Aku- di tempat ini lagi. Entah apa yang membawaku ke sini. Mungkin rindu. Iya! Aku rindu. Terlebih ketika aku melihatmu tersenyum dengan pria lain di tepi danau. Iya! Aku tahu siapa pria itu, tapi tetap saja aku masih tidak bisa melepasmu bersama pria lain. Entahlah! Mungkin aku masih mencintaimu. Iya! Aku Cinta dan takut kehilanganmu dengan cara apapun.
Kamu ingat senja di bulan kedua setahun yang lalu? Ada kita di tepi danau ini. Iya, saat itu kita sedang mandi dan berenang di danau ini, Danau Toba.
Memoriku berputar lagi, kembali ke masa itu, bulan kedua setahun yang lalu. Aku menggenggam tanganmu erat. Entah untuk melindungimu dari debur ombak yang pasang surut atau hanya sekadar genggaman tangan dari seorang kekasih. Aku tak tahu, namun lagi-lagi jantungku berdetak seperti pelari marathon yang kelelahan mengitari stadion. Jemariku terasa pas di sana, mengisi sela jemarimu dengan sempurna, tak ada cela.
Sesekali aku menoleh ke arahmu, mencari tahu, menerka, mengerahkan seluruh kemampuan yang kupunya, berharap menemukan yang bisa kujadikan pertanda bahwa kamu juga merasakan hal yang sama. Ini adalah momen termanis yang pernah ada.
Saat tatapan kita bertemu masih saja kita salah tingkah. Kau sibuk, entah pura-pura sibuk dengan potongan-potongan terakhir Grilled Crab-mu, sesekali menyeruput Ice Lemon Tea-mu. Kemudian kau alihkan pandang pada luruhnya debur ombak yang membelai tepian danau.
Sementara aku memilih asyik dengan kopi hitamku. Juga menyulut sebatang mild lalu kembali mencuri pandang pada rambutmu yang dipermainkan hembus angin.
"Bang Rian, janganbanyak-banyak..," terngiang suara merdu itu. Itu cegahmu, saat aku hendak menyulut lagi dalam waktu kurang dari setengah jam, kau selalu dengan lembut mengambil alih sebatang rokok yang sudah terselip di bibirku.
Sekian detik lamunanku menerawang pada masa setahun yang terlewatkan. Makan malam berdua yang penuh keceriaan.
Saat kami masih sama-sama merintis karir sebagai staf di perusahaan yang sama di kabupaten ini.
Seringkali kami hanya menikmati hidangan ikan mujahir panggang Samosir di keramba. Sembari menanti sunset hingga bergantinya senja menjadi malam. Perputaran hari yang seringkali seperti berlari dan kami adalah pemuda pemudi yang tertatih mengikuti.
Tapi sungguh, dalam kesederhanaan itu cinta kami tumbuh.
Cinta yang membawa kami pada harapan-harapan lugu seperti apa adanya. Menghiasi hampir seluruh percakapan kami di sela menikmati hidangan. Berseling canda, tawa, juga rajuk manjanya. Selalu berbinar mata indahnya setiap kali kami berbicara tentang angan dan cita-cita berdua.
Tentang berumahtangga, berapa saja tabungan yang akan kami kumpulkan untuk melangsungkan pernikahan, dan tentu saja mimpi-mimpi kami untuk berbulan madu di PulauDewata.
Namun segala angan kami itu telah pupus dan bagai terdampar di tepian danau gersang. Setelah timbul tenggelam diombang-ambing oleh terpaan gelombang kebimbangan. Perjalanan tak semudah yang kami kira. Terantuk kerikil dan batu-batu terjal yang membuat telapak kaki kami berdarah-darah. Di sana ada kerikil-kerikil penghalang, dari benturan budaya kedua orang tua kami, begitu pun sulitnya kami mengendalikan kerasnya hati untuk berdamai. Pertengkaran demi pertengkaran sering tak selesai dengan pasti.
Demikian juga saat kehadiran rasa saling cemburu berkuasa karena mulai datangnya peran pihak ketiga.
Cinta yang sesungguhnya masih ada tak mampu juga untuk membuat kami tetap menantang segala badai.
Kami menyerah. Kami lelah. Dan kami pun berpisah.
Begitu parahnya luka yang kami derita membuat kehendak untuk membunuh rasa cinta itu menjadi pilihan utama. Erna, yah…, Erna, wanita yang ada di depan kusekarang ini, dahulu dengan segera menerima tawaran untuk berpisah. Dia ingin segera melupakanaku.
Dan aku pun ingin segera melupakannya. Hasilnya? Kuakui, sia-sia bagiku, karena aku tak mampu melupakannya.
Namun Erna tlah berhasil melupakanku, dia benar-benar tak lagi menganggapku siapa-siapa. Bukan mantan kekasihnya.
Dia sanggup membunuh dan melupakan cinta yang dulu pernah ada. Tapi, bukankah itu adalah sikap yang benar?
Akusaja yang sungguh bodoh, sekian lama masih saja terjebak dalam jurang rasa.
Sering kali aku menggugat diriku sendiri yang tidak konsisten dalam komitmen rasa.
Bukankah dahulu sejak kami memutuskan untuk berpisah, masing-masing berkeras hati untuk saling melupakan? Lalu, mengapa selama ini aku masih saja memelihara harapan? Lalu kecewa dengan Erna yang tlah jadi milik orang lain? Padahal sikap Erna itulah sesungguhnya yang harus dilakukan.
Aku telah tidak adil dalam menilainya.
Walau aku harus menghela nafasku dengan berat. Sekarang, aku harus lebih bersungguh-sungguh berusaha untuk menerima kenyataan. Menata hatiku dan kuatkan raga melihatnya bersama pria lain berenang di danau ini.
Jangan sampai Erna tahu kalau selama ini ternyata aku masih menyimpan semuanya di dada.
Bukan.
Bukan sekadar menutupi rasa malu ini jika itu terjadi. Tapi dari lubuk terdalam pun muncul keinginan agar semua ini tak mengganggu kenyamanan hidup Erna yang pasti telah meniti kebahagiaannya sendiri sekarang.
Aku harus menghapus ingatan tentang kita yang menghabiskan senja hingga nyaris malam dengan balutan sendu.
Tentang bunyi langkah kita di bayang temaram lampu jalan.
Tentang cinta yang bersembunyi di balik keheningan juga pelukmu sebagai isyarat perpisahan.
Aku harus meretas "kita" menjadi sekadar "aku" dan "kamu".
Dan kini aku menulisnya agar kau tak lupa bahwa pernah ada kita di sana, di satu sendu senja beberapa jam sebelum kau memilih untuk berpisah.
(d)