Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Tentang Keraguanku

* Chairul Darmono Padang, Galang - Deliserdang
- Minggu, 31 Juli 2016 19:17 WIB
396 view
Tentang Keraguanku
Kata cerita lama, pelaut orangnya setia tapi jangan menangis apalagi sampai sakit hati jika diduakan. Meski punya pacar banyak, pelaut setia pada cinta pertamanya. Gimana pula kalau pedarat?

Pedarat juga setia. Jika sudah suka pada seseorang, ia akan memperjuangkan pilihannya semaksimalnya. Tetapi beda dengan pengalamanku.

Aku kenalnya sudah begitu lama, lama sekali. Waktu itu masih SMA. Berteman dengannya merupakan kebanggaan. Jangankan menyaksikan wajah tampannya, memerhatikan tubuh atletisnya saja rasanya sudah bahagia. Ingin sekali berlindung di dadanya yang bidang dengan perut sixpack.

Hanya saja, karena memiliki pria yang mendekati sempurna sesuai kriteriaku, membuat hati gundah. Bila akhir pekan, ingin sekali bersua berdua. Jika terlambat dari jam yang dijanjikan, muncul ragam kecurigaan. Aku menduga, ia punya yang lain.

Sama seperti malam-malam Minggu selanjutnya, ia suka terlambat hadir melebihi waktu yang dijanjikan. Bila kutanya, jawabannya tetap sama. Piket!
Piket itu apa? Jaga asrama. Tiap pukul 18.00 WIB menurunkan bendera. Sudah begitu mandi dan menyelesaikan urusan lain, barulah berangkat menemuiku.

Jika perjalanan memakan waktu sampai sejam, berarti sudah mendekati pukul 19.00 WIB. Ditambah makan, mandi dan lain, berarti pukul 20.00. Jika jalanan lancar, ya... begitulah.

Ketemuan mulai pukul 20.30 WIB, lalu pulangnya jam berapa? Aku selalu protes, kenapa baru ketemu langsung mau pulang. Ia menjawab, karena aku masih pelajar maka tidak boleh pulang larut malam. Meskipun malam libur, malam Minggu atau malam hari besar, tetap tidak boleh.

Prinsip itu membuat orangtuaku senang aku berteman dengannya, tapi aku ragu, jangan-jangan ada pihak lain yang mampir di hatinya. Karenanya, aku ragu, aku mengundurkan diri dari persahabatan dengannya.

Lima tahu berlalu, rasa sukaku padanya tetap saja tinggi hingga kali ini kuutarakan apa yang masih tertanam di hatiku. Eh, ia langsung menerimanya. Tetapi kali ini banyak sekali persoalan yang dihadapinya. Mulai dari kena hukum disiplin karena tidak berada di asrama tepat waktu hingga kekerasan fisik yang dilakukannya pada orang lain.

Karena urusan-urusan itu, waktu untuk bersua denganku semakin mepet. Ia bahkan lebih suka ketemu siang hari ketimbang petang apalagi malam.
Lalu, bagaimana aku ini? (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru