Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Curhat Rouli Fernando Manik, SMAn 2 Rantau Selatan, Rantauprapat

Oleh-oleh dan Doa untuk Nenek
- Minggu, 27 Juli 2014 11:39 WIB
236 view
Curhat Rouli Fernando Manik, SMAn 2 Rantau Selatan, Rantauprapat
Mau Idul Fitri.-  Sejak sepekan lalu, meskipun masih sekolah, pikiranku tertuju pada nenek semata wayang yang ada di kampung halamannya. Kukatakan di kampung halamannya karena orangtuaku punya kampung halaman sendiri.

Sedangkan nenekku tinggal di Ajamu, Kecamatan Panai Hulu, Labuhan Batu, Sumatera Utara.

Tempatnya asyik. Asri. Di sekeliling rumah bermandikan pohon-pohon buah. Aku pernah ke situ. Meski hanya sekali dan sekelak, tapi meninggalkan kenangan manis. Tidak seperti di sekitar tempatku tinggal saat ini, dikelilingi beton dengan rumah-rumah padat. Saking padatnya, untuk bernafas saja, susah.

Tetapi, yang jadi halangan, bagaimana kami seluruh keturunan nenek bisa ikut dan berbagi suka.

 Soalnya, ada satu kerabat yang tidak pernah mau diajak. Jangankan pergi, mendengar kata ke rumah nenek saja, sudah eneg dia. Mau muntahlah, katanya.

Kata ibuku, saudaranya itu punya riwayat tak suka dengan nenek. Sama halnya dengan nenekku. Konon, mereka tidak teguran. Yah... bagaimana mau bicara, gak pernah bertemu! Ahahaha... aku berseloroh tapi dimarah oleh ibuku. Katanya, pantang menyelorohkan hubungan tak baik orang lain, apalagi keluarga sendiri.

Aku selalu berbohong pada saudara ibu itu. Berbohong untuk baik. Kukatakan pada saudaraku tersebut bahwa nenek kirim salam. Tetapi, dikatakan demikian, saudaraku dimaksud justru marah. Tidak yakin. Dan mengumpat sendiri. Kadang aku jadi geram.

Suatu kali, pernah aku membawa lemang. Kubilang titipan nenek untuk saudara ibuku. Sudah jauh-jauh aku bawa, masih tak percaya. Memang, lemang itu bukan dari nenek. Maksudnya, untuk mencairkan kebekuan hatinya pada nenek.

Karena berkali-kali tetap tak percaya, aku cuma bisa berdoa. MengharapNya untuk membuka hati saudara ibuku untuk menyambung silaturahim. Aku juga berdoa kiranya nenek bersedia menghubungi sanak keluarganya guna menyatukan silaturahim yang kadung terputus.

Tetapi, mungkin doa tersebut belum didengarNya. Ya, bersabar sajalah. Niat baik pasti ada ujungnya.

Orang sabar kan kasihan Allah. Apalagi di hari baik bulan baik seperti sekarang ini.

Begitulah aku. Menyiapkan diri untuk ke tempat nenek. Aku sudah mengumpulkan uang membeli roti kacang kesukaan nenek. Kukatakan pada nenek bahwa ada titipan dari keluarganya. Nenek pun tak percaya denganku. Katanya, gak mungkin keluarganya yang kumaksudkan tersebut berhati mulia hingga mau nitip kue. Alasannya, nenek tahu persis watak keras hati keluarganya.

Aku jadi bingung. Kok hati nenek sama dengan perasaan famili ibuku. Sama-sama keras, sama-sama tidak mau mengalah.

Biarlah... karena yang penting adalah bagaimana aku dapat meyakinkan dan menunjukkan bahwa bisa menjadi mediator terbaik.

Sepekan sebelum pulang. Aku mendatangi keluarga ibuku. Kuberikan resep membuat rendang klio.

Kubilang, resep itu pemberian nenek biar bikin masakan lezat dan nikmat.

Meski famili ibu tidak percaya, tapi dipakainya juga resep  yang kukatakan dari nenek. Setelah rendang siap, aku memuji setinggi langit hasil masakan famili ibu dimaksud. Kukatakan juga, makanan itu harus kubawa untuk nenek sebagai oleh-oleh terindah.

Semula famili ibu tersebut mencegah tapi kubujuk-bujuk terus. Akhirnya bersedia memberi dan kuniatkan harus dinikmati nenek di kampung. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru