Aku tak sadar lumpur telah melumuri sepatu yang baru saja kubeli. Torehan kisah rupanya cukup untuk mencuri konsentrasiku hingga aku tak sadar berada di jalanan kotor ini. Tak percaya diriku bahwa kenyataan menyulamkan kisah pilu yang menumbuki jiwa ragaku. Tak ayalnya sebuah takdir yang mengikat. Bila kami berjodoh sejauh apapun ia menjauh akan tetap didekatkan. Sebelumnya aku yakin itu. Tapi lagi-lagi takdir menodai ketetapan hatiku.
Aku dan Charles beberapa tahun lalu dikirimkan dari Indonesia menuju ke Belanda sebagai murid cerdas yang berprestasi dan layak bersekolah disana. Ya memang benar aku dengannya tak pernah saling berbicara. Padahal kami adalah dua murid yang berada dalam satu sekolah dan satu kelas yang sama.
Udara dingin dan beberapa titik salju yang mengenai kepalaku mendatangkan keheranan di jiwaku. Aku tak terbiasa dengan musim seperti ini. Rasa risih terpaksa tak kutanggapi. Sebab aku dan Charles harus segera keluar untuk membeli kebutuhan bersama, itu karena kami sama-sama warga pendatang yang takut tersesat di Negara ini. Berjalan keluar dengan kain tebal yang menutupi tubuhku bersama Charles sungguh ganjil. Namun suasana seperti ini harus terus kujalani bila tetap ingin hidup.
Terlintas diingatan ku seorang pria. Aku pernah menaruh hati kepadanya . Saat itu aku dalam keadaan setengah sadar di atas sebuah sofa. Samar-samar kutemui sepasang mata yang penuh dengan kasih sayang di sana. Aku jatuh cinta dengan mata hijaunya. Namun terlalu buruk nasibku sehingga aku tak dapat menilik raut wajah si pemilik mata indah itu. Yang ku mengerti aku baru saja terjatuh dan aku tak mengetahui apapun lagi sehabis itu. Hingga tak nampak lagi binar matanya dimanapun.
Bila dibandingkan dengan Charles, mungkin persamaannya mendekati titik nol. Charles begitu menyebalkan dan selalu mampu meloloskan kejahilannya kepadaku. Sedangkan pemilik mata indah itu memberikan pandangan yang menghangatkan.
***
Sudah 12 bulan aku hidup se universitas dengan Charles. Menyaksikan olok-oloknya merupakan rutinitas bila kami bersama. Dia tak malu melihat usianya yang telah memasuki kepala dua.
"Yang kutahu kau orang yang pendiam waktu SMA. Kenapa sekarang aku ingin selalu menyuruhmu diam saking tak bisa diamnya?" tanyaku mencoba membuka pembicaraan yang cukup serius.
"Itu dia. Kalau tak tahu tidak usah berasa sudah mengetahui kebenarannya. Hanya teman amatir yang mengatakan aku pendiam"
Selalu ada saja lontaran kata dari mulutnya yang bisa membuatku berhenti melontarkan kata. Pantas saja banyak siswa yang menganggapnya absurd dan masuk daftar orang yang tak perlu ditemani. Memang cukup menyisakan luka di batinnya, namun hal itu menciptakan kekuatan baru di jiwanya di samping kenyataan hidup pilunya.
Charles terlahir sebagai seorang anak angkat. Ibu angkatnya menemuinya disebuah jalanan yang menjadi favorit wisatawan untuk berlibur. Waktu itu ibunya yang masih gadis pergi bersama kekasihnya untuk berlibur. Hitung-hitung mempererat hubungan karena sebentar lagi mereka akan saling menyematkan cincin di jari manis mereka.
Suara tangis bayi memecah perhatian ibu Charles yang sedang fokus dengan kekasihnya itu. Perempuan nan elok itu mulai memperpendek jarak dengan asal suara. Tak lupa ia mengajak sang pujaan hati untuk tetap di sampingnya. Setelah berpuluh menit mengandalkan kekuatan telinga dan insting, mereka mendapati sebuah bakul besar. Di dalamnya terdapat seorang anak manusia.
"Mas, ini anak siapa? Kasihan sekali dia. Mari kita rawat saja!"
"Apa-apaan kamu ini. Mas tidak ingin orang lain salah paham. Biarkan saja dia disini, atau berikan saja dia ke panti asuhan"
"Jangan, Mas! Kita rawat saja dia. Sudah takdir, apa yang kita temukan, harus kita jaga"
"Jaga saja dia sendiri. Pasti orang tua mas tidak akan setuju kalau kau melakukan itu untuk mas! Mas akan pergi dan membatalkan semua yang akan kita laksanakan bila dalam hitungan tiga kau tidak menjauh dari bayi itu'
Selesai pria tinggi itu berhitung. Namun Ibu Charles tak kunjung berpindah lebih jauh. Ia malah mendekat dan mengutip tulisan yang ada di kerajang itu.
Ibu Charles rupanya mendapat sebuah titipan yang berasal dari Negara asing. Dia sangat berbahagia mendapatkan bayi mungil berkulit putih dan berambut pirang itu. Ia bersyukur telah disadarkan bahwa lelaki yang selama ini dipujanya ternyata bukan yang terbaik untuknya. Ia lebih memilih bersama laki-laki yang masih belia itu dibanding lelaki yang berhati tapi tak bernurani.
Sebuah daun yang jatuh dari pohon menyadarkanku bahwa aku dari tadi terduduk di bangku taman yang penuh tanah lunak. Sedari tadi aku larut dalam lamunan. Sambil memikirkan segala kejadian yang berkutat di pikiranku. Aku tersadar bahwa Charles yang menyelamatkanku dahulu saat aku terjatuh di koridor sekolah.
Dia si pemilik mata indah yang berwarna hijau itu. Aku tersadar karena mengingat kisah pilu yang dialaminya tersebut. Aku baru sadar mata Charles berwarna hijau. Ternyata dialah si pemilik mata yang hanya dengan sekali sorot langsung mampu menjatuhkan hatiku padanya. Di samping matanya yang indah, hatinya juga indah.
Namun semuanya sudah sangat terlambat, setelah beberapa jam lalu aku dihubungi oleh orangtuaku dari rumahku di Indonesia bahwa aku akan segera dinikahkan dengan jodoh yang telah mereka persiapkan sejak aku masih bayi.
(r)