Cerita ini berawal ketika aku duduk di bangku sekolah menengah kejuruan. Hari itu adalah hari terberat dalam hidupku. Aku harus pergi sekolah ke luar kota meninggalkan keluargaku, sahabatku dan juga meninggalkan orang yang kusayangi. Tepat pada malam sabelum kepergianku , aku pergi ke luar rumah untuk bertemu orang yang kusayangi. Ya, kalau anak ABG seperti aku menyebutnya pacar. Tujuanku bertemu dengan dia adalah untuk memberitahu bahwa aku besok akan pergi jauh. Ya, sebelumnya dia juga sudah tahu sih kalau aku akan pergi sekolah ke luar kota, tapi dia nggak tahu kalau aku perginya besok. Singkat cerita, aku melangkah ke rumahnya.
Saat aku sampai di rumahnya aku disambut mamanya, kebetulan mamanya lagi duduk di luar, mungkin lagi cari angin. Aku sudah terbiasa berjumpa dengan mamanya, karena aku sering ke rumahnya. Mamanya baik, ramah, nggak seperti mama yang pernah aku bayangkan sebelumnya ketika ingin bertemu anaknya. Belum lagi sampai di depan pintu rumahnya, mamanya sudah menyuruh pulang dan berkata kalau anaknya lagi sakit. Padahal baru saja anaknya SMS dan berkata kalau anaknya di rumah.
Kembali ke topik cerita, saat aku bertemu dengan mamanya, aku sapa mamanya. Aku salam mamanya dan berkata kalau aku ingin bertemu dengan anaknya dan langsung mamanya memanggil anaknya untuk bertemu denganku. Aku disuruh masuk ke rumah dan aku duduk di ruang tamu. Tak lama aku menunggu, kemudian doi datang sambil membawa dua gelas minuman, setoples snack dan makanan ringan. Meletakkan minuman dan snacknya di atas meja. Ia pun duduk di sampingku.
"Tumben nih jam segini mau datang ke rumah, biasanya datangnya selalu siang, "katanya sambil menatapku.
"Emm.. nggak apa-apa sih. Aku hanya kangen sama kamu. Pengen ketemu sama kamu," sambil megang tangannya dan menatap matanya
"Haha.. nggak mungkin kamu kangen sama aku. Dua hari yang lalu kita kan baru bertemu. Serius deh, kamu mau ngapain jam segini datang ke rumah?"
"Iya iya deh.. sebenarnya aku datang ke mari mau mengatakan .... Aku mau pamit sama kamu. Aku besok mau berangkat ke luar kota untuk sekolah yang pernah kukatakan padamu."
"Perginya besok? Kenapa mendadak? Kenapa kamu tidak mengatakan sebelumnya kalau kamu perginya besok? Kalau begini caranya aku belum siap untuk mengijinkan kamu pergi."
"Iya. maaf ya aku memberitahumu mendadak. Aku juga baru memutuskan semalam kalau perginya besok," sambil mencubit pipi tembemnya.
"Kebiasaannya selalu mendadak kalau mengatakan sesuatu. Ya udah deh kalau memang besok kamu pergi aku cuma bisa mendoakan kamu di sana. Tapi kamu jangan tergoda ya dengan perempuan di sana, ingat yang di sini masih ada yah!" pintanya.
"Iya, tembem. Aku janji sama kamu nggak akan tergoda di sana. Aku selalu ingat kamu. Aku janji dan kalau aku melanggar janji aku, ya aku janji lagi. Hehehe..," tukasku merayunya.
"Ihhh.. kamu..! Awas aja ya aku dengar kamu di sana macam-macam, nggak serius belajarnya dan tergoda dengan perempuan di sana, aku beritahu nanti pada mama kamu biar kamu dihajar. Hahaha..," balasnya.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Aku bergegas untuk pulang, percakapan pun kembali berlangsung.
"Udah pukul 10 nih. Aku pulang ya. Mama mana? Aku mau pamit," tukasku sambil melirik arloji.
"Yah.. cepat sekali ya waktunya. Yaudah deh, tunggu sebentar ya biar aku panggil mama."
Mamanya pun langsung menghampiri aku, "Sudah mau pulang, Dafa?"
"Iya, Ma. Dafa pamit pulang ya, Ma," sambil menyalam dan cium tangan calon mertua.
"Iya, Dafa. Hati-hati ya, pulangnya. Nanti sekolah di sana yang serius. Jangan main-main. Buat bangga orang tua Dafa. Mama doakan semoga sukses di sana. Sampaikan juga ya salam mama pada orangtuamu," ujar mamanya penuh harap.
"Iya, Ma. Makasih atas doanya," jawabku.
Setelah aku berpamitan dengan orang tua doi, aku pun ke luar rumah dan diantar sampai pintu rumahnya.
"Aku pulang ya. Kamu jangan nakal di sini. Baik-baik, rajin belajar dan jangan suka melawan sama mama ya!"
"Iya, aku janji aku bakal baik-baik di sini. Nggak akan macam-macam. Aku tunggu kamu pulang ya," ia sambil tersenyum dan matanya berkaca-kaca.
"Iya, makasih ya udah mau nunggu aku pulang. Makasih juga untuk satu tahun ini sudah menghiasi hariku," tukasku.
Tiba tiba air matanya jatuh. Ia memelukku sambil mengatakan, "Aku menyayangimu. Kamu jangan meninggalkan aku ya. Aku tunggu kamu di sini, walaupun kita jauh tetap seperti kita di sini ya. Jarak kita saja yang jauh, tetapi hati kita dekat."
Sambil menahan air mata yang juga mau ke luar dan memeluknya semakin erat, aku bilang, "Aku juga menyayangimu. Iya, aku tidak akan meninggalkan kamu. Jarak kita saja yang jauh, tetapi hati kita dekat."
Ia melepaskan pelukannya, kemudian menggenggam tanganku. "Iya. Aku percaya padamu. Kita jaga ya hubungan ini. Semoga kita jodoh. Amin."
***
Tepat pukul 9 pagi aku siap berangkat. Barang barang sudah dimasukkan ke mobil. Setelah semua lengkap, aku berpamitan pada tetanggaku, temanku dan semua warga yang berada di dekat rumah. Untuk saat ini aku diantarkan keluargaku mulai mama, papa, nenek, kakek dan satu adik sepupuku yang sangat dekat denganku. Maklum, banyak yang mengantar karena aku akan tinggal di asrama dan tidak akan pulang untuk beberapa bulan.
Kami mulai masuk ke mobil, tiba-tiba doiku datang ke rumah untuk melihat kepergianku. Mama pun ke luar mobil dan memanggilnya. "Uchi, ke sini sebentar. Kamu mau ikut mengantar Dafa? Kalau mau ikut, ke marilah mobil masih lapang."
"Hm, Uchi nggak bisa ikut, Bu. Uchi mau bantu mama jualan di rumah. Uchi ke mari hanya mau melihat Dafa pergi saja, Bu," katanya segan dan malu.
"Oh, ya sudah. Makasih, ya Uchi sudah mau datang ke sini dan melihat Dafa pergi," ujar Mama.
Aku tidak berani ke luar karena aku sudah berlinang air mata. Kalau melihat wajahnya dari dekat, makin berlinanglah air mataku. Aku hanya melihatnya dari jendela mobil saja. Setelah perjumpaan selesai, kami berangkat. Aku hanya tersenyum kepadanya dan dengan mata yang berkaca-kaca ia juga tersenyum kepadaku. Delapan bulan telah berlalu, tetapi rasa rindu makin menggelora. Perjuanganku masih panjang. Namanya selalu di dalam hati, memberiku semangat menggapai cita. Semoga dia juga mengingat janji kami itu. (c)