Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Anak-anak di Samosir, Mengembala Kerbau Sambil Lestarikan Budaya Etnik

- Minggu, 07 Agustus 2016 18:07 WIB
568 view
Anak-anak di Samosir, Mengembala Kerbau Sambil Lestarikan Budaya Etnik
SIB/Dok
ATRAKTIF: Aksi anak-anak dari Sanggar PKBM Unity Tuktuk Siadong, Kec Simanindo, Kabupaten Samosir yang atraktif dalam satu iven budaya di Samosir, Juni 2016.
Samosir (SIB)- Anak-anak di Samosir punya aktivitas yang dekat dengan alam dan menghormati warisan leluhur. Siang hari ikut membantu mengembala kerbau. Dalam kegiatan tersebut memegang seruling. "Seruling jadi alat musik di Indonesia, tapi orang Batak sangat dekat. Aku pun waktu kecil meniup seruling sambil mengembala kerbau," cerita Martogi Sihotang, pria berjuluk Seruling Sang Guru di jeda pertunjukan musik kolaborasi ulos di USU Medan, Jumat (5/8).

Penanggung Jawab Sanggar PKBM Unity Tuktuk Siadong, Kec Simanindo, Kabupaten Samosir Kiki Andrea mengatakan minat dan bakat serta kemampuan anak-anak di Samosir begitu tinggi. "Diperlukan bimbingan yang padu hingga generasi muda itu tetap memedomani budaya dan kulturnya tapi harus maju," ujar penikmat foto natural tersebut.

Yang harus dipikirkan, lanjutnya, kemampuan ekonomi anak-anak masih belum maksimal hingga bila mana ada tambahan biaya untuk satu-dua aktivitas, menjadi beban.  Menghilangkan gap tersebut, pihaknya berharap semakin banyak pihak yang peduli bahkan mungkin memfasilitasi sarana atau prasarana.

Hal serupa diutarakan Penanggung Jawab Rumah Belajar Sianjur Mula Mula Nagoes Puratus Sinaga. Pria ahli pengobatan modern itu melatih dan membina puluhan anak-anak untuk memahami dan memedomani adat Batak. "Jadi, untuk mengisi kualitas dan kemampuan memedomani adat, anak-anak harus pula dibuka wawasannya," ujar pria yang menggunakan nama Reinhard Sinaga ketika menggeluti bidang kesehatan di Medan namun sekarang seluruh waktunya digunakan merawat budaya di Pusuh Buhit, Samosir.

Kiki Andrea melakukan pembinaan menyeluruh. Mulai dari moral agama, mental kultural hingga ilmiah. Untuk hal kultural terkait budaya leluhur, diajarkan memainkan perkusi etnik serta tarian leluhur, seperti tortor dengan mengundang pekerja seni profesional seperti Zico Mardo Harianja "Awalnya di Sanggar PKBM Unity sedikit tapi semakin hari semakin ramai," ujar pria berdarah Tionghoa-Batak tersebut. "Musik tak semata melestarikan tapi untuk mencerdaskan dan mengasah pola pikir kritis edukatif!"

Ia menyebut sejumlah anak binaannya dari SD-SMP yang kini profesional memainkan alat musik etnik. Parnas Siallagan, misalnya masih SD tapi jago bermain garantung, Jeremi Sidabutar memainkan garantung, Dapa Sidabutar dan Mulia Siahaan serta Yohan Manik memainkan tagading. Untuk seusia SMP ada Govind Marbun memainkan Garantung. Kesemua anak-anak dilatih Jonggi Tambunan yang ikut mengelola Sanggar PKBM Unity. "Pengajaran didekatkan dengan seni agar pada saatnya menjadi seniman profesional yang mendukung pariwisata Samosir," harap Kiki Andrea.

Pria yang juga Wakil Ketua BPC PHRI Samosir 2016-2021 itu berharap semakin sering diadakan pesta budaya dan musik di Samosir hingga semakin memompa semangat generasi muda memahami, mencintai dan memedomani warisan leluhur. "Mereka sudah menampilkan  seni   budaya  di beberapa hotel dan restoran di Tuktuk Siadong." (R9/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru