada realisasi yang dijanjikannya. Bahkan hari berganti bulan, juga tak dipenuhinya.

Saking mengharapnya, aku beranikan diri menunggunya di sekolahnya. Mondar-mandir di depan gerbang SMA Methodist Medan membuat sekuriti di sekolah favorit itu curiga.

Kujelaskan niatku ingin menemui pujaanku. Sebentar aja. Mungkin karena kasihan, si Satpam menyarankanku untuk sembunyi-sembunyi karena papanya galak dan orang terpandang di Medan.

Benar juga. Ia dijemput naik mobil mewah, yang membuatku cemen. Tetapi, ketika tahu papanya sahabat orangtuaku, timbul semangatku. Kubilang langsung pada papaku untuk bertandang ke rumah si cewek.

Kali ini, usahaku berhasil. Orangtuanya wellcome, si cewek juga. Kapan saja aku mau, boleh. Tetapi, karena fokus pada belajar, pertemuan hanya bisa dilakukan sebentar. Ia memang kutu buku. Prestasinya luar biasa. Aku saja pernah dapat nilai 10 matematika karena belajar dengannya.

Hubungan kami makin intens. Saking kasmaran, pernah kami nekat bolos sekolah dan keluyuran di Sun Plaza. Singkat kata, kemesraan kami makin sempurna.
Hanya saja, sebab cita-citanya setinggi langit, si cewek rela meninggalkanku karena ia memrioritaskan studi ke luar negeri.

Sakitnya hatiku ditinggalnya. Untuk membunuh sedih dan sepi yang menyiksaku, aku fokus terjun ke dunia entertain. Sepuluh tahun berlalu, tatkala tiba-tiba bertemu dengannya, rasa di hatiku masih sama.

Tapi aku tak tahu rasa di hatinya bagaimana. (q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru