Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Cerpen

Kejarlah Aku, Kau Kugiring ke Perpustakaan

* karya Pahotkon Pahlevi Purba, SMA Sw GKPS 1 Pamatangraya - Simalungun
- Minggu, 31 Juli 2016 19:18 WIB
466 view
Kejarlah Aku, Kau Kugiring ke Perpustakaan
Aku semakin mendekat. Terus merapat ke dekat Leri. Meski kuketahui cewek cantik itu keheranan, bahkan seperti takut, aku tak peduli. Kuraih tangannya. Kuremas sedikit tapi makin lama makin erat. Kupindahkan ke pahaku tapi ia menolak. Kupaksa. "Aku sudah lama mendambakanmu. Kau tahu itu, kan!"
Leri menunduk. Karena tanpa penolakan, aku semakin berani memeluk tubuhnya. Tetapi kali ini ia meronta. Tolakannya membuatku semakin memeluk kuat. Sampai-sampai ia sulit bernapas.

Dihempaskannya tanganku sambil menampar pipiku. Sakit.

Tamparan itu membuatku terbangun. Kutatap kakakku dengan wajah marah menarik tanganku. Ah, rupanya aku duduk berdua dan memeluk Leri hanya bunga tidur hingga aku terlambat terjaga.

"Kamu gak sekolah. Sudah jam berapa ini?" kejarnya. "Makanya... kalau malam jangan lama-lama tidur!"

"Iya, Kak Dev. Kau kakak terbaik di dunia ini buatku," pujiku sambil berlari ke kamar mandi.
Sambil nongkrong membuang kotoran, aku teringat lagi pada Leri, perempuan pujaanku. Meski aku menyukainya tapi tak berani aku berkata jujur. Soalnya, terlalu banyak rekan di sekolahku yang naksir padanya. Mungkin di antara mereka, sudah ada yang nembak bahkan jadian.

Sambil bergegas melap tubuh, kulilitkan handuk dan berlari. Di meja sudah terhidang sarapan lengkap dengan teh kental manis favoritku.

Berkaca sejenak di cermin  warisan, sekilas kulihat wajah  Leri di sana. Duhai, aku memang begitu kasmaran padanya hingga wajahnya selalu membayang. Bahkan di genangan air kotor pun dapat muncul wajahnya.

Selesai dengan busana putih putih lengkap dengan kaus kaki putih dibungkus sepatu hitam, kusalam ayahku di kamar yang sudah hampir 2 tahun sakit terkulai lemas. Masih sempat kugoda Kak Devi.

Mencubit pipi tembamnya sambil pamit berangkat. Jika tadi tidak dibangunkan Kak Dev, sudah lain ceritaku tentang Leri.

Sangking inginnya dengan perempuan tercantik di dunia ini, aku hampir menubruk tubuh Guru BP yang berdiri kaku di depan gerbang sekolah. Di sana, ada Leri.

Aku tertunduk. Tak berani menatap wajahnya. Di wajah itu ada senyum, tapi aku takut karena kejadian tadi. Eh, kejadian apa... bukankah cuma dalam mimpi aku memaksa mesra dengannya?

Aku ingat bagaimana kenal pertama dengan Leri. Saat itu aku mengenalkan namaku: Pahotkon Pahlevi Purba. Orang kenal cuma Pahotkon Purba doang. Soalnya nama aku yang di tengah nggak di lampirin di ijazah, makanya teman di sekolah memanggilku Pahotkon Purba.

Pahotkon itu artinya sangat berarti bagiku yakni untuk mematenkan atau untuk mencocokkan. Kalo Purba itu berasal dari bapak.

Sementara Leri nama asli begitu panjang. Kalau dibariskan, seperti pasukan berbaris hendak menaikkan bendera. Sekarang kami sama-sama naik kelas X tapi tidak sekelas lagi. Kucari tahu, Leri ternyata ada di kelas ipa 8.

Saat berbalik badan, Leri ada di belakangku. "Pagi, Leri. Cari apa?"
Duhai, bodohnya aku? Pertanyaan itu kelihatan banget tentang hasratku. Meskinya aku langsung nodong minta pulang bareng. Seterusnya nonton. Kali ini, biarlah aku ngutang untuk membeli tiket.

Saat olahraga bersama, kulihat Leri turun dari aula belakang. Ia menatap serius. Sambil senyum lebar, kuberanikan diri memanggilnya. Ia berhenti melangkah.

Kutanyai padanya kenapa jika melihatku selalu senyum-senyum. Sepele padaku atau sekadar basa-basi?

"Terserah maumu!"
Seketika aku terdiam. Kalau sesuai seleraku, aku ingin senyum itu milikku tapi bagaimana? Leri lebih cenderung menampik semua senyum pria termasuk aku. Dari kawan dekatnya aku pun tahu Leri menolak semua ajakan berteman serius. Artinya, aku pun begitu.

Memang begitu, Leri lebih suka mengajak kawan-kawannya ke perpustakaan ketimbang mojok di kantin sekolah. Ia bahkan alergi masuk warnet meskipun sekarang eranya digital. Katanya, menghadapi satu buku bisa membuatnya membuka dunia. Kalau di depan komputer, lamunannya menjadi jahat.

Tetapi tak apalah. Meski mengikuti seleranya, aku biasa tiap hari bertegur sapa. Tak sekadar senyum seperti selama ini. Kali ini Leri pun berkenan membalas senyumku. Bahkan ketika tanganku menyentuh jarinya, Leri tidak menolak.

Semua menjadi semangat belajar semakin tinggi. Apalagi kalau masuk perpustakaan, Leri tetap ada di sana. Bahkan, satu bangku kosong tetap disediakannya untukku. Kupikir, Leri sebagai pembimbing langkahku semakin giat belajar. Kuutarakan padanya niatku ingin masuk Fak Teknik Pertambangan dan Perminyakan di universitas terkemuka kelak.

Tetapi, aku tetap berharap jika sekarang Leri menerima impianku, akan kuwujudkan sesegeranya. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru