Aku berdiri. Berdiri di atas penderitaan ini. Penderitaan yang sama sekali tidak aku ingini. Kedua bola mata hanya menatap ke batu nisan. Batu nisan dari orang yang kukenal.
Aku masih berdiri. Berdiri di antara kerumunan orang. Orang-orang yang sedang meratap. Mereka menangis. Menangis dengan begitu kencangnya. Air mata berjatuhan bagaikan sebuah air terjun yang tak habis-habisnya. Padahal, mereka semua menangisi sebuah hal yang omong kosong.
Mungkin, orang-orang berpikir kalau aku sama sekali tidak punya hati. Ya, karena hanya aku seorang yang sama sekali tidak menangis. Aku yang mengenakan pakaian aneh hanya merunduk saja dan tak melakukan satu hal pun. Statis. Tak bergerak sama sekali.
Dan itu adalah Reva. Aku tidak tahu apakah ia menganggapku sebagai sahabatnya, namun aku menganggapnya sebagai sahabatku. Dia adalah seseorang yang benar-benar memerhatikanku. Dia adalah seseorang yang membantu temannya untuk keluar dari lubang yang dalam. Dan dia adalah cahaya bagi temannya yang terjebak dalam kegelapan. Hanya dialah temanku di sekolah. Teman-temanku menganggap diriku terlalu 'normal' yang berarti diriku ini adalah aneh.
Aku benar-benar bertolak belakang dengannya. Hal-hal yang ada di dalam dirinya sama sekali tidak ada pada diriku. Aku adalah seseorang yang dekil, jelek, bodoh dan tolol yang ada di kelas itu. Dan apa hal yang terburuk di dunia ini, itu adalah aku.
"Kau masih berada di sini ?"
David menghampiriku dan menanyakan hal itu. Dengan setelan hitam yang ia pakai, ia datang ke acara duka cita itu tanpa ada sama sekali raut meratap. Padahal, dia bisa dibilang 'pacar' Reva. Semasa hidup, Reva sangat dekat dengannya. Dan ia hanya berdiri di situ saja sambil memegangi ponselnya.
"Untuk apa kau tanyakan itu kepadaku ? Kau pasti sudah tahu jawabannya," jawabku, dengan nada sedikit kasar.
"Kau tidak perlu bersedih. Bukan hanya dia satu-satunya orang yang dapat kau jadikan sebagai teman. Cobalah berteman dengan yang lain," kata David, mencoba memberi saran.
"Kau tidak perlu menasihatiku. Buang-buang waktu saja. Biarkan aku berdiri sendirian di sini layaknya orang yang sudah kehilangan akal sehatnya."
Dan air dari langit pun turun satu per satu bersamaan dengan kepergian David. Angin pun bertiup sedikit kencang. Menghembuskan debu-debu dan dedaunan dari pohon. Pertanda bahwa hujan lebat akan segara tiba. Sama sekali tidak mengharapkan hujan lebat, maka aku langsung menggerakkan kedua kakiku dan pergi meninggalkan tempat itu.
"Hei..."
Suara lembut dari seorang perempuan terdengar oleh gendang telinga ku. Entah kenapa tubuh ku langsung berbalik ke belakang dan melihat seseorang berpakaian putih tepat berdiri di dekat makam Reva. Dan kedua mata ini benar-benar melihat Reva.
"Hanya karena aku sudah pergi untuk selamanya, bukan berarti aku meninggalkan kamu seorang."
Aku tak mau memandang melihat wajahnya. Semua kenangan-kenangan itu akan langsung muncul jika aku menoleh ke kamu dan aku akan benar-benar tersiksa akan itu. Wajah ini pun kutolehkan ke sisi lain sambil menahan turunnya air mata ke pipi, namun tak bisa. Air mata sudah berjatuhan bagaikan air terjun yang deras. Dadaku terasa sesak. Aku sama sekali tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain begitu cepat? Bukankah kita sudah menyusun rencananya? Bukankah sudah berjanji bahwa pertemuan kita berakhir setelah kita selesai memakai baju putih abu-abu? Dan bukankah kau telah mengingkari semua perjanjian itu?" kataku dan air mata terus mengalir sambil membasahi pipiku.
"Kau tidak boleh melawan takdir. Apabila takdir mengatakan kalau kita tidak dapat bersatu lagi, maka biarlah itu terjadi."
"Memang ! Aku tahu itu. Kita sama sekali tidak dapat bersatu. Tapi, apakah ada terlintas di dalam pikiranmu kalau aku akan tetap hidup? Tidak ! Aku hanya manusia lemah yang selalu bergantung kepada seseorang ! Dan lihatlah aku ! Aku begitu bodoh sehingga aku mengenakan baju bodoh untuk memberangkatkan dirimu ke tempat peristirahatan terakhir."
Ia tidak bergeming. Suasana menjadi begitu senyap. Tatap-tatapan yang malah terjadi. Kedua bola matanya menatap kasihan ke kedua bola mataku, sedangkan kedua bola mataku menatap ke kedua bola matanya dengan tatapan kosong. Tatkala saling menatap, alam menurunkan hujan dan membasahi seluruh raga ini.
Aku menarik napas panjang lalu berkata dengan nada suara menurun, "Jika kau telah pergi, jadi siapa yang tetap akan menemani hari-hariku nanti ?"
Awalnya, dia tidak bergeming lagi. Namun ia mulai berkata-berkata, "Aku benar-benar minta maaf telah membuatmu begini. Telah membuatmu tidak mempunyai teman lagi."
Entah kenapa bibirmu ini langsung memberikan sebuah senyuman dan lidah ini berucap, "Kau tidak perlu meminta maaf. Aku mungkin terlalu menyimpan kenaifanku. Aku harap, aku bisa melepaskan kepergianmu. Dan terima kasih karena telah mau menjadi orang yang spesial untuk si buruk rupa."
Aku langsung berbalik dan pergi keluar dari pemakaman itu. Aku sudah benar-benar begitu lega karena telah mengutarakan semuanya meskipun tak ada jawaban yang sama sekali cocok untuk menjawab semua pernyataan-pernyataanku itu.
Dan aku melihat bendera kuning waktu itu, sekarang aku melihat bendera merah putih di sekolah diturunkan ke posisi setengah tiang. Semua kawan-kawanku berlinang air matanya, tapi aku tidak. Aku sudah merelakannya.
Aku melihat sesosok orang yang dulu selalu membela diriku di dalam benakku. Orang yang begitu spesial bagiku. Dia adalah Reva, sahabat sejatiku.
(q)