Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Cerpen

Semilyar Tapi Setengah

*Karya: Juliana Savtri Harianja, SMA N4 P.Siantar
- Minggu, 10 Agustus 2014 11:25 WIB
520 view
Semilyar Tapi Setengah
Ku jelaskan.-  Setitik embun mengalir pasrah dari ruas rambut hijaunya. Mentari mulai berjalan. Berjalan di atas cakrawala. Sinarnya menembus celah-celah hijau. Tertebar senyum indah di wajah menawan. Sang pelahir warna hijau melambai. Bisikan merdu mengalir di kekosongan. Deruan angin yang sejuk membawa ketenangan. Ketenangan yang selalu ku dapat di sini. Jelas tertancap jejak kaki di atas pasir. Telusuri tempat jejak itu.  Sendiri ditengah hutan terbiasa olehku. Bertekuk di depan mereka dan menanam bayi-bayi mereka.

Seperti waktu yang selalu berubah. Suasana saat ini berubah menjadi hening. Hentakan kaki yang halus terdengar. Gelisah dan takut menghampiri. Bertanya pada lubuk hati, tapi mereka terdiam. Bisikan merdu, deruan angin dan daun yang melambai sirna. Pergi jauh entah ke mana. Kekosongan kembali mengisi setiap ruang waktu. Sentuhan lembut kurasakan saat aku menanam bayi-bayi mereka. Seseorang memegang pundakku. Mencoba mengajakku menghilangkan kekosongan ini.

"Permisi!" suara itu berasal dari belakangku.

"Ya. Ada apa?" menjawab suara samar itu dan berbalik.

Mataku terbelalak saat melihat matanya yang indah.

Detak jantungku terdengar sangat kencang. Melihat seorang lelaki tampan berdiri di depanku. Mata indah, wajah yang tampan dan senyum yang manis membuatku hanyut pada pandangan. Berbisik kecil pada mereka.

"Siapa pria ini?" penasaran menyelimuti pikiranku.

"Dia selalu datang bermain dan bercerita pada kami."

Suasana penuh dengan kekosongan. Mulut terkunci rapat. Keberanian hilang untuk memecahkan kekosongan.

 Kebetulan atau tidak, aku tidak tahu. Mereka menggodaku untuk bertanya padanya siapa dia. Mencoba mendekati dan menghilangkan kekosongan yang menyelimuti kami.

"Nama…" ucapan yang sama terlahir secara bersamaan dari mulut kami
"Kamu saja yang duluan." Menyuruhku untuk lebih dahulu.

"Nama kamu siapa?" kegugupan menghampiri saat bertanya padanya.

"Adi. Bagaimana denganmu?" santai menjawabku dan melontarkan pertanyaan yang sama padaku.

"Green." Menjawabnya.

"Nama yang indah dan cocok untuk seorang gadis yang sangat menyukai tumbuhan dan dunia hutan.

" Tersenyum indah padaku.

"Makasih." Membalasnya dengan senyuman kecil.

"Pasti orangtuamu sangat menyukai tumbuhan dan dunia hutan sehingga ia memberikan nama Green padamu."

Seperti detik yang selalu berubah. Mimic wajahku berubah menjadi kusam saat mendengar kata ayah pada kalimat yang ia ucapkan.

Perbuatan keji dan kotor yang selalu ia lakukan membuatku membenci lelaki setengah baya itu. Ayah yang dulu kubanggakan kini telah hilang. Sekarang ia tidak memperhatikanku bahkan peduli pada anaknya yang malang.

"Ayahku tidak menyukai tumbuhan dan hutan. Ia selalu menghancurkan mereka."

"Tapi…."
"Iya aku tahu. Perilakuku bertolak belakang darinya. Aku menyukai mereka karena mereka memberiku alasan agar aku tetap berjuang melawan musuh bebuyutanku. Musuh yang sangat ku takuti sejak 10 tahun yang lalu."

Kristal bening mengalir membasahi wajahku. Sehelai kain mencoba menghapus krital bening itu.

 Senyum indah tertebar di wajah yang tampan. Jantungku berdetak lebih kencang dan tidak mampu menatap mata indahnya.

"Aku harus pergi karena hari semakin gelap. Ayah pasti akan marah jika mengetahui aku berada di sini."

Tersenyum kecil padanya dan merelakan ia berada sendiri di tengah hutan. Pasrah melihatnya semakin jauh di pandanganku.

Berharap bertemu dia esok hari. Suara keras yang selalu kubenci. Orang yang sangat kubenci.

 Berharap ia tidak kembali.

Mataku menatap tajam padanya.

"Green, darimana kamu?" berteriak keras hingga rumah ini seperti kapal yang hancur.

"Tidak dari mana-mana." Tak mempedulikan kemarahannya.

"Apa kamu dari hutan lagi?" mencoba menghempaskan satu pukulan di pipiku.

"Lakukan jika ayah mau.

 Apakah kau pernah peduli padaku?

 Apakah kau pernah menganggapku anakmu?"

air bening pecah dan membasahi pipiku.

"Kamu!! Jangan datang ke hutan besok.

" Kembali mengeluarkan suara keras.

"Jangan melarangku untuk melakukan yang aku suka."

 Melawannya dengan penuh kebencian yang tersimpan.

"Jika kau pergi lagi aku akan memberimu….." kupotong pembicaraannya.

"Memberiku hukuman, memukulku atau mengusirku?

 Lakukan sesuka ayah aku tidak peduli.

" Beranjak meninggalkannya.

Bangkit dari posisi semula. Meninggalkannya duduk di sofa. Deruan air mata tak terhenti.

 Mengalir dan mengalir sampai membanjiri seluruh wajahku.

 Langkahku terhenti. Saat ia mendatangiku.

Rasa sakit yang menusuk ke dalam.

"Aaakkkhh, dadaku." Mencoba menyimpan rasa sakit
"Green,, Green kamu kenapa." Mendatangiku dan memastikan keadaaanku.

"Berhenti… dan jangan mencoba mengkhawatirkanku.

Aku bisa mengatasi masalahku sendiri."

 Melangkahkan kakiku menuju kamarku.

Dadaku terasa sakit.

 Sakit yang sangat mendalam.

Sakit yang tidak bisa ditahan lebih lama.

 Mencari obat itu.

 Terkulai lemas tak berdaya di atas sebuah kasur. Hanya mereka yang mampu menghilangkan rasa sakit di dadaku dan melupakan semua kejadian yang kulalui. Menangisi orang yang kubenci membuat mataku lelah. Katup mataku seakan ditarik untuk tertutup. Melawan tapi tak bisa hingga akhirnya mataku terpejam.
       ***

Pagi yang cerah. Kicauan burung yang nikmat di jari-jari mereka.

Hembusan angin yang sejuk. Lambaian sang pelahir hijau menemaniku di pagi ini.

Saat pagi selalu menghampiri dunia lelaki tua itu tak pernah menampakkan dirinya.

Bibi lah yang selalu kudapati seorang diri di dapur.

"Pagi, non Green. Sarapan sudah siap." Mengucapkan dengan suara yang letih.

"Terima kasih bibi."

"Kemana ia pergi, bi? Tanya ku
"Biasa, non Green? Menjawab ku lalu melanjutkan pekerjaan.

"Maksudnya, bibi? Penasaran menghampiri diriku.

"Pergi ke hutan, menebang kayu!" meninggalkanku di ruang makan sendiri.

Mendengar perkataannya wanita seakan ada sesuatu yang memeras jantungku.

Hembusan itu mengudara dengan terputus-putus. Mencoba menenangkan dengan beberapa pil. Sejenak ada yang melintas di benakku.

Ntah apa itu aku tidak mengerti.

***
Melangkahkan kedua kakiku menghampiri sahabat berceritaku.

Takut dan khawatir itulah yang ku dapat. Khawatir pada sahabatku, takut pada apa yang dilakukan lelaki setengah baya itu pada mereka.

Tak menghentikan langkahku.

 Berjalan tanpa berhenti. Hutan, merekalah tempat ku berbicara.

 Tempatku bermain dan tertawa riang.

Hutan adalah jantungku.

 Mereka selalu memulihkanku dari penyakit ini.

Mereka membuatku tersenyum kembali pada dunia yang kecil ini.

Mereka memberiku banyak alasan untuk memerangi musuhku.

Langkah kaki perlahan melemah. Dada terasa sakit.

Langkahku berhenti ditengah mereka.

Hancur itulah saat ini yang mereka alami.

Bertekuk ditengah kehancuran.

Suara teriakan menembus putihnya awan hingga tak terdengar. 

"Tidakkk……"
Deruan air membasahi wajahku.

Jiwaku seakan mati melihat mereka hancur tak berdaya.

Nadiku seakan ingin berhenti.

 Detak jantungku melemah.

 Dadaku terasa sakit.

Udara yang terhirup menyakiti dada dan jantungku. Musuh itu kembali menghampiri.

 Jeritan keras tak ada yang mendengar.

Terkulai pasrah dan tak berdaya. Berharap seorang malaikat menolongku.

Sosok pria menolongku.

 Tapi, mataku samar dan tidak mengetahui siapa dia.

 Terbangun dari tidurku yang lama.

 Melihat dengan mataku yang bernanah seorang lelaki setengah baya berada disampingku.

Hati merasakan senang walau masih tersimpan dendam saat ia menghampiriku.

Terlihat samar matanya penuh dengan linangan air bening.

"Green, kamu sudah bangun?" kekhawatiran tampak di wajahnya.

"Iya, ayah." Menjawabnya dengan suara kecil.

"Syukurlah."

"Ayah, ingatkah ayah kapan aku lahir?" berharap ia mengetahuinya.

"12 Maret." Menatapnya dengan wajah kusam.

"Salah. Aku terlahir kedunia ini pada tanggal 13 Maret.

" Dengan lemas menjelaskan padanya.

"Beda satu saja." Tak merasa bersalah padaku.

"Tahukah ayah berapa hari dalam satu tahun?"

"Satu tahun 365hari." Menjawabku dengan optimis.

"Tiga ratus enam puluh lima hari dikali dengan sepuluh tahun, sebanyak itulah aku merasakan kesepian yang mendalam dan tidak merasakan bagaimana rasanya kasih sayang yang diberikan seorang ayah pada putrinya.

 Sebanyak itu jugalah aku hanya bersahabat dengan mereka"

Menatapnya dengan kedua mataku yang bernanah.

"Green, apa maksud dari mereka?"bertanya-tanya padaku.

"Mereka adalah, hutan yang kau hancurkan dengan tangan kasarmu.

Mereka selalu memberiku alasan untuk tetap berjuang melawan musuh bebuyutanku. Ingin aku berbicara padamu tapi, kau selalu sibuk dengan perbuatan kejimu yang menghancurkan sahabat-sahabatku." Kantung mataku terasa dipenuhi oleh genangan air

Katup mataku sangat berat.

 Tak mampu ku menahan kristal bening ini.

 Gumpalan kristal bening itu pecah dan mulai membasahi pipiku.

Tangannya yang kasar mencoba menghapus aliran air yang membanjiriku.

Tampak senyum kecil di wajahnya. Memeluk tubuhku yang lemas dengan pelukan yang memberiku kehangatan.

"Ayah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Green.

 Sekarang pekerjaan keji dan kotor ini adalah bagian dari hidup ayah.

Jika ayah berhenti menebang pohon-pohon ini bagaimana kita bisa mendapatkan uang dan bertahan untuk hidup."  

"Ayah,,, Ayah tidak perlu berubah. Biarkanlah cara yang mengubahnya." Menatapku dengan mata yang tidak mengerti.

"Apa maksud perkataanmu, nak?" masih tak mengerti.

"Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, saat ayah menebang mereka.

Tapi biarkanlah ayah yang berbuat, bukan ayah yang membalas kebaikan mereka.

" Menjelaskan padanya.

"Tapi, bagaimana caranya Green?" bertanya padaku dengan penuh rasa penasaran.

"Ketika ayah menebang pohon-pohon itu, ayah harus menanam anak-anak mereka kembali.

" Menjelaskan secara rinci pada ayahku.

"Tapi Green, ayah hanya seorang diri sedangkan pohon yang ayah tebang sudah milyaran," ucap ayahku dengan perasaan sedih.

"Ayah tidak sendiri menanam bayi-bayi mereka, ada aku yang selalu menemani ayah. Tenang saja ayah." Memberi kepercayaan padanya. (f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru