Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Cerpen

Selarik Puisi Untuk Intan

- Minggu, 15 Juni 2014 21:24 WIB
1.652 view
Selarik Puisi Untuk Intan
Seisi dunia menyambutnya. Penuh dengan suka cita. Ada yang merayakan bersama keluarga, kekasih atau sahabat. Kembang api dengan suara menggelegar dipertontonkan kepada masyarakat. Tanda tahun sudah berganti. Sangat cantik dan indah. Membuat kebanyakan orang terpesona. Tersenyum dan tertawa riang. Ada yang berpelukan penuh haru dan ada yang menangis pilu. Mengingat tentang apa yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.

Seharusnya aku merayakannya bersama Intan. Sahabat sekolahku yang beberapa bulan ini dekat denganku. Namun ketidakhadirannya di sekolah beberapa hari terakhir ini membuatku menjadi uring-uringan. Pada hari Kamis aku masih duduk di bangku sekolahku. Sesekali aku menatap ke arah depan sekolahku, di sana banyak teman-temanku yang sedang bermain ke sana-sini dan tak pernah tentu arah. Namun sungguh ada perasaan pilu serta kehilangan di sudut hatiku.

Ajakan keluarga untuk merayakan tahun baru di alun-alun tidak kuhiraukan. Aku sedang teringat olehnya. Seseorang yang datang tiba-tiba dalam hidupku dalam memberi sebuah rasa yang kusebut dengan cinta.

Sejam yang lalu aku meluangkan waktuku untuk menuliskan pesan singkat kepadanya.

“Assalamu’alaikum. Intan apa kabar?”

“Sudah enam hari kamu tidak masuk sekolah. Ada apa gerangan?...”

“Sepi membawaku pada ujung tak bertepi.
Sejak kau pergi...
Malam serasa hampa
Jangankan bermimpi, tertidur pun aku tak bisa
Aku jadi mengerti mengapa manusia bisa bunuh diri
Karena di tinggal sepi, di tinggal pergi, atau di tinggal mati
Ketika belahan hati tak lagi di sisi
Ku coba tabah...tetapi terkadang tak bisa
Mungkin butuh waktu
Sayang...dari dahulu kau tahu
Aku orangnya tak bisa tahan
Menanggung rindu
Malam ini malam tahun baru semoga semua baik-baik saja.”

Lima menit berlalu, tidak ada respon. Sepuluh menit, dua puluh menit, sampai enam puluh menit aku menanti, tapi tetap juga tidak ada respon. Dadaku berdebar kencang. Ada apa dengan Intan? Apa ada sesuatu yang buruk tengah menimpahnya? Tapi kenapa dia tidak memberi kabar kepadaku? Apakah salah jika aku berharap?

Tetapi Pak Padli, guru di sekolah pasti akan memberi tahuku kalau sesuatu telah terjadi pada Intan. Karena semua teman-temanku sudah tahu kalau mereka memiliki ikatan keluarga. Tapi hingga kini aku belum mendapatkan jawaban dari siapapun.

Aku masih ingat akan kalimat yang dia ucapkan pas terakhir kali kami bertemu. Kalimat demi kalimat yang diutarakan berhasil membuatku merasa sebagai wanita paling beruntung di muka bumi ini.

“Ada waktu untuk bicara sebentar?” tanya Intan kala aku masih berkutat dengan berbagai macam kertas di atas mejaku. Waktu memang sudah menunjukkan jam pulang sekolah. Aku jarang pedulikan itu. Yang aku tahu, aku harus menyelesaikan pekerjaanku dengan segera. Aku sangat tidak suka menunda-nunda pekerjaan.

Lalu aku mendengakkan wajahku seraya menatap matanya yang hitam pekat. Mata yang selalu berhasil membuatku terjerat kepadanya. Aku selalu berusaha untuk tidak kontak mata terlalu lama dengannya. Sebab aku tahu kalau pesonanya begitu mudah merasuki diriku.

Intan Alzaindri. Badannya tinggi besar dengan rambut hitam bergelombang. Wajahnya khas Asia. Kuning langsat. Ada lesung pipi di wajahnya. Sangat manis. Sejak pertama kali masuk sekolah. Sejak itu pula aku sedari kalau ada banyak kaum hawa di sekolah ini yang terpikat akan pesonanya. Aku juga termasuk salah satu dari mereka. Terkadang aku hanya bisa membayangkannya saja sudah dapat membuat aku tersenyum-tersenyum sendiri.

“Ah, pantaskah aku bersamanya?...
“A...a...ada apa, Tan?” tanyaku tergagap. Kadang aku masih tidak bisa menguasai diriku akan kehadiran dirinya. Padahal kamu sudah sering bercakap-cakap walau hanya di sekolah.

“Boleh kita bicara di luar?” tanyanya dengan senyum yang masih tertampang di wajahnya.

Aku menganggukan kepalaku  kemudian kuseretkan kakiku mengikuti wanita itu. Kami tiba di taman kecil yang terletak di belakang sekolah. Hari ini taman itu kosong. Hanya ada kami berdua. Aku berdiri di depannya dengan jantung berdetak-detak.

Apa yang hendak dia katakan? Pertanyaan itulah yang terus hadir di dalam benakku. Intan tampak salah tingkah. Sesekali dia mengacak-ngacak rambutnya yang tidak kusut. Aku semakin penasaran lalu mencoba untuk ikut tersenyum lebar.

“Oke, Rio akan aku katakan.” Ucapkan setelah menghembuskan napas berkali-kali.

“Aku...aku...aku suka sama kamu. Kalimat itu bagai petir yang pekakkan telingaku. Tubuhku bergetar hebat. Ya Tuhan apakah aku sedang bermimpi?
“Rio, maaf kalau aku terlalu cepat untuk mengucapkan. Tapi keinginan ini sudah aku pendam terlalu lama. Aku sudah tidak sanggup untuk memendamkannya.

“Tapi... tapi Intan kan baru mengenal aku. Bagaimana mungkin Intan mengatakan hal yang seperti itu?”

“Jangankan katakan seperti itu, Rio?

Hatiku tersenyum memandangnya mungkinkan dia akhir dari penantianku? Tuhan bolehkan aku berharap lebih kali ini?

“Beri aku waktu, Intan” ucapku akhirnya.

Dia menganggukan kepalanya sembari memberikan sebuah senyuman yang sangat manis di benakku.

Aku tersenyum kaku.

Waktu pun terus berjalan aku dan Intan pun menjalin hubungan (pacaran). Tidak terasa sudah 1 tahun hubungan kami berjalan namun aku baru menyadari bahwa selama ini dia sudah membelakangi aku (main-main) dan akhir hubungan akhirnya hubungan setahun lebih kami jalani kini hanya menjadi kenangan yang sangat menyakitkan dalam hidupku. Karena dia lebih memilih bersama Indra dibanding aku.

Di sinilah semua berakhir. Pada sewaktu-waktu kita bertemu
Kita pun membuat kisah sebuah takdir
Tahun-tahun terindah yang tiada mengenal jemu
Membangun mimpi merajut asa tiada kenal lelah kita mewujudkannya
Tapi di sinilah semua berakhir air mataku tak henti mengalir
Melepasmu pergi merenggut separuh hidupku
Nafasku tak akan sama tanpamu
Hidupku tak akan sama tanpa kehadiranmu
Malam-malam akan sepi tanpa pelukmu!... (f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru