Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Cerpen

Cinta Badai

* karya Jumiatun, SMAN 2 Rantau Selatan - Rantauprapat
- Minggu, 12 Maret 2017 21:55 WIB
400 view
Senangnya jadi Devi. Selain cantik, terus hepi dan dikelilingi banyak cowok. Dari sejumlah pria rekannya, Devi terlihat sangat serasi dengan Indra. Namun pertemanannya dengan Edo dan Putra pun terlihat sangat indah.

Jika disuruh memilih, aku mau semuanya. Soalnya semua rekan-rekan cowok Devi hampir sempurna. Itulah sebabnya ketika padaku ditawarkan untuk jalan-jalan dengan Edo, aku tak menolak. Pertemanan dengan Edo pun semakin dekat.

Tetapi aku bukan tipe cewek kacang lupa dari kulitnya. Aku tetap menjaga pertemanan dengan Devi. Ketika kulihat ada tanda-tanda ketidakenakan dalam hubungan kedunya, aku jadi risau sendiri.

Aku mengambil kebijakan sendiri. Menghubungi Indra dan membujuknya untuk merendahkan hati serta melupakan hal-hal tak enak hingga mengganggu hubungan yang sudah dibangun dengan Indra.  Atas saranku itu, dari ujung sebelah sana, memang diiyakan tapi kenyataannya tidak demikian. Indra justru terlihat semakin jarang bepergian dengan Devi.

Diam-diam aku mengunjunginya di lapangan futsal. Indra terkejut dengan kedatanganku. Apalagi kawan-kawan setimnya ikut bersorak-sorak, seperti kegirangan karena memasukkan bola ke gawang lawan. Manajer futsal Indra bahkan mengatakan sejak aku dekat dengan anak asuhnya, Indra semakin bersemangat olahraga.

"Apa hubungannya dengan aku?"
"Yang tahu hubungan itu, hanya kalian berdua dan Yang Di Atas!"
"Suerrr, aku tidak ada perasaan apa-apa dengan Indra," hentakku. "Indra itu pacar sahabat baikku!"
"Sahabat bukan jaminan jadian!"
Aku mau tertawa tapi kupikir lebih baik merenung. Kenapa orang lain melihat antara aku dan Indra ada chemistry. Yang menakutkan, Devi ikut-ikutan menuduh dan marah padaku.
"Sampai hati kau sama aku," makinya. "Kau tak lebih seperti pagar makan tanaman! Kau tak ubah seperti setan,"
"Ya Allah, Devi. Kok menuduhku seperti itu," elakku.
"Pantaskah seorang teman biasa mendampingi Indra main futsal?"
"Sumpah, aku tak ada niat macam-macam sama Indra, Devi!"
"Ingat ya... karma berlaku dalam hidup manusia," putusnya sambil meninggalkan aku setelah maki-makiannya menjadi pusat perhatian kawan-kawan di sekolah.
Dengan berat hati, aku coba membuka komunikasi kembali pada Devi tapi tetap saja ia tak mau. Sepanjang hari di sekolah, aku jadi murung. Soalnya kawan-kawan pun menuduhku sebagai perampok pacar kawan. Seperti menggunting dalam lipatan.

Kerenggangan persahabatanku dengan Devi pun jadi viral di grup WA dan di dunia maya. Aku malu. Aku terhakimi tapi aku tak tahu jalan ke luar menyelesaikan semuanya itu. Tuhan....

Edo pun ikut-ikutan. Ia menyelidiki sebenarnya ada apa aku dengan Indra. Sudah berulang kali kukatakan tidak ada tapi Edo tak percaya. "Aku pun sakit hati padamu?"

"Kenapa denganku?"
"Jika benar kau ada hubungan dengan Indra, aku pasti lebih sakit hati ketimbang Devi!"

"Ada apa denganku, Edo?"
"Kau gak tahu Indra itu pacar Devi? Jadi kenapa kau mau sama Indra?"
Aku terdiam. Perlahan-lahan air mataku menitik. Aku terisak, butir bening itu semakin banyak. Seumur-umur, tak pernah aku ingin merebut cowok orang dari hati sahabat dekatku. Berpikir saja tidak.

"Kejam kau!" tambah Edo.
"Kenapa kalian menghakimiku!"
"Karena aku sebenarnya naksir padamu tapi kenapa kausuka sama Indra!"
Hampir lepas jantungku melihat keseriusan Edo. Bersamaan itu ia menghapus air mataku dengan lembut.

"Aku serius... lupakanlah Indra. Bukalah hatimu untukku!"
"Edo," hentakku. "Fokusku ingin mencairkan persahabatanku dengan Devi dan memadukan kembali hatinya pada Indra!"

"Aku siap melakukannya," balasnya. "Dengan syarat, kau menerima aku!"
Aku diam saja. Ingin sekali kusulut muncungnya dengan ekor jagung bakar ini biar tidak bisa bicara lagi. Tetapi Edo emang serius. Serius banget pun.
Jika kalian jadi diriku, apa yang harus kuperbuat?  (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru