Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026

P u i s i

- Minggu, 05 Maret 2017 18:51 WIB
336 view
Jalan

Jalan memeluk tiang
Kerikil terbang ke awan
Batu memakan debu
Lenyapkan harapan turunkan hujan
Jalan kuabaikan
Antarkan raga menuju surga
Tak bisa angin berbuat
Lontarkan kata walau sekejap
Kini jalan tak ada guna
Hadirkan suka yang tertunda

Putri Magdalena Manurung, SMAN 1 Siantar Narumonda.


Buku Harian

Hari demi hari kutulis cerita diri
Kutorehkan perasaanku dalam buku yang selalu jadi sahabatku
Di saat sedih dia mendengarku
Mendengarkan ratapanku.
Menulis kisahku di sana seakan sanggup mengurangi bebanku
Membuatku merasa lebih baik.
Dia tempatku berbagi kisah
Tempatku berbagi suka
Tempatku berbagi duka.

Gabriela Siahaan, SMP Budi Murni 1 Medan.


Daku yang Merindu

Sewindu ku tersiksa dalam rundung terikat nestapa, mengusik batin, menguak emosi
Ku tertipu muslihat bayangmu
yang menusuk kalbu
membuatku seakan bodoh
diam membisu.
Berlaksa gundah menumpuk di dada membuatku terpaku akan hening tanpamu Kekasih...
detik demi detik membuatku melayang seakan membuatku ingin mati merindu.

Tiara Gracia Siagian, SMP Budi Murni 1 Medan.


Serpihan Hati

Tuhan andai aku bisa memutar waktu
Aku tidak akan merasakan semua ini
Serpihan hati yang tak sanggup kusatukan.
Tuhan berilah aku waktu untuk bisa mengembalikan
mengembalikan semua yang telah hancur
agar aku tidak merasakan perihnya luka yang telah tersakiti.

Hatia Loing Siahaan, SMP BM-3 Medan.


Baru

Bagai mentari pagi
Semangat baru dimulai
Kubuka lembaran baru
Sungguh penuh dengan cemas
Sampai debu tanah habis
Pengorbanan tiada tara
Tersimpan di dalam benak
Jiwa tak kan pernah hilang
Walau ditelan bumi.

Clara Refiana Tambunan, SMAN 1 Siantar Narumonda


Pangeran

Saat mata memandang
Butiran berlian berlomba-lomba mengalir
Sangat tampan dan perkasa
Tersenyum malu-malu dan diam-diam mengagumi
Kutemukan pangeran yang tak ada di negeri mimpi
Sangat nyata Pangeran
Tak selayaknya disebut pangeran
Hatinya bagai salju, tak ternoda oleh dusta
Bagai malaikat yang menyelimuti
malam terangku Aku tersadar itu hanya  sebuah lukisan.

Alprida Yanti, SMA S Pantiharapan Lawedesky Aceh


Kehilangan

Engkau bagaikan aku
Yang ditiup angin
Begitu cepat engkau menghilang
Ntah pergi kemana dihempas ombak
Mungkin engkau terbang dan hinggap di mana
Di mana aku akan mencarimu
Dapatkah kita bersama
Tuk kenang yang berlalu
Tak bisa kau hapus rasa pilu
Tak bisa berhenti rasa tangis
Kembali tuk bersama
Hapus kan air mata.

Trisna Ginting, SMA Swasta Pantiharapan, Lawedesky Aceh.


Alunan Sebuah Kata

Lewat hentakan angin
Kusenandungkan buku rindu
Tentang arti dirimu
Dalam kamus rembulan sang jiwa
Suryamu hangatkan kelam malamku
Suryamu yang cairkan heningku
sinar lampu yang berpijar.
Saat mutiara mulai redup.
Kau surya yang meluluhkan mutiara ini
bintang yang berkilau menebar pesona
Takkan padam walau angin menerpa
Tak punah direnggut waktu
Kau masih di sini. Di hatiku...
Aku merindukanmu...
Seumur mutiaraku bertahan hidup.

Indah Siagian, SMAN 1 Siantar Narumonda.


Bunga Terakhir

Jangan jadikan menjadi butiran debu
Hingga terabaikan tiada arti
Jangan acuhkan dengan raut memelas
Seolah sebuah kisah telah usai
Hentikan menyiraminya dengan lautan air mata
Jeritan isak tangis juga tak ubah keadaan
Atau setumpuk bunga putih
Semua tak ada artinya.
Tidak, Tuhan bukan sekarang
Secepat itukah surga menginginkannya
Atau dia telah lama merindukan surga
Jangan jadikan raganya seperti butiran debu
Dia begitu berharga teramat berarti
Hati memaksa tuk rela, dia telah mati
Dan mengantarnya dengan Bunga terakhir.

Andriani Br Ginting, Alumni SMA Van Duynhoven Saribudolok


Seuntai Kata

Nyanyian pilu mendengung di telinga
Kisahkan jiwa yang merasa kehilangan
Ungkapkan rasa yang terpenjara oleh getirnya hidup
Merintih memohon agar tak terulang lagi di waktu yang mengejar
Berlari mencoba menjauh dari bayangan sang waktu.
Berulang kali kau tutup telinga itu agar tak mendengar
Sembunyikan tatapan mata indah dengan butiran bening telah melebur
Kau pejamkan mata berkilau itu tak kuasa menatap realita hidup
Kau bahkan ingin membunuh raga yang lelah sekian lama
Tapi tangan lemahmu tak sanggup melukainya
Sekali lagi berteriak dengan deretan kata
Suara jeritan tangis menggema
Lagi menyumpai memaki diri
Bertanya tanpa temukan jawab, dan kau kian terluka
Cobalah bertahan meski sang mentari membakar jiwamu
Ucapkan seuntai kata yang terpendam
Seuntai kata yang menjadi balutan cerita.

Andriani Br Ginting, Alumni SMA Van Duynhoven Saribudolok
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru