Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026

2017 Tahun Merayakan Perbedaan dalam Toleransi Indah

- Minggu, 08 Januari 2017 21:33 WIB
479 view
2017 Tahun Merayakan Perbedaan dalam Toleransi Indah
SIB/Dok
ANAK DAN REMAJA SEGALA BANGSA : Dr Adolfina Elisabet Koamesakh MTh bersama anak dan remaja dari segala bangsa saat perayaan Syukuran Tahun Baru & Natal Yayasan Sahabat Iman Orthodox Indonesia (YSIOI) di Gedung Alfa-Omega Jalan Diponegoro Medan, Sabtu (7/1
Medan (SIB) -Tiga penggiat kesetaraan manusia - St Ev James Ganda Sormin SE, Dr Adolfina Elisabet Koamesakh MTh, Pdt Dr Albert Saragih MTh - mengatakan tahun 2017 adalah saatnya merayakan perbedaan dalam toleransi yang indah. Caranya, dengan menjunjung tinggi hak-hak sipil dan kesetaraan kemanusiaan di muka bumi.

Ditemui terpisah di Medan pada awal Januari 2017, ketiganya menyepakati bahwa merayakan perbedaan sejatinya sejak manusia ada tapi karena - belakangan ini - kehidupan toleransi di muka bumi, mulai diusik dengan indikasi intoleransi yang seolah berlandaskan agama membuat semangat merayakan perbedaan semakin dituntut. "Khusus Indonesia, kan sudah ada 4 Pilar Kebangsaan. Itu saja pijakan dalam merayakan perbedaan," tegas St Ev James Ganda Sormin SE di Garuda Plaza Hotel Medan. "Kebhinnekaan kan sudah ada sejak sebelum Indonesia diproklamirkan. Kebhinnekaan itu satu komponen yang ikut memerdekakan Indonesia!"

Ketiganya menyayangkan bahwa dewasa ini, aksi-aksi jalanan melibatkan anak-anak muda, para remaja sepertinya digiring untuk menjauh dari toleransi. Dengan kasus dimaksud, ketiganya berharap agar para anak muda, khususnya remaja, memahami bahwa perbedaan di Indonesia terbungkus indah dalam semangat ber-Pancasila. "Dengan pikiran jernih, patriotisme remaja harus diarahkan memupuk persaudaraan dalam perbedaan," tegas Dr Adolfina Elisabet Koamesakh MTh di pentas saat perayaan Syukuran Tahun Baru & Natal Yayasan Sahabat Iman Orthodox Indonesia (YSIOI) di Gedung Alfa-Omega Jalan Diponegoro Medan, Sabtu (7/1).

Perempuan yang pernah ceramah di Yunani tentang kedigdayaan Pancasila itu menunjuk tetamunya yang datang dari latar belakang ras berbeda.  "Begitu indahnya perbedaan dalam damai," ujarnya didampingi pimpinan tertinggi Gereja Orthodox Indonesia wilayah barat Pater Dr CP Manalu MTh.

Sama seperti yang dikerjakan Pdt Dr Albert Saragih MTh pada warga yang bermukim di sekitar tempat pembuangan sampah di Laucih, Pancurbatu, Deliserdang. Sebagai gembala jemaat di gereja tersebut, pendeta populis itu melayani semua orang tanpa memandang latar belakang agama. "Tidak ada alasan untuk menyetarakan keyakinan tapi soal pelayanan dan melayani harus sama," ujarnya sambil menambahkan Yesus Kristus mengajarkan kasih. "Tetapi Yesus tidak menganjurkan mengasihi yang seiman tapi kasihilah sesama manusia!"

St Ev James Sormin mengatakan, kedatangan Yesus ke dunia adalah mengamandemen kasih, yang dulu untuk kelompok tertentu, sekarang untuk semua sesama manusia. "Itulah cerminan merayakan kasih dalam perbedaan yang damai," tambahnya sambil mengajak kiranya para anak muda memedomani bahwa dalam kasih tidak perlu penyamarataan keyakinan tapi penekanannya pada pelayanan kasih. "Ingat, Yesus Kristus sangat suka pada anak-anak dan remaja. Karenanya, jangan rusak kasih di antara mereka."

Adolfina Koamesakh mengatakan, imbauan merayakan perbedaan dalam damai toleransi pun direalisir oleh YSIOI dengan melibatkan seluruh pihak tanpa melihat latar belakang, seperti yang hadir dalam kegiatan. Mulai dari STT Paulus Simalingkar Medan, Gereja Orthodox Se-Sumatera Utara, Perg Agia Sophia Tanjunganom, Perg Agios Nikitas Krakatau, Perg Agios Nikilaos Gunungsitoli, Amik Universal Medan dan RS Theotokos Deliserdang. Selain itu ada warga dari Afrika dan Tiongkok. "Kita tidak harus sama keyakinan tapi sama-sama menikmati kasih Yesus Kristus," tutupnya yang ditandai pemberian bingkisan yang merata dan menyeluruh.

Saat berdiskusi dengan Ephorus Emeritus HKBP Pdt Dr  JR Hutauruk di seputaran Jalan Flamboyan Raya, Tanjung Sari, Medan, Pdt Albert Saragih melakukan hal serupa. "Kasih yang diajarkan Yesus Kristus tanpa syarat dan tanpa batas. Satu di antaranya dengan memberi. Itulah yang dilakukan," tutup mantan jurnalis yang kini melayaniNya antarbenua tersebut. (R9/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru