Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Dunia Kecil Tanaman Bunga

Karya Jane Alfreda Purba. X-6 SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 22 Juni 2014 15:36 WIB
340 view
Dunia Kecil Tanaman Bunga
Dingin mulai merasuki tubuhku. Rerintihan berhasil meluncur mengenangi bumi. Derainya menerpa pohon-pohon yang hanya mampu terdiam. Kini, langit semula biru telah gelap. Raja siang yang seharusnya bersinar, masih saja terlelap dalam tidur. Rasa bosan kini menghampiriku yang terduduk di  balik stir. Terlihat biasa karena memang biasa.

“Pasti telat dan bakalan kebelet,” ucapku.

Kendaraan sulit berpindah dari tempat singgahnya. Tangan kecil membuka mulai bekerja, menampangkan dirinya yang lesu. Entah itu berpura-pura atau memang itu adanya. Suara ketukan yang sudah kuduga. Segera tanganku mengambil uang di kantung dan membuka kaca. Langsung memberinya tanpa kata. Bukan hanya sebuah keibaan melainkan sebuah rasa terganggu. Hingga jalan melonggar aku kembali menelusurinya.

Tangan kakuku membuka pintu. Aku berlari kecil mencoba menahan perut bawahku. Mataku mendapat sasaran seorang pria yang akan kutanya.

“Eh, eh, dimana?” ucapku singkat karena tak tahan sambil memegang erat lengannya.

“Tau nggak cowok yang ganteng tadi?” tanya temanku, Jesika.

Aku hanya menggeleng lemah menandakan ketidaktahuanku.

“Ntah apalah yang kau lihat dari tadi. Kurasa kacamatamu harus ditambahi minusnya,” kesalnya.

“Emang kenapa tentang cowok itu?” tanyaku.

“Tau nggak, cowok itu berani banget nantang sekolah kita. Padahal, dia tahu sekolah kita itu nomor satu unggulan.”

Waktu berlalu begitu cepat. Hari kemarin telah berganti. Aku terdiam di rumah mulai membaca buku yang kuambil dirak tadi. Ini adalah kegiatan rutinku di hari minggu. Terdengar suara bel memanggil-manggil pemilik rumah.

“Woy, dari matamu aku tahu, kau jatuh cinta padaku. Ah, itu biasa,” katanya.

Aku hanya terdiam mendengar kepercayaan diri pria itu. Pria itu begitu memamerkan dirinya. Menceritakan segala yang ia punya dan segala kisah yang membosankan. Aku mulai membuka mulutku yang sebelumnya terjahit erat.

“Ngapain kau ke sini? Tahu nggak ini hari apa? Darimana kau tahu alamat rumahku?

“Jadi, kalau kau ceritakan semua tentang dirimu, aku peduli? Biar dibilang apalah?”

“Aduh bisa nggak sih, nanyanya satu per satu? Jadi bingung aku mau menjawabnya.”

“Aku tau kok. Hari ini adalah hari minggu. Kau tahukan kalau aku ini cowok terkenal, pintar, rajin menabung? Makanya aku mudah cari alamatmu. Dan semua itu karena aku cinta padamu.”

“Nggak, aku nggak tau.” balasku datar.

“Diam-diam membisu. Mungkin dia telah kehabisan akal menjawabku. Hahaha. Mati kau!” ucapku membatin.

“Udahlah, kalau gak ada lagi yang penting. Pulang aja kau,” usirku.

“Tunggu dulu, sebenarnya aku kesini untuk meminta sesuatu,” katanya.

“Apa?” tanyaku dengan nada menantang.

“Aku mau minta cintamu,” jawabnya riang.

“Serius dulu,” kesalku.

“Oke, aku kesini mau ngajak kau jalan,” jawabnya.

“Kemana?” tanyaku masih dengan nada cuek.

“Udah, pokoknya ikut aja,” jawabnya.

Aku mengikutinya. Menaiki motor yang dibawanya kerumahku. Entah kemana, aku masih bingung.

Aku terpaku membisu, mengingat-ingat tentang masa laluku. Mencoba mencari-cari dalam ingatanku. Hingga terukir kalimat ‘Apakah aku bahagia saat ini?” Tapi aku tak mendapat jawaban.

Beban yang selama ini kutanggung seakan terlepas. Membebaskanku dari lubang besar yang menjadi tempatku selama ini. Ia dan alam berhasil menghancurkan pendirianku. Alam merubah segala persepsiku. Ada pergerakkan hati tersendiri yang membuatku harus menerima masuknya alam dikehidupanku.

Aku pulang bersamanya. Membawa berbagai harum semerbak. Ini membuatku jauh lebih tenang. Kini, aku merasa bahagia. Tapi, pria yang selama ini merawatku dan membuatku tumbuh menjadi seorang pelaku ilegal loging menghentikan langkahku.

“Ngapain kamu bawa bunga nggak jelas itu?” tanya Ayahku.

“Ya, mau ditanamlah, Pa.”

“Ha? Nggak salah dengar Papa?”

“Nggaklah, Pa.”

“Kau tahukan, kalau tanaman itu musuh kita selama ini?”

“Pa, udahlah. Jangan pernah anggap tanaman itu musuh. Selama ini mereka yang bantu kita supaya bisa hidup. Mereka yang ngasih kita bahan makanan. Mereka yang memberi oksigen untuk hidup kita. Mereka itu, punya peran penting dihidup kita. Kenapa sih, Papa selalu membenci tanaman. Aku masih nggak ngerti, kenapa Papa buat aku jadi pelaku ilegal loging. Apa semua ini karena Mama yang dulu suka tanaman? Pa, aku tahu mungkin rasa cinta Papa besar banget buat Mama. Aku tahu seberapa hancurnya Papa saat perceraian itu. Tapi, bisa nggak Papa nggak membenci tanaman ini?”

Ayahku terdiam sejenak. Bibir manisnya sama sekali tak bergerak. Tanpa sadar, tangannya mulai menepuk pipiku keras. Sakit? Jelas sangat sakit. Jujur, aku sama sekali tak menyangka dari perubahan itu, Ayah menamparku. Aku membenci keadaan ini. Kubawa semua bunga-bunga yang semula harum semerbak. Kini, menjadi bau menyengat. Aku ingin merubahnya. Tapi, bukan perubahan persepsi yang kudapatkan.

***
Malam kini berganti. Raja siang telah menampakkan dirinya. Kicauan burung terdengar menyejukkan hati. Kini, aku mengerti betapa indahnya alam. Betapa berartinya segala yang diberikannya bagiku. Teringat kisah semalam. Masih ada rasa sesak didadaku. Sangat menyesakkan, membuatku sulit bernafas.
“Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Meski sulit melupakannya. Tapi janganlah mencoba mengingatnya. Aku pasti bisa,” ucapku membatin.

Segera aku meninggalkan posisi ini dan mulai bersiap untuk ke sekolah. Begitu hari-hari yang kulalui kini. Tak begitu besar perubahan yang ada. Hanya perubahan kecil yang mampu kuperbuat. Kulalui setiap waktuku. Setiap detik yang ada kini begitu penting bagiku. Taman itu, kini aku begitu sering ketempat itu. Menambah satu per satu tumbuhan. Aku terduduk sendirian sepertinya aku merindukan pria yang membuatku berubah mencintai si cantik, berharum semerbak ini. Ku raih ponsel yang ada disakuku. Mulai mengiriminya pesan. Aku ingin dia ditempat ini menghabiskan detik bersamaku. Ya, memang sejak kejadian itu kami menjadi dekat.

Tak begitu lama kumenunggu di taman itu. Pria itu datang begitu riang. Ia menjatuhkan badannya direrumputan disisi kananku. Aku memulai pembicaraan.
“Makasih, telah mengenalkan aku dengan si cantik, berharum semerbak ini.”

“Iya, sama-sama,” jawabnya sambil tersenyum.

“Aku mencintaimu,” lanjutnya.

“Kau mengatakan untuk tanaman itu?” tanyaku.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Untukmu. Aku mencintaimu. Bukan hanya sekadar dasar cinta aku menyukaimu. Tapi, karena dasar suka aku mencintaimu.”

“Maksudmu?”

“Aku benar-benar mencintaimu.”

“Oh. Iya, aku juga. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Jika kau benar-benar memiliki rasa itu. Aku berharap kau menyimpannya sampai masa yang tepat. Mungkin sulit, tapi semua itu kembali kuserahkan padamu. Jika untuk saat ini, aku masih harus belajar banyak tentang tumbuh-tumbuhan dan aku juga kurang mengerti tentang arti cinta,” balasku.

“Aku akan mencoba dan berusaha. Saat ini mari kita belajar menghias dan menambah indah pada indah,” sautnya.

“Saat ini, mari kita menjadi sahabat.”

“Oke. Tapi, lihat saja nanti. Pada akhirnya kau akan kudapatkan.”

Senyum dan tatapanku dengannya, kini bertemu diudara. Saling menghias dan menambah indah pada indah.

“Sejujurnya, suatu saat nanti harus tahu. Mengapa aku tampak membenci alam. Tidak, aku tidak membencinya dulu, tapi aku tidak menyukainya karena ibuku yang pergi untuk menggapai sukses yang sejujurnya tak berarti di bumi. Karena ibuku yang dulu begitu mencintai tumbuhan. Karena aku dan ayahku yang dulu sempat tersakiti karena ibuku. Yang sempat membuat kami terpuruk begitu lama. Kau harus tau itu. Kau harus tau,” batinku.

Kini aku belajar. Aku hanya perubahan kecil untuk merubah hidupku yang besar. Meski itu tidak terlihat di hidupku yang besar. Tapi, aku ingin perubahan itu ada. Dan tidak selamanya yang benar bisa merubah segalanya. Tapi itu bisa menciptakan dunia kecil penuh kebenaran. ***


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru