Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026
Curhat

Kantin Nostalgia

* Muhammad Yakin, SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat
- Minggu, 19 Februari 2017 18:35 WIB
351 view
Waktu itu kelas mendadak ramai. Bukan dengan celotehan dan cekikikan tapi padat manusia. Padahal masih pagi hari. Hampir semua sibuk dengan urusan mengerjakan PR.

Kebiasaan sih... sebelum bel berbunyi, PR dikerjakan keroyokan. Masih mending dengan kemampuan sendiri tapi sebagian besar nyontek. Hanya seorang yang tidak terlihat yakni Irwan dan Dandy.

Aku tahu, Dandy pasti sudah di pojok kantin. Atau belum datang karena masih on the way bahkan - parahnya - masih tidur. PR-nya dikerjakan oleh kawan sekelas. Tapi Dandy bukan tidak punya kemampuan.

Otaknya encer. Di atas rata-rata. Bahkan lebih pintar dari aku. Suer... Dandy itu cakap dalam pelajaran tapi kemauannya yang kurang. Meski duduk-duduk di kantin, jika belajar serius, sekali baca saja ilmu sudah nyangkut di otaknya.

Satu lagi keistimewaannya, Dandy tak suka menonjol. Apalagi menonjolkan diri. Kawan yang lain, sibuk mencari muka pada guru, Dandy justru menjaga dan menemukan jarak.

Seperti kemarin, ketika guru menawarkan pada murid untuk mengerjakan satu soal, Dandy memilih diam dan menutup wajahnya ke meja. Padahal, aku yakin ia dapat mengerjakan.

Guru menawarkan siapa yang dapat mengerjakan dapat hadiah, Dandy senyum-senyum saja. Ada sih kawan lain yang tunjuk jari dan langsung maju ke depan meski belum disilakan guru.

Bergaya mampu mengerjakan, kawan tersebut dengan lancar mengoret papan dengan teori yang dibangunnya. Terus terang, aku tak yakin dengan jawaban yang ditulisnya. Bahkan guru yang memberi soal pun tidak mengaminkannya. Meski demikian, guru mengapresiasi kemauannya mengerjakan soal.

Ketika bel berbunyi, kami bergerombol membahas soal yang diberikan guru. Kami pun sepakat mengatakan apa yang dijawab rekan sekelas, salah. Sama seperti penilaian Dandy.

Jawaban yang diberikan salah. Tetapi, Dandy lebih memilih membicarakannya di kantin, tempatnya mojok dan menikmati istirahat belajar.

Aku yang kepo. Mendesak Dandy untuk unjuk gigi. Apalagi karena kuyakin ia mampu memberi dan melakukan yang terbaik. Lalu, kenapa harus tetap di kantin?

Dandy bilang, kantin selalu menginspirasinya untuk merenung dan berefleksi diri. Soalnya, di pojok kantin bisa berlindung dari tatapan orang-orang karena ia merokok. (q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru