Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Guru Sekolah Minggu Minta Facebook Harus Steril Total dari Pornografi dan Kekerasan

- Minggu, 06 November 2016 19:31 WIB
343 view
Guru Sekolah Minggu Minta Facebook Harus Steril Total dari Pornografi dan Kekerasan
SIB/Dok
Sebagian guru Sekolah Minggu bersama anggota Komisi I DPR RI Marinus Gea SE MEAk dan Ketua KPID Sumut Pdp Parulian Tampubolon SSn, Ketum PGI Sumut Pdt Dr Jamilin Sirait MTh, Sekjen GTDI Pdt Dr Eben Siagian MA di Deliserdang, Jumat, (4/11).
Medan (SIB)- Kalangan Guru Sekolah Minggu (SM) minta otoritas di Indonesia menyeteril total Facebook dan media sosial lain dari pornografi dan kekerasan. Minimal, anak dan remaja dalam mengoperasikan jejaring sosial harus didampingi hingga langsung memroteksi bila ada konten yang tidak sesuai. "Sekarang, di dunia maya termasuk Facebook sangat mudah sekali didapat muatan yang merusak," ujar Pdt Erlina Simangunsong STh dari Gereja Pekabaran Injil Sungai Air Hidup dalam seminar Informasi dan Komunikasi yang dirangkai dengan pelatihan jurnalis yang diadakan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Sumut di Aula PGI Jalan Selamat Ketaren Deliserdang, Jumat.

Penegasan sejenis disampaikan Pdt K Sianturi STh dari Gereja Gerakan Pentakosta yagn mengkhawatirkan tayangan di televisi Indonesia. "Saat anak-anak dan remaja harus ke gereja atau ke SM, tontonan televisi menarik seperti tinju dan siaran olahraga live lain," tegasnya.

Di kegiatan yang disupervisi Ketua Umum PGI Sumut Pdt Dr Jamilin Sirait MTh dengan moderator Pdt Hotman Hutasoit MTh  bersama Ev Antonius Sianipar dan Drs Penyabar Nakhe itu tampil sebagai pembicara anggota Komisi I DPR RI Marinus Gea yang memaparkan pertahanan moral dan mental dalam kehidupan berbangsa bernegara bercermin pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Sumut Pdp Parulian Tampubolon SSn.

Harapan dan masukan serta pertanyaan kritis pun dikemukakan Sekjen Gereja Tuhan Di Indonesia (GTDI) Pdt Dr Eben Siagian MTh, Pdt Drs Novranto Sinaga STh dari GKPS dan Praeses ONKP Medan Pdt Eliran Gea.

Penanya yang menjadi peserta kegiatan mengemukakan keresahan pihaknya sehubungan makin menjamur media sosial tumbuh di lingkungan masyarakat Indonesia. Saking masifnya, berselancar di jejaring sosial lebih familiar ketimbang kegiatan lain termasuk beribadah dan interaksi dengan keluarga serta pada Sang Pencipta.

Marinus Gea mengatakan, konsekuensi dari open sky policy Pemerintah Indonesia, baik dalam regulasi fisik menyentuh dalam dunia virtual seperti jejaring sosial. "Disebabkan Indonesia memiliki kepentingan, maka media sosial dimaksud mau tidak mau diterima. Memfilternya ya peran dari para pimpinan agama, para SM atau guru. Beda dengan Tiongkok yang memfilter warganya dengan menciptakan jejaring sosial sendiri," paparnya.

Pria kelahiran Gunung Sitoli, Nias yang menjadi anggota legislatif dari Banten itu menunjuk situs Sina Weibo yang penggunanya dua kali lebih banyak ketimbang pemakai Twitter, Renren yang sering disebut Facebook Tiongkok, Tencent  yang dibangun untuk layanan Instant Messaging QQ, Douban yang merupakan forum populer di kalangan intelektual dan WeChat sebelumnya dikenal dengan Weixin, sebuah aplikasi teks dan suara dengan fitur sosial yang berjalan di perangkat mobile.

Parulian Tampubolon mengatakan, pihaknya bekerja sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS). "Semua tayangan radio dan televisi harus mengindahkan. Selain itu, jika masih tak sesuai dengan kaidah, masyarakat dapat menyampaikan  keberatan ke KPID Sumut dan pasti akan ditindaklanjuti," ujar pria yang juga ketua GAMKI Medan itu.

Ia menunjuk sejumlah kasus tayangan di layar kaca yang merisaukan dan harus dihentikan karena keberatan publik. (R9/l)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru