Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat

Tak Ingin Terjerat Derita

Widya Agustina, SMAN 2 Rantauselatan - Rantauprapat
- Minggu, 15 Juni 2014 21:28 WIB
272 view
Tak Ingin Terjerat Derita
Sudah terlalu jauh persahabatanku dengannya. Terus terang, bagiku Roby itu tak sekadar teman. Ia tampan, penuh perhatian. Ia pintar, penuh prestasi.  Dua pertimbangan itu saja sudah membuat perempuan tergila-gila padanya. Termasuk aku.

Roby itu datang dari keluarga berkecukupan. Meski begitu, tak pernah merasa lebih mewah dari kawan-kawannya yang lain. Roby bahkan terlihat seperti orang kebanyakan.

Memakai pakaian tidak terlalu memilih. Mau yang ada mereknya atau tidak, sama saja. Aku tahu persis soal itu karena bila hendak dibelikan nyokapnya baju, Roby cerita padaku. Selalu kusarankan, Roby lebih macho bila pakai t-shirt tapi tetap dijawabnya sambil senyum dan menolak untuk memilih-milih.

Padahal, kalau pakai t-shirt, apalagi kaos ketat, bentuk tubuhnya jadi terlihat. Urat-uratnya menyembul seperti aktor sohor. Ditambah wajahnya yang manis seperti Vino G Bastian itu membuatnya sebagai pria lengkap; ganteng dan kaya serta pintar!

Satu lagi, Roby itu kaya. Rumahnya saja kayak istana. Tetapi tak segan-segan Roby membersihkan kamarnya sendiri. Aku saja, bila janji ke rumahnya dan datang lebih cepat dari jam yang ditentukan, Roby pasti sedang sibuk dengan urusan rumah. Kadang, untuk membantu, aku paksakan diri untuk ikut membenahi kamarnya hingga tertata rapi.

Pokoknya, Roby itu serba komplet. Aku kenal dengannya sudah lama, lama sekali. Mulanya cerita dari orangtuaku bahwa dulu di ujung lorong kami ini ada satu keluarga the have yang pindah ke Magelang sebab orangtuanya pindah tugas.

Karena tidak ada yang khusus menjaga rumah itu, orangtuaku tiap hari membersihkan kediaman Roby. Aku pun ikut dibawa, mulai menyapu halaman yang luas hingga membersihkan rumah besar itu.

Ketika keluarga Roby kembali ke kota kami, pertemanan semakin cepat akrab. Apalagi dengan Roby, pria baik hati itu. Ya seperti yang tadi kuceritakan...
Meski kami beda sekolah, tapi Roby tiap hari memboncengku bila pulang. Roby bahkan selalu menungguku sampai aku ke luar kelas. Soalnya, ada selisih waktu sampai hampir sejam. Roby masuk kelas lebih cepat sejam dari waktu pelajaran di sekolahku.

Gak hanya itu, malam Minggu pun kami selalu sama. Ada saja acara Roby di luar sana dan aku tetap diajaknya.

Sampai suatu kali, Roby ‘nembak’ aku. Terus terang, aku ingin teriak sekuatnya mendengar itu karena sudah terlalu lama aku menantikan kata-kata cinta darinya. Sejak saat itu pula kami seperti lepat dan daun, seperti HP dan pulsa.

Tetapi, duniaku tiba-tiba seperti berhenti berputar, hendak kiamat. Kondisi itu ketika ibuku mengatakan tidak merestui hubunganku dengan Roby. Kenapa? “Pokoknya tidak!”

Hal serupa pun dikatakan ayahku. “Sekali tidak, tetap tidak! Tanpa penjelasan, tidak!”

Roby pun mendapatkan hal serupa dari orangtuanya, tidak boleh pacaran denganku. Karena penolakan itu, kami jadi back street.

Ketika aku terus melawan, abangku menengahi. Ia minta aku menghindari Roby karena sebenarnya lelaki idolaku itu masih sedarah denganku. Katanya, Roby itu diadopsi orangtuanya ketika keluarga itu belum punya keturunan. Setelah Roby diadopsi, barulah orangtuanya mendapat anak. “Roby itu abangmu. Tapi, semua jadi rahasia!”

Sejak saat itu pula rasa sayangku pada Roby pudar, sepudar-pudarnya tapi aku sungguh tak tahu bagaimana caranya agar rasa itu pun ada di hati Roby.
Aku terus menghindar, tapi Roby terus mengejar. Ia bahkan menuduhku berkhianat karena dilihatnya aku berjalan dengan cowok lain. Tuduhannya itu membuat aku terjerat dalam derita berkepanjangan. Soalnya, siapa sih perempuan di dunia ini yang mau dituduh sebagai pengkhianat cinta.

Tak mau terus dalam tekanan, aku menjadi orang yang paling bahagia ketika Roby dapat beasiswa ke luar negeri. Mendapat dukunganku, Roby justru marah dan menuduhku memang ingin menjauhkannya dariku.

Disebabkan Roby tak pernah mau memahami perasaanku, kuberanikan pula mengatakan padanya bahwa aku sudah tidak mencintainya lagi. Rasaku yang ada di dada hanya seperti abang dan adik.

Dan itu kubuktikan. Ketika Roby mengenalkan seorang perempuan yang — konon — diincarnya, aku mendorong keduanya untuk sesegeranya melanjutkan hubungan tersebut. (q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru