Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026
Curhat

Curhat Rika Handayani, SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat

- Minggu, 24 Agustus 2014 11:42 WIB
268 view
Curhat Rika Handayani, SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat
Bolehkah Pacaran di Perpustakaan

Kali ini aku dimarahin kayak koor gabungan. Kalau kemaren abangku, Dika, marah karena aku lama pulang dari sekolah, sekarang adikku, Maya ikut berang. Sebelumnya, adikku yang lain, Rangga, ngamuk. Hari ini, ketiganya bernada tinggi menanyaiku dari mana.

Bang Dika membentakku. Kasar. Maya dan Rangga ikut-ikutan menuduhku pacaran. Sudah kubilang, aku lama pulang karena mencari bahan-bahan pelajaran di perpustakaan tapi ketiganya tidak percaya. Ironinya, abang dan adikku menuduh aku pacaran di perpustakaan.

Aduuuh...siapalah yang mau sama aku. Kulitku gelap. Sudahlah hitam, kurang pergaulan lagi. Wajahku tak manis apalagi baby face. Sudahlah jelek, gak pernah masuk te-ve pula. Kalau di sosmed, sih oke... tapi tak pernah jadi trending topic. Namun ya itu tadi... tetap saja kerabatku tersebut tak percaya.
Yang paling menyakitkan, aku dituduh kegatalan. Duhai, hampir copot jantungku ketika aku dituduh seperti yang dalam sinetron-sinetron itu, bisa berbadan dua tanpa suami.

Sudahlah, tak usah memperpanjang omelan mereka karena pasti membikinku makin sakit hati.

Suatu kali, Bang Dika mencari tahu aku. Dijebaknya aku sedang di perpustakan. Saat itu aku memang sedang berbincang serius dengan pria idamanku. Maksudnya, idaman intelektual ya.

Begitu melihat aku dengan seorang pria, Bang Dika marah-marah dari kejauhan. Saking kerasnya suaranya, seperti perpustakaan mau dirubuhkannya. Sampai seisi ruang baca menatap ke arahku. Bahkan sekuriti yang di pos depan, berlari tergopoh-gopoh mendekatiku.

Bang Dika memaksaku pulang dengannya. Sekarang juga. Aku keberatan. Soalnya, pria idamanku itu aku yang mengajaknya ke perpustakaan. Namun, sebab khawatir terjadi yang tidak enak, aku minta izin dan bermohon maaf pada si cowok untuk meninggalkannya di perpustakaan karena harus mengikuti perintah pulang dengan Bang Dika.

Sepanjang jalan, abangku itu terus merepet seperti senjata memuntahkan peluru kayak film Rambo yang dibintangi Sylvester Stallone. Sampai di rumah, koor mengamuk pun dinyanyikan padaku lagi.

Yang paling dibenci mereka, aku berteman dengan cowok bule. Katanya, seleraku sudah seperti orang tak beradab, tak tahu budaya leluhur. Karena aku ngotot juga, mereka senada bilang tidak boleh dan jangan sampai mengulangi lagi!

Ancaman terakhir pun disampaikan ibuku. Jika aku masih melakukan perbuatan itu, aku disanksi dimasukkan sekolah asrama di kampung nenek di pelosok.
Tetapi, karena apa yang kulakukan tidak seperti yang dituduhkan, aku bertahan dengan kebiasaanku sepulang sekolah. Ke perpustakaan. Hanya saja, kalau biasanya sampai jam lima sore, sejak kejadian itu maksimal paling 2 jam saja tapi tetap bersama cowok bule.
Rupanya, Bang Dika masih penasaran hingga mengikuti langkahku sepulang sekolah. Setelah mengintai, diam-diam ditariknya aku dan diperintahkannya untuk pulang.

Sampai di rumah, ibu dan adik-adikku sudah memasang muka ketat. Aku jawab seperti apa yang pernah kusampaikan bahwa aku berteman dengan cowok bule tak lain cuma ingin memperlancar pemahaman bahasa Inggris.

Buktinya, aku lebih mampu memahami bahasa dunia itu ketimbang kawan-kawan di sekolah. Apalagi dengan Bang Dika dan adik-adikku. (d)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru