Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026
Curhat

Cintaku Seperti Pertandingan Ujung Jarum Jam

* Halomoan Siregar, SMAN 2 Rantau Selatan
- Minggu, 14 Agustus 2016 18:26 WIB
259 view
Cintaku Seperti Pertandingan Ujung Jarum Jam
Aku harus blak-blakan. Terbuka. Jujur. Bukan black-black, gelap-gelapan seperti selama ini. Soalnya, bila terus menyimpan perasaan, hatiku yang sakit. Tidur tak nyenyak, makan tak enak. Apalagi bila mengikuti akun Bella Salsabila.

Bila Bella membuat status, minimal mendapat 100 like. Aku tak pernah dapat kesempatan sebagai orang pertama yang memberi jempol. Karena di nomor sekian, dari 10 kali mengomentari, 11 kali tak dijawabnya. Sakit gak tuh. Padahal, dari seluruh follower, komentarku yang paling memelas. Menusuk ke hati. Tetapi begitulah, karena aku tidak terbuka, dipikirnya cuma memuji sesaat.

Jadi, aku harus terbuka. Tak mau lagi aku mengomentari akunnya dengan simbol-simbol. Menulis sesuai kata-kata yang ada di hatiku. Aku suka sama Bella.
Seminggu belakangan, aku ikut audisi pertandingan memeringati 17 Agustus. Di podium langsung kubilang, bila aku berhasil, tak semata untuk mewakili sekolah. Semua keberhasilan kupersembahkan untuk Bella.

Cihuy, sekolahku mendadak heboh. Begitu ditelaah, semua langsung bersorak. Dan sejak saat itu nama Bella pun ditempelkan denganku.

Malamnya, Bella ngeping aku. Ia marah-marah karena sikapku yang terbuka. Aku tak peduli. Selain minta maaf, kembali mengatakan suka padanya.

Hubunganku dengan Bella mulai mencair. Ia mengaku sudah ada gebetan. Aku tersakiti karena kejujurannya, tapi tak peduli. Sebelum ada janur kuning di rumahnya, semua bisa saja terjadi.

Ketika final pertandingan untuk memilih satu perwakilan, di atas pentas kembali kuucapkan bahwa keberhasilanku karena disemangati Bella hingga mengundang tepuk riuh.

Bahkan sebelum berkata demikian, kawan-kawan sudah teriak-teriak 'Bella'. Ah, aku tak peduli. Malamnya, Bella terus menginboxku tapi sudah tak  marah lagi.
Kali ini ia mengaku takut karena gebetannya bakal marah. Aku lagi-lagi tak peduli. Tetapi, benar saja. Ketika pertandingan antarsekolah, Bella diantar seorang pria tajir. Naik New Vixion Advance. Jangankan warnanya, aromanya pun terasa benar bahwa kendaraan itu baru keluar dari pabrik. Tetapi aku tak mau kalah. Bagiku, syair puisiku lebih mahal melebih harga moge Ducati.

Ketika diumumkan akulah yang mewakili sekolah ke perlombaan, aku beranikan diri meraih mik. Kuulangi lagi bahwa keberhasilan tersebut atas dorongan Bella.
Malamnya, Bella memaki-makiku. Katanya, aku tidak tahu malu dan muka badak. Boyfriendnya memutuskan cintanya. Ah, meskipun kata-katanya kasar, aku justru bahagia.

Peluangku mendapatkan Bella seperti pertandingan memasukkan ujung jarum sambil menahan laju pendulum jam.
Bella... (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru