Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Cerpen

Menanti Lampu Merah

* Karya Tri Septania Lumban Gaol, SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 09 April 2017 22:04 WIB
682 view
Aku lelah berlari terus. Otot-otot kakiku mulai kehilangan semangatnya. Aku ingin berhenti... sekarang!
Setiap aku bertemu denganmu, hatiku terasa bimbang. Pikiranku terasa kosong. Aku bingung perasaan apa yang sebenarnya kurasakan. Hatiku senang namun sedih menghadapi kenyataan bahwa kau adalah kekasih dari sahabatku dan aku hanyalah teman bagimu.

Setiap pagi kau selalu menyapaku, membuatku semakin sulit untuk menghindarimu. Kau seolah-olah memberikanku harapan untuk berada di sisimu. Tapi harapan itu takkan pernah terwujud, karena dia selalu berada di sisimu dan kau selalu berada di sisinya. Aku ini hanyalah jembatan penghubung yang mempertemukan dua pulau antara kau dan dia, dan aku akan selalu jadi jembatan itu.

Seperti biasanya, pagi ini aku selalu datang pagi-pagi sekali ke sekolah. Dan seperti biasanya juga, aku melihatmu datang bersamanya menuju kelas. Kalian berdua terlihat sangat cocok. Kau cantik dan dia tampan, kalian itu bagaikan sepasang angsa yang rupawan dan aku hanyalah bebek buruk rupa sebagai penonton, yang tidak akan pernah berubah menjadi angsa seperti di cerita.

Kau melangkah masuk ke dalam kelas lalu menyapaku. Basa-basi padaku soal pelajaran. Kujawab jujur apa adanya. Kau hanya beberapa meja di depanku, tapi rasanya ada banyak penghalang di antara kita. Aku hanya bisa menatap punggungmu dan menunggu sampai kau memalingkan wajahmu ke samping.

Ketika jam istirahat, kau selalu bersama temanmu lalu melepaskan senyum dan tawa kebahagiaan. Kau selalu membuatku terpesona. Itu membuatku semakin sulit untuk berpaling darimu.

Tiap pulang sekolah, aku hanya jadi penonton kemesraan kalian berdua. Kakiku tidak berani melangkah menuju kalian. Aku ingin berhenti!

Malam ini aku serasa sibuk, mencicil mengerjakan PR. Bunyi HP-ku membuatku kesal. SMA dari Lukas temanku, pacarnya Ita. Dik, minggu depan Ita ulangtahun. Bagusnya aku kasih kado apa ya?
Seperti awal, sekarang pun aku cuma jadi penghubung kalian.

Aku terlambat bangun karena tadi malam begadang. Saat buru-buru melangkah, terantuk keras hingga lututku berasa sakit.
"Dik, kamu tidak apa-apa?"
"Iya nggak terlalu sakit kok."
Ternyata itu Miranda teman sekelasku. Betapa malunya aku, bisa-bisanya aku jatuh karena tersandung batu. Ia menawarkan membawaku ke UKS. Apalagi ia anggota PMR tapi aku menolak dengan manis.

Saat sampai ke kelas, lututku berdarah. "Dika, kaki kamu kenapa?" sambut Ita.

"Nggak kenapa-kenapa, tadi cuma jatuh. Nggak sakit kok."
Ita pun melangkah kembali menuju bangkunya. Sebenarnya kenapa dia sangat baik kepada ku. Dia membuatku bingung dan semakin sulit untuk membencinya. Aku ingin terbebas dari belenggunya, tapi dia membuatnya semakin rumit seperti benang yang kusut.

Miranda memaksaku ke UKS. Aku mengelak tapi ia ngotot. Perhatian sekali.
"Ayo ikut aku ke UKS," paksanya tapi aku menolak. "Setidaknya bersihkan lukamu."
Alhasil, aku akhirnya pergi juga UKS. Setelah pulang dari UKS dan kembali ke kelas, barulah seisi kelas sadar bahwa lututku luka.

Badanku sepertinya sudah sangat lelah hari ini, dia sudah melewati hari yang panjang dan sekarang sudah saatnya untuk mengisi tenaga lagi. Luka yang kudapatkan hari ini sangat tidak terduga, tapi aku bersyukur mendapatkannya. Luka ini lah yang membenarkan benang kusut pikiranku. Sekarang pikiranku sudah jernih, dan pikiranku sudah terbuka dengan lebar. Kini aku mulai menyadari betapa bodohnya aku yang dulu yang hanya menatap punggungnya tapi tidak memperhatikan sekelilingnya. Kini aku bisa berhenti menatap punggungnya, karena bukan dia yang paling peduli padaku tapi, ada orang yang lebih peduli padaku dan aku menyadarinya. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru