Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Curhat

Aku dan Si Tunarungu

* Dedy Ramansyah, SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat
- Minggu, 29 Januari 2017 17:59 WIB
418 view
Pandanganku sengaja kurekatkan pada cewek yang duduk di pojok pintu dekat dengan sopir. Betapa sombongnya. Udah tau aku tergesa mengejar angkot di panas-panas, begitu naik dan minta tolong geser, perempuan itu makin bertahan. Padahal betapa sulitnya melangkah di ruang sempit tersebut.
Ketika mataku bertumbuk, kesan angkuh pada wajahnya, sirna... Ia menebar senyum. Ramah... supermanis. Ketika tatapan makin lama menempel, ia mengangguk. Aku jadi naksir.

Begitu penumpang di sebelahnya turun, aku langsung pindah dan tepat duduk di sampingnya. Ia merapatkan tubuhnya, seperti menyilakan padaku untuk semakin leluasa.

Kulitnya bersih meski agak kecokelatan. Kupastikan warna kulit tersebut lebih banyak tertimpa cahaya matahari, bukan karena gen. Kuperhatikan juga keranjang penuh sayur yang ditarikkan mendekatinya.

Saat ia turun, aku membantu mengangkat keranjangnya. Berat tapi jariku sempat menyentuh tangannya. Hangat. Tetapi ia tidak memerhatikanku meski aku terus memelototinya.

Saat menyerahkan ongkos, bang sopir sempat marah-marah karena dinilai kurang. Aku menengahi dan bersedia menutupi kekurangannya. Harapanku, si gadis kembali menoleh dan membuka komunikasi denganku tapi sia-sia. Ia pergi saja sambil mengangkat keranjangnya ke atas kepala.

Suer, aku jadi penasaran. Pada hari sesudahnya, sengaja aku menunggu di jam yang sama di lokasi perhentiannya. Bertemu tapi kali ini aku menyesal. Capek aku mengajaknya berbicara, tapi bungkam semata. Yang paling tak suka, ia berlalu begitu saja meski aku teriak-teriak memintanya bicara.

Hari ketiga dan sepekan kemudian, masih begitu. Kuberanikan diri mengikutinya hingga ke perhentian terakhirnya. Ia langsung disambut perempuan tua yang kupikir ibunya.

Kehadiranku langsung disambut perempuan itu dan menelisik maksud kehadiranku. Aku hanya senyum dan bicara pelan. Pelan sekali, nyaris tak terdengar. Ibu itu langsung merepet yang membuat telingaku panas.

Perempuan tua itu menyesalkan anaknya bersahabat denganku. Katanya, aku sama-sama tunarungu. Langsung aku menyahut untuk membuka komunikasi dengannya.

Si Ibu terkesiap dan minta maaf. Ia yang menjelaskan bahwa putrinya tunarungu hingga kurang  mampu berkomunikasi dengan baik. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru