Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat Melly Andriani Ginting, SMA Van Duynhoven Saribudolok

Ibu, Izinkan Aku Mendekap Kakimu

- Minggu, 22 Juni 2014 15:40 WIB
342 view
Ibu, Izinkan Aku Mendekap Kakimu
Aku tak tahu, kenapa ibu tak suka melihatku berteman dengan R. Setiap kucari tahu kenapa bahkan menekadkan diri bertanya langsung, ibu cuma bilang tidak suka. Karena berulang-ulang kutanya, ibu pun malas menjawabnya. Ia cuma memasang wajah geram tapi tidak mau bernada tinggi. Apalagi sampai membentak.

Pada pertama kali R mengantarku ke rumah, tidak ada penolakan. Ibu welcome aja. Hari-hari selanjutnya, setiap kali R singgah, setiap kali itu pula ibu duduk menemani R.

Aneh, memang. Tak biasanya ibu demikian. Biasanya, bila kebetulan di rumah dan ada waktu, ibu sekedar saja mendampingi rekan anak-anaknya yang datang. Tak hanya padaku. Terhadap kawan-kawan kakakku pun demikian.

Atas sikap ibu itu, aku bersyukur karena kuartikan terbukanya hati ibu pada R, rekan spesialku. Aku berharap perasaan ibu sama dengan keinginanku: menempatkan R di sudut hati istimewa.

R kuajak ke rumah setelah sedemikian lama kami berteman. Kami sudah berkawan sejak sama-sama masuk sekolah. Tetapi, ketika duduk di kelas 12, aku dan R sama-sama sepakat jadian.

Yah... seperti pasangan remaja sekolah menengah ataslah. Karena sama-sama satu sekolah bahkan sekelas, keberadaannya menjadi penyemangat. Aku pun diposisikan R sebagai pendongkrak kemauannya belajar dan meraih cita-cita.

R itu baik lho. Anak orang kaya yang tiap hari dibekali keluarganya uang saku lebih. Lebih banyak dari seluruh kawan-kawan di kelas bahkan di sekolah. Buktinya, belum adalah kawan di institusi kami yang nraktir kawan-kawan secara rutin.

Bukan cuma menjadi bandar untuk makan minum saat rehat, tapi juga untuk urusan luar sekolah. Bila malam Minggu atau hari libur lain, R menjadi pendonor kala bepergian atau menonton.

Aku pun merasa gengsi lebih tinggi dari rekan-rekan lain. Soalnya, banyak kawan-kawan yang mengusulkan ide kepadaku lebih dulu agar usulan itu disampaikan untuk disetujui R. Ujung-ujungnya kan jadi terkabulkan.

Selain kaya, R juga ganteng. Kalau kubilang, ketampanan R itu seperti Robert Pattinson. Tengoklah bibir merah dan sorot mata tajamnya. Bila ada perempuan tidak tertarik padanya, sudah layak dipertanyakan kewarasan wanita itu. Paling tidak, siapa yang tak suka pada R berarti sudah ada tanda-tanda mati rasa sama lelaki.

Kalau soal otak, kuakui R tidak seberapa. Untuk urusan pelajaran, akulah di depan. Kawan-kawan lain pun mengakui hal itu.

Tetapi, kenapa ibu gak suka padanya. Karena kondisi itu, aku tak mau lagi membawa R ke rumah. Alasannya, demi memenuhi permintaan ibu.

Sikap itu membuat ibu bahagia. Karena aku jadi pulang sekolah sendiri, ibu melebihkan uang jajan. Tiap pulang, ibu selalu menyambutku. Mengambil tasku dan dibawanya sampai kamar. Padahal, 50 kali lebih berat dari ransel itu aku masih sanggup memikulnya.

Sampai di kamar, ibu terus mengulangi kekhawatirannya tentang hubunganku dengan R. “Ibu cuma takut, kau tertular sikap kaya R. Kita ini orang miskin, kita ini dilatih untuk hidup menderita. Jika silap, nanti kau ikut-ikutan nyabu! Enak sabu-sabu itu ya...”

Aku terhentak. Hampir terlempar dari dudukku. Dari mana ibu tahu R itu narkobais? Aku saja cuma dengar dari kawan-kawannya. Aku pun selalu menasihatinya dan R siap mengikuti harapanku. Tapi, sungguh mati, aku tak pernah lihat R mengonsumsi zat haram itu. Karena bagiku, R itu segalanya buatku.

Namun, karena semakin nyaring wanti-wanti ibu, aku tersadar. Apalagi sekarang aku sudah tahu persis, R itu seorang pecandu narkoba. Tapi bagaimana aku harus menjauhi dan melupakannya? Aku sudah menyerahkan apa yang diinginkannya.

Sejak menyadari kekeliruan itu, aku merasa salah, berdosa besar dan seperti anak durhaka. Dua hal yang harus kulakukan, menjauhi bahkan melupakan R dan mengembalikan posisi hatiku seperti dulu, untuk ibu.

Demi menjauhi R, kini setiap hari aku tak mau ke luar kelas. Alasanku hendak fokus ke ujian. R jadi ikut-ikutan tetap berada di kelas, mendampingiku tapi kami tidak berdua karena ada kawan-kawan lain yang juga tetap di dalam lokal. Tetapi, jika pulang sampai ke rumah, rasa penyesalanku semakin menekan batinku. Apalagi jika ingat ibu.

Tak tahan dengan semua itu, aku beranikan mengungkapkan pada ibu. Satu tujuanku, agar ibu mendoakanku untuk dapat melupakan R, walau itu pahit! Sambil berharap restu ibu, aku mendekap kakinya dan dengan air mata penyesalanku kubasuh kaki ibu!
SHARE:
komentar
beritaTerbaru