Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Mengapa Remaja Perlu Memahami Soal Terkait Reproduksi?

- Minggu, 15 Juni 2014 21:35 WIB
444 view
Mengapa Remaja Perlu Memahami Soal Terkait Reproduksi?
Lebih dari separo remaja di seluruh dunia aktif secara seksual pada usia 17 tahun, yang diakui sebagai awal pubertas. Tetapi, hasil penelitian yang dipublikasi Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan mengenai Pendidikan Seks pada Usia Dini oleh Moh Roqib menunjukkan kekhawatiran bahkan ketakutan karena hampir nyaris 100 persen remaja dan usia perguruan tinggi sudah tahu seks yang disepadankan dengan 10 gadis dari 11 gadis melakukan hal yang sebenarnya tabu.

Sejalan dengan itu, penyakit sosial makin berbiak. Kaum muda saat ini semakin rentan dengan masalah kesehatan seksual dan reproduksi seperti pelecehan seksual, kehamilan remaja, menjadi ibu pada usia dini, aborsi tidak aman, infeksi menular seksual (IMS), HIV/AIDS dan HPV, yang dapat menyebabkan kanker serviks atau kanker rahim.

Dengan kenyataan itu, apa yang harus dilakukan? Berdiam diri atau mencari solusi? Country Representative Rutgers WPF, Monique Soesman mengatakan, remaja harus harus tahu apa itu pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi komprehensif.  Memang, sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 2009 Pasal 136-137 Tentang Kesehatan Remaja, pada para remaja harus diberikan informasi untuk mengetahui seksual edukasi.

Tetapi, ditingkah kondisi kultural Indonesia, cara tersebut belum maksimal. Yang diperlukan adalah training mengupdate terus menerus untuk diimplementasikan ke daerah untuk sosialisasi UU atau regulasi bagi masyarakat agar hal negatif sehubungan perubahan itu, dapat diantisipasi.

Dari bangun tubuh, remaja dewasa ini memang sudah mampu melakukan hubungan seksual tapi kenyataan di lapangan secara mental belum siap.

Tetapi fenomena di lapangan sangat miris, tengoklah fenomena misalnya dengan menjadi "cabe-cabean". Padahal, seperti diutarakan seksolog dan spesialis andrologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof Wimpie Pangkahila, fenomena "cabe-cabean" merupakan perilaku seks remaja yang tidak sehat.

Kenyataan itulah yang mendorong bahwa semua pihak harus memberi pengetahuan yang sehat dan benar tentang mana yang belum boleh dilakukan dan mana yang boleh dalam tataran kultur dan peraturan. Hal itu dimaksudkan agar tidak terjerumus dalam perilaku seks remaja yang tidak sehat, maka pengetahuan tentang seksualitas adalah kuncinya.

Kondisi itu meyakinkan bahwa remaja membutuhkan pengetahuan tentang seksualitas. Kenapa perlu pengetahuan? Sebab, tanpa sosialisasi (baca: pendidikan seks yang benar dan sehat), remaja akan mengadopsi aktivitas seksual dari sumber yang tidak seharusnya contohnya di dapat dari film porno atau bertanya pada teman yang pengetahuannya juga keliru.

Ada sejumlah hal yang dapat memicu fenomena gunung es kesalahan soal seks menyimpang. Diawali dari minimnya perhatian dari orangtua hingga tidak tahu apa yang dilakukan anaknya di luar rumah, tidak dekat dengan anak dalam posisi pubertas. Selanjutnya, adanya pengaruh lingkungan, khususnya teman sebaya, termasuk untuk melakukan hal-hal yang negatif.

Kondisi itulah yang membuat pada kesalahan dalam memaknai hubungan seksual. Maka tidak heran jika pemanfatan yang menyimpang, seperti memanfaatkan hubungan seksual demi mendapat uang, tidak ragu dilakukan. Secara menyeluruh, soal seksualitas bukan cuma seputar hubungan intim pria dan wanita, tapi bisa juga tentang kesehatan dan perkembangan emosi.

Pada intinya, pendidikan seks mengenai kesehatan reproduksi penting diberikan lewat  keluarga maupun kurikulum sekolah.   Sedini mungkin anak harus bias menjaga dirinya sendiri.  Prinsip penting yang harus mereka ketahui adalah tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal.   Kemudian untuk orang yang sudah dikenal dekat pun, tekankan untuk tetap mawas diri, bukan berarti mengajarkan anak untuk mudah curiga pada orang lain.  Namun sikap mawas diri ini akan berguna untuk anak saat pembentukkan sikap mandiri dan teguh memegang pendirian.
Nanni Resmana Putri -  (penulis mahasiswi The London School of  Public Relations, Jakarta/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru