Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Cerita Anak-anak Membangun Ceria Bersama di Daerah Pinggiran

- Minggu, 05 Februari 2017 19:06 WIB
581 view
Cerita Anak-anak Membangun Ceria Bersama di Daerah Pinggiran
SIB/Dok
PAUD CERIA BERSAMA: Penyelenggara PAUD Ceria Bersama Pdt Drs Marnaek Tampubolon MPdK, Rabu, (1/2), menerima kunjungan tim dari Gereja Pentakosta yang berkantor pusat di Jalan Lingga 24 A Pematangsiantar di antaranya Sekretaris Dewan Pertimbangan Gereja Pe
Belawan (SIB) -Anak-anak peserta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ceria Bersama Pulosicanang, Belawan punya tantangan tidak seperti umumnya. Jika anak-anak seusianya, khususnya yang menambah ilmu di PAUD didekatkan dengan permaian sambil belajar tapi di PAUD Ceria Bersama diberi penekanan soal keimanan dan nasionalisme. "Tiap hendak masuk, berdoa. Kebaktian kecil seperti yang diterapkan di lingkungan Gereja Pentakosta. Setelah itu barulah belajar dengan pendekatan bermain," ujar penyelenggara PAUD Pdt Drs Marnaek Tampubolon MPdK, Rabu, (1/2), di jeda menerima kunjungan tim dari Gereja Pentakosta yang berkantor pusat di Jalan Lingga 24 A Pematangsiantar di antaranya Sekretaris Dewan Pertimbangan Gereja Pentakosta Pbs RD Siburian SE, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Wanita Pentakosta Pdm EM Br Aritonang STh, Pbs Hamonangan Sinaga SPdK.

Didampingi Kepala Sekolah Romauli Siagian SPdK, para guru di antaranya Kristiani Silitonga SPd, Arny Hernita Gultom, Ruth Samalango, Pdt Marnaek
Tampubolon mengatakan pihaknya menekankan pendidikan agama dan nasionalis agar anak-anak kelak menjadi pimpinan bangsa yang bersahabat dengan Tuhan dan memiliki nasionalisme keindonesiaan yang dibangun dalam lingkup ketuhanan, seperti yang termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila.

Menurutnya, apa yang dilakukan pun sejalan dengan makna terkandung dalam PAUD Ceria Bersama. Ceria bersama itu artinya cerdas, beriman, berakhlak mulia, berbudi pekerti, sehat dan mandiri. "Semua dilakukan sesuai ajaranNya dengan ketat tapi pendekatannya adalah bermain. Cara demikian untuk merangsang anak-anak betah di lingkungan sekolah," ujarnya.

Alasan ingin memagari anak-anak dengan didikan terbaik itu karena wilayah Pulosicanang, Belawan yang berada di wilayah abu-abu dalam strata sosial kemasyarakatan. Dulu, di wilayah tersebut menjadi lokalisasi tak resmi yang membuat wilayah tersebut populer. Sekarang, setelah  wilayah 'merah' tersebut dibersihkan tapi tingkat kerawanan sosial masih tinggi. "Dari sisi ekonomi, orangtua masih fokus pada mencari rezeki untuk kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, perhatian pada anak-anak kurang," ujar Pdt Marnaek Tampubolon sambil mengatakan dengan membimbing anak-anak kiranya para orangtua tertarik dan terpanggil untuk ikut mendampingi buah hatinya, yang secara otomatis ikut pendidikan untuk menebalkanimannya.

Kendala yang dihadapi, lanjutnya, struktur wilayah yang masih jauh dari kondisi ideal. Satu contoh, bila hujan, lingkungan becek yang membuat anak-anak tidak optimis menimba ilmu.

Sekretaris Dewan Pertimbangan Gereja Pentakosta Pbs RD Siburian SE apresiatif atas apa yang dilakukan pengelola PAUD Ceria Bersama Pulosicanang, Belawan. "Tantangan saat ini dan masa depan adalah menyiapkan anak-anak. Yang utama adalah mental spiritual. Bila sejak dini ditanamkan secara matang dan pas, maka pada remaja dan dewasa hingga menjadi pimpinan terpuji," ujarnya sambil mencontohkan orangtuanya pun melakukan hal serupa.

Menurutnya, orangtuanya Pdt Ev Lukas Siburian yang pendiri Gereja Pentakosta mencontohkan pendidikan iman dan nasionalisme yang maksimal hingga anak, cucu, nino-nono mengikuti garis kegerejaan Pentakosta. Satu di antaranya adalah Kastia br Siburian yang kini mahasiswi di Universias Indonesia. "Keberhasilan karena disiplin pengajaran ilmu agama dan nasionalisme keindonesiaan," tegas Pbs RD Siburian.

Usai bercengkerama dengan anak-anak PAUD Ceria Bersama, rombongan jamuan bersama dengan makanan yang dibawa dari produsen ayam terkemuka dunia. Pbs RD Siburian pun membagi bingkisan berupa tas dan peralatan sekolah. "Muatan pendidikan agama dan nasionalisme dalam buku pun harus diperhatikan," tegas Pdm EM Br Aritonang STh. (R9/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru