Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
CURHAT

Jauh dari Ayah

Julfahri - SMAN 2 Rantau Selatan
Redaksi - Minggu, 21 Juni 2020 18:00 WIB
356 view
Jauh dari Ayah
IDN Times
Ilustrasi
Ini cerita waktu masih di sekolah. Aku masuk dalam kelompok yang tak suka dengan penjilat. Ada kawan di kelas yang suka ambil muka.

Sedikit sedikit, melapor. Termasuk ketika Guru Matematika tidak hadir. Biasanya, begitu bel berbunyi, langsung berdiri di depan kelas hingga tak ada kesempatan semenit pun untuk bersantai. Kali ini, sudah lima menit, tak juga muncul.

Mula-mula di kelas bisik-bisik dan lama kelamaan riuh. Ada aja ulah kawan-kawan bikin ketawa. Saking ributnya, petinggi sekolah datang dan kami terdiam.

Tetapi ada satu dari anggota kelas melaporkan siapa-siapa yang bikin ulah hingga ribut. Entah mengapa, tiba-tiba Guru BP memanggil aku, Robert, Ardian, Halomoan, Debi, Rifaldi dan Bayu Anggara untuk menghadap ke kantor.

Begitu sampai, kami dipermudah duduk. Diajak ngobrol bahkan ketawa tapi di tengahnya kami didakwa membuat ribut di kelas hingga lokal lain terganggu. Kami dihukum kerja sosial. Membersihkan WC.

Ya, ampyuuun... kan ada OB yang digaji? Kenapa tugasnya dialihkan ke kami. Sambil bersungut-sungut perintah dikerjakan tapi kami penasaran siapa yang melapor hingga Guru BP tahu persis siapa yang recok.

Selidik punya selidik kami tahu orangnya. Siapa lagi kalau bukan orang yang suka ambil muka itu. Aku ingin membalas tapi tak tahu. Paling cuma menyindir.

Ayahku tahu proses tersebut. Ia menasihatiku, jangan culas pada orang lain. Lebih baik bersyukur atas laporannya karena dapat mengubah perilaku. Tetapi aku tak puas. Ingin membalas.

Ayah memintaku berbuat elegan. Idenya, bikinlah pemilihan ketua kelas. Ketua kelas tentu dapat mengatasi persoalan hingga yang suka ambil muda tak dapat berbuat.

Benar juga, ya. Aku mengumpulkan kawan-kawan untuk memilih ketua kelas. Eh... si penjilat maju pula mencalonkan. Ia didukung guru. Kami pun cari strategi, mengompaki seluruh anggota untuk memilih kawan yang dapat memahami gejolak remaja. Tetapi, guru pun terang-terangkan mengarahkan dukungan. Ketika pemilihan, kelompok kami menag tipis.
Strategi ayahku, memang hebat. (p)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru