Aku menggeliat kecil di atas ranjang tidurku. Cahaya matahari pagi yang cerah seakan berlomba masuk ke dalam kamarku melalui jendela yang masih tertutup gorden. Kuhampiri jendela itu, ku buka gordennya dan juga kacanya. Tanpa diberi aba-aba, cahaya matahari menyeruak ke dalam. Perlahan angin segar pagi berhembus mengenai wajahku. Kurenggangkan sedikit tubuhku menghampiri udara pagi ini.
Wah.... begitu segarnya. Terima kasih Tuhan telah memberi udara pagi yang begitu menyegarkan.
Aku kembali teringat dengan kejadian kemarin. Rasanya seperti dipermalukan di depan umum saja. Insiden itu mungkin adalah ulang tahunku yang sangat memalukan dan yang paling menyedihkan. Coba saja kalian fikir satu teman saja tidak ada yang mau bicara dan dekat sama Yena yang imut dan manis ini.
Yah... mau bagaimana lagi sudah jadi resiko orang yang ulang tahun, mulai dari pelajaran Bahasa Inggris sampai pelajaran terakhir ini, olahraga, baru mau pukul bola voli mau gabung main semuanya pada kabur. Tinggal sendiri lagi deh... Sebelum pelajaran olahraga tidak sengaja jatuhin kaca mata orang yang paling cerewet dan satu-satunya cewek yang punya suaranya yang paling nyaring di jagat raya ini. Siapa lagi kalau bukan Uwit Tan. Dari waktu pelajaran seni budaya sampai bel istirahat. Capek banget dengar si cerewet ini gak mau diam. Terus saja ngomel-ngomel gak jelas. Kaca mata bukannya ada yang rusak tapi dia ribut terus. Yah tidak mau ambil pusing Yena diam saja.
Waktu mau pulang sekolah aku lupa kunci motorku kutaruh dimana. Bel pulang pun berbunyi. Aku belum menemukan kunci motorku terus aku tanya sama Uwit.
Bukannya dijawab malah pergi tidak mau bicara. Semuanya sudah pada pulang tinggal aku yang sendirian di sini nyariin kunci yang dari tadi tidak ketemu. Aku dah nyerah nyariinnya mau bagaimana lagi terpaksa deh motornya didorong.
Aku keluar dari kelas dan tiba-tiba disiram sama air yang warnanya biru. Sudah gitu dikasih tepung lagi. Basah kuyup deh. Dan semuanya bilang happy birthday Yena. Mau marah sama siapa? Yah senyum-senyum gak jelas deh jadinya. Setelah aku disiram sama mereka, mereka ngetawain aku karena aku seperti badut.
Dah gitu kunci yang aku cari-cari dari tadi ternyata ada sama si Uwit Tan yang suaranya nyaring banget dan bisa buat telinga yang di sampingnya pecah.
Tapi untung saja mereka tidak mecahin telur ke kepalaku. Kalau saja mereka lempar telur ini badan tinggal digoreng saja jadi ayam goreng siap saji.
Lagi enak-enaknya ngerayain ulang tahun aku, ketahuan deh sama guru piket kalau kami buat acara di area sekolah tanpa ada persetujuan dari guru yang piket hari itu. Mereka semua pada kabur tinggal aku sama Dinda, yang megangin tas aku dari tadi waktu mau disiram. Aku samperin saja ibu itu daripada masalahnya semakin panjang lebih baik diselesaikan sekarang saja, fikirku. Dari tadi dimarahin terus sama ibu piket, padahal kan bukan aku yang meminta ini semua terjadi.
“Kalau begitu besok kumpulkan teman-temanmu yang menyiram kamu tadi,†kata bu guru. “Baik Bu,†kataku. Aku pun pulang dengan baju yang basah kuyup.
Keesokan harinya aku panggil mereka agar menghadap guru piket yang kemarin katanya kita akan dapat hukuman karena buat acara tanpa permisi dulu dan katanya itu buang-buang uang karena pakai tepung nyiramnya kemarin.
Kami semua datang menghadap guru piket kemarin yang lagi duduk di ruang BP. “Bu ini mereka yang nyiram saya kemarin,†kataku.
“Baiklah,†kata Bu guru. Ternyata kami dikasih hukuman membawa 2 kg tepung per orang. Yang lain sih ok-ok saja tapi bagaimana dengan aku? Aku kan lagi tidak punya duit karena kiriman belum datang, tapi tidak apa-apa karena aku tinggal minta sama mereka saja karena mereka yang buat dan merekapun setuju.
Kami membawa tepung yang kami beli kemarin ke ruang BP. Karena tepung sebanyak itu tidak tau mau ditaruh di mana jadi ibu piket tersebut bertanya kepada Bapak TM. Ternyata Bapak TM marah hukuman tersebut tidak seharusnya diberikan kepada kami karena itu bisa memberatkan masing-masing siswa.
Dan keesokan harinya Bapak TM mengatakan bahwa tepung itu akan dikasih kepada pihak kantin dan dijadikan gorengan dan hasilnya akan diberikan kepada kami saat jam istirahat, katanya saat apel pagi dimulai. Satu lagi, katanya jangan pernah mubazir terhadap apapun termasuk bahan pangan.
Kami sih senang deh karena bapak guru kami yang paling baik masih membela kami dan sayang kepada kami dan itu akan selalu kami ingat di hati kami karena jasa setiap guru pasti akan membekas di hati sanubari masing-masing siswa ataupun murid tanpa memikirkan kembali hukuman yang ia berikan kepada kita dahulu.
Mungkin pada saat itulah hari ulang tahunku dirayakan oleh teman-temanku dan membawa sial untukku tetapi aku menyikapinya dengan hati yang senang dan bangga ternyata teman-temanku masih sayang terhadapku, saat aku ulang tahun mereka masih mengingatnya dan merayakan ulang tahunku yang ke-17 walaupun membawa kesialan terhadap mereka.
Ulang tahunku tersebut tidak akan pernah aku lupakan dan terima kasih kepada teman-temanku semuanya yang masih mengingat ulang tahunku.
Thank You So much guys. Yena tidak akan pernah lupakan kalian di manapun kalian berada.
***