Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Otniel dan Yonata Laoli Menyemangati Kehidupan Remaja dengan Nats

- Minggu, 29 Juni 2014 19:46 WIB
482 view
Otniel dan Yonata Laoli Menyemangati Kehidupan Remaja dengan Nats
SIB/ist
Otniel Samahao Laoli dalam satu acara gerejawi
Gunungsitoli (SIB)- Otniel Samahao Laoli dan Yonata Laoli mengabdikan hidupnya untuk menyemangati remaja sesuai ajaranNya. Bagi keduanya, iman, pengharapan dan kasih merupakan rangkaian kehidupan Kekristenan yang tidak mungkin terpisahkan. “Tidak mungkin orang Kristen hidup tanpa kasih dan tanpa pengharapan,” tandas Otniel, remaja yang meraih predikat terbaik pada Wisuda III Sekolah Tinggi Theologia Global Misi Jl  Pelita I 28 / 16 Medan Perjuangan - Medan, Kamis, (26/6).

Bagi putra pasangan Pdt Daniel S Laoli STh - Adn Larosa itu, secara umum agama adalah suatu sistem pengajaran moral yang diaplikasikan untuk mendekati penguasa tertinggi dengan cara melakukan upacara-upacara ritual guna memeroleh rasa aman (baca: selamat) dalam perlindungan penguasa tertinggi.

Memilih menjadi pelayanNya bukan karena titisan orangtua tapi tiba-tiba panggilan tersebut tak dapat ditolak.

Otniel lahir di Desa Sitardas, Badiri, Tapanuli Tengah pada 12 Oktober 1992. Menimba ilmu di SD Desa Hutabalang, Sibolga dan di SMP yang sama.

Melanjutkan pendidikan di SMK TI - Pelayaran, Sibolga. Tekad menjadi seorang pelaut ulung karena melihat kekayaan berlimpah di sekelilingnya. “Nias itu satu bagian terkaya di Indonesia yang belum dimaksimalkan,” kenang Otniel sambil mengatakan apalagi masa kecilnya dihabiskan di daerah pesisir yang kaya ikan. “Tapi panggilan mengatakan lain!”

Karena panggilan datang dan dilakoninya, Otniel ikut melayani di GPdI Efrata, Tapanuli Tengah. “Saya pikir, kalau saya selamat dan orang-orang di lingkungan tidak ikut, tak ada guna bagi rohani saya. Itulah alasan untuk melakukan sesuai panggilan,” tandasnya.

Sama halnya yang dilakukan Yonata Laoli. Pria kelahiran Hilimbowo, Inanoi, Gunungsitoli itu melayani di Gereja GPdI Jemaat Gema Kasih, Gunungsitoli. “Kehidupan remaja di Nias yang kini makin terbuka sangat dinamis tapi harus dibarengi dengan kehidupan Kristen yang baik,” tandas putra pasangan S Laoli (+) dan Natisa Laoli (+).

Menurutnya, sebutan Kristen ditujukan kepada mereka yang mengikut Kristus dan melakukan ajaran-ajaranNya. Keselamatan bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu gerbang kehidupan kekal. “Sesuai dalam nama Kristus pintu gerbang itu telah kita lalui dan sekarang kita hidup dalam perjalanan menuju kesempurnaan. Dengan kata lain kita kerjakan keselamatan kita sampai Tuhan Yesus datang kembali,” ujarnya mengutip nats Fil 2:12-18. “”Nats itulah yang menyemangati kehidupan siapa saja termasuk remaja yang hidupnyadinamis karena masuknya ragam informasi!” (r9/c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru