Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Momok Obesitas di Kalangan Anak dan Remaja

- Minggu, 17 Juli 2016 15:09 WIB
3.559 view
Momok Obesitas di Kalangan Anak dan Remaja
SIB/Dok
Arya Permana, 10 tahun dengan berat tubuh 182 kg - 190 kg.
Jakarta (SIB)- Arya Permana, 10 tahun asal Karawang, Jawa Barat, menjadi sorotan karena beratnya 182 kg - 190 kg. Idealnya, dengan tinggi badannya yang sekira 147 cm  seharusnya hanya 50 kg. Obesitas Arya menjadi alarm bahkan momok sebab sekira 30 persen orang Indonesia kini mengalami kelebihan berat tubuh. Di kalangan remaja dan anak-anak, angkanya mencapai 10 persen dari populasi dan dikhawatirkan terus meningkat.

Kepala Sekolah SMA Swasta St Thomas 3 Jalan Benteng - Gatot Subroto, Sei Sikambing, Medan Muda Mikael Ginting SPd MSi mengatakan, obesitas pada anak cenderung meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis termasuk bisa mengalami komplikasi secara sosial dan emosional. "Kalau di sekolah perlu perhatian ekstra guru," ujarnya di jeda rapat finalisasi Syukuran 75 Tahun Uskup Agung Mean Mgr Dr AB Sinaga OFMCap di Chatolic Centre Jalan Mataram Medan, Kamis, (14/7) didampingi tokoh pemuda Sumut Antonius Tumanggor SE MSi.

Penanganannya tentu koordinasi antar orangtua, dokter. Jika di sekolah, otomatis guru akan memerhatikan anak yang dikategorikan obesitas. "Yang sangat perlu dirawat, selain mengurangi bobotnya, adalah komplikasi sosial dan emosional karena obesitas sering jadi sasaran bully. Muaranya, si anak akan stres," ujar guru favorit di sekolahnya tersebut. "Saya cenderung merawat mental," tegas Muda Mikael Ginting.

Odri Prince Agustinus Duin Sembiring mengaku, obesitas menjadi satu kebencian di kalangan pelajar. Jangankan berat tubuh terlalu banyak, agak berlemak sedikit saja, langsung jadi sasaran olok-olok kawan. "Kan idealnya sixpack," ujar pelajar SMA St Thomas 1 Jalan S Parman Medan itu di BPK Tesalonika Simp Selayang, usai fitnes dan ngegym.

Menurutnya, obesitas bukan karena congok dengan nafsu tinggi, stres pelajaran bejibun pun dapat membangkitkan niat ngemil terus dan makan serta tambo lagi. "Cara membuang lemak, banyak bergerak dan jangan suka duduk," ujar cucu pendiri dan penggiat serta pelestari makanan etnik Karo, Pt Em Radu Meliala tersebut.

Muda Mikael Ginting bilang, secara medik, obesitas pada anak banyak terjadi karena pola makan berlebihan yang dapat membuat sindrom metabolik, kolesterol dan tekanan darah tinggi hingga bisa terjadi serangan jantung dan stroke. "Soal penyakit, harus ditangani dokter tapi utuk meningkatkan prestasi di sekolah, guru dan orangtua berkomunikasi semaksimalnya. Di St Thomas 3 memang dilakukan hal itu bahkan untuk semua urusan terkait pelajaran," paparnya sambil menegaskan penanganan terbaik secara mental karena kadang obesitas bisa mengakibatkan pubertas dini sampai gangguan perilaku dan depresi. (T/R9/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru