Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Curhat

Pria Idaman

* Yassicha Padesi Situmorang - Batam
- Minggu, 12 Februari 2017 18:45 WIB
290 view
Ini bukan curcol... atau sejenis lebay. Aku cuma ingin introspeksi dan membuka diri. Lebih tepatnya mengajak diskusi hati.

Aku merasa belum tua tapi karena lebih 3/4 persen sahabatku dalam satu grup memanggilku 'kakak' jadi aku merasa ikut-ikutan tua. Gak tua kalilah, tapi sudah cukup umur untuk pacaran. Tapi, bila bicara pria, di titik itulah aku masih belum punya lelaki idaman. Artinya, sebelum memiliki, aku harus selektif. Soalnya, banyak contoh pria yang   tidak serius. Maunya canda-candaan. Lebih menakutkan, cuma iseng-isengan.

Udah, aku gak mau berkhotbah. Yang pasti, sampai sekarang aku belum punya gandengan. Padahal, usiaku sudah memadai. Sudah hampir selesai kuliah. Artinya, sudah dapat dikategorikan matang secara pribadi.

Apalagi, orangtua dan kerabat, khususnya rekan-rekan selalu nanya siapa pacarku. Bila dapat telepon dari Batam, pertanyaan serupa diarahkan. Aku berasal dari Tapanuli tapi karena sejak 1980-an orangtuaku merantau ke Batam, membuatku jadi anak Riau Kepulauan tersebut. O iya, ibuku boru Silalahi. Keluargaku banyak di Pematangsiantar.

Balik ke soal pria idaman. Aku sebenarnya tidak milih-memilih. Yang penting, pria itu tampan. Tidak usah kaya, asal punya kerja mapan.

Di kampus, aku ogah pacaran. Soalnya, kalau gandengan sama rekan sekuliahan, apa judulnya! Ah, pokoknya gak mau sama orang kuliahan. Selain dokunya pas-pasan, juga belum kerja.

Waktu bersama rekan segrup bepergian, aku naksir pada seorang pramugara. Begitu pandangan mata kami bertumbuk, jantungku berdebar kencang.

Kusodorkan senyumku, ia membalas dengan gumaman juga. Sorot matanya bahkan liar. Si pramugara bahkan mendekat dan membisikkan cara-cara mengenakan sabuk pengaman serta hal lain untuk kenyamanan penerbangan.

Tak sengaja, ketika melanjutkan ke penerbangan lain,  bersua lagi. Aku senyum, si pramugara semakin merekah senyumnya. Aku jadi ingin sekali memilikinya. Ia bahkan kelihatan lebih bersemangat. Kesannya, kami sudah lama sekali kenal.

Ketika pesawat sudah hidup mesin dan dari crew cabin meminta penumpang untuk mematikan alat komunikasi, aku justru sengaja menelepon. Suaraku kuat-kuat. Harapanku, si pramugara datang menegur.

Eh, betul... ia datang. Aku pura-pura tak tahu. Tangannya yang kekar berbulu halus itu, menyentuh tanganku sambil membisikin agar aku mematikan HP.
Duhai, seperti melayang tubuhku disentuh pria yang masuk kategori idamanku. Kapan aku memilikinya? (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru