Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat

Ingin Menjadi yang Terbaik

James Hutagalung, Kampung Sawah - Sigambal, Rantau Selatan
- Minggu, 29 Juni 2014 19:44 WIB
255 view
Ingin Menjadi yang Terbaik
Aku terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Semua biasa-biasa saja. Orangtuaku tidak seperti orangtua kawan-kawan yang tetap memenuhi permintaan anaknya. Jika ada keperluan, meskipun sangat amat mendesak, orangtuaku tetap bertanya kadar kepentingan benda yang kumau. Jika pun dipenuhi, selalu dikabulkan lusa atau pekan depan.

Alasannya, klise. Tidak ada uang cash, harus mengumpul lagi dan masih ada keperluan prioritas.  Kesal sih... tapi mau bilang apa. Orangtuaku memang memiliki ekonomi biasa-biasa saja. Mau dipaksa pun memang tidak mungkin.

Disebabkan selalu merasakan hal itu, aku jadi maklum. Emang orangtuaku tak dapat berbuat maksimal seperti orangtua sahabat-sahabatku. Karena pemakluman itu pula membuatku harus ikut membantu usaha orangtua yang bertani.

Bukan harus, tapi timbul dari kesadaranku sebagai anak orang biasa-biasa saja. Jika musim tanam, ya... ikut ke sawah. Selanjutnya, ikut juga memupuk. Membunuh rumput saat padi mulai subur dan hendak berbuah.

Jika musim pupuk sawit, harus ikut. Membersihkan dahan-dahan yang sudah tidak berkontribusi bagi buah. Pekerjaan tetap itu kulakukan di jeda waktu sekolah. Kosekuensinya, aku tidak punya waktu luang seperti kawan-kawan yang lain.

Mau ikut ekstrakurikuler, harus menyesuaikan dengan jam dinas. Meski demikian, aku termasuk beruntung karena orangtuaku tidak memaksakan waktuku untuk fokus pada tanaman. Maksudnya, orangtuaku mengharuskanku sekolah. Apalagi ibuku.

Di dunia ini. Cuma ibukulah perempuan yang paling memahami aku. Bila aku keletihan karena membantunya, ibuku langsung menyuruhku istirahat. Ibuku yang membuat tempat tidurku di pondok di tepi sawah dan di ujung kebun.

Suatu kali, aku begitu pulas tidur. Ibuku tak sampai hati membangunkanku. Ditinggalkannya aku sendiri hingga langit gelap.

Begitu aku terbangun, betapa terkejutnya aku karena suara katak dan jengkerik sudah bersahutan teriak-teriak. Aku pun lari seperti dikejar setan. Sampai di rumah, ibuku justru tertawa karena nasibku hari ini.

Aku yang semula kesal, ikut tertawa keras-keras. Seolah-olah, tak ada lagi keluarga kami yang miskin. Ya, benar... akulah yang paling miskin materi dari antara kawan-kawanku di sekolah.

Karena faktor itu pulalah mungkin yang membuatku sulit berbaur dengan kawan-kawan dari kelompok berduit. Secara kebetulan pula, otakku biasa-biasa saja. Tidak encer dalam kategori pintar tapi tidak juga idiot. Sedang-sedanglah.

Tetapi, aku punya semangat tinggi. Meskipun aku hadir dari keluarga pas-pasan, aku tidak mau menyerah dengan kondisiku. Belajar sekuatnya dengan kemampuan. Tetapi, seperti yang kuceritakan tadi, kendala waktu selalu menjadi kerikil.

Kadang aku terlambat datang ke sekolah. Selalu ngantuk bahkan tertidur di kelas. Kondisi tersebut kujelaskan pada guruku. Semula cerita tersebut tidak dipercaya tapi ketika aku cekatan soal pertanian, para pendidik mulai memahami.

Guruku mendekatkanku dengan seorang teman sekelas. Namanya Lestari. Perempuan yang cantik dan pintar.

Terus terang, aku minder dengan Letari tapi anak orang terpandang itu meyakinkanku bahwa semua orang yang punya niat maju, berarti sudah mengantungi separo keberhasilan dari cita-citanya.

Karena Lestari pula aku jadi berusaha mengerjakan tugas-tugas sekolah. Padahal, selama ini, aku menyerah dan tidak mengerjakan PR dari guru karena waktu untuk belajar selalu kugunakan untuk tidur. (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru