Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
curhat Haxpo Jhony Sinambela, Alumni SMK Pemda Rantauprapat

Tupa Do I Sude, Inong

- Minggu, 31 Agustus 2014 14:41 WIB
614 view
Aku-  terlahir dari keluarga yang beruntung. Ayahku punya tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Ibuku bahagia memiliki enam anak yang mampu diarahkannya sesuai rancangannya. Tetapi, ketika ayahku menghadapNya, kehidupan jadi tak menentu. Bumi seperti berhenti berputar. Hitam. Gelap buat langkahku.

Ibuku mengambil tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga plus ibu suri. Saat orang masih tertidur lelap, perempuan yang melahirkanku itu sudah bergegas ke pasar.

Seorang diri ibu meniti dini hari, sebelum ayam berkokok. Tak peduli dingin dan kantuk masih menyerang. Bahkan hujan sederas apapun diterobosnya. Siang hari baru pulang. Tetapi, ketika anak-anaknya pulang sekolah, semua sudah terhidang di meja.

Bukan sekadar ada nasi dan lauk tapi memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna. Seperti di sinetronlah. Jika di meja makan ada buah-buahan, di rumah kami pun tersedia. Bedanya, ibuku tidak memprioritaskan buah impor yang kadang demi pengawetan mengandung formalin atau lilin yagn membahayakan kesehatan. Ibuku lebih memilih buah dengan pupuk organik dan menjauhi makanan yang mengandung pestisida.

Aku heran. Entah dari mana pengetahuannya tapi semua dapat diuraikannya. Misalnya, jambu biji yang besar-besar itu mengandung pupuk kimiawi yang kadar gizinya minim. Tetapi, jika tiung lebih berguna karena dapat menambah darah secara alami. Termasuk sirsak.

Selain itu, kebutuhan anak-anaknya yang bejibun, terlengkapi. Kalau aku meminta sesuatu yang harus diadakan dengan uang banyak, aku selalu bertanya dari mana uang ibu. Jawabannya selalu sama: “Tupa do i sude.” Artinya, semua akan terpenuhi.

Itu pula yang membuatku terbiasa meminta apa saja yang kumaui. Apalagi posisiku sebagai anak bungsu.

Aku memang mendapat perhatian istimewa ketimbang kakak dan abang. Misalnya, soal kerjaan rumah, aku jarang dapat perintah. Tetapi bagian makanan, aku paling banyak dapat. Soalnya, porsi untuk ibuku kadang diberikan juga padaku.

Sama seperti ketika aku meminta sekolah untuk melanjut ke SMA. Ibuku langsung mengiyakan dan mengkostkanku di rumah uda di Rantauprapat, Labuhanbatu.

Tinggal di kota membuatku terbawa pada pergaulan metropolitan. Hidupku jadi sesuka dan sekehendak hati. Bahkan, demi memenuhi keinginan hura-hura, uang sekolah ikut kupakai. Kejadian itu membuat pihak sekolah murka.

Bukan sekali dua kali ibuku dipanggil guna perbaikan perangaiku. Sampai-sampai ibuku murka dan mengultimatum aku tidak perlu sekolah dan harus kembali ke kampung membantunya. Tetapi, semua hanya di bibirnya saja sebab ibuku ingin anaknya sekolah.

Tetapi, tatkala masuk kembali ke lembaga menuntut ilmu, kelakuanku terulang lagi. Ibuku dipanggil lagi dan pihak sekolah harus mengeluarkanku dari institusi yang diidam-idamkan remaja di kota ini. Soalnya, jika menjadi pelajar di sekolah tempatku menimba ilmu, berarti siswa pintar, terpandang!

Karena sikapku, ibuku down. Sakit. Dokter dan orang pintar tak tahu apa penyakitnya tapi fisiknya makin lemah. Suatu waktu, ketika aku tidur di sampingnya, ibu bilang tidak ingin menutup mata selamanya sebelum aku sukses seperti abang dan kakakku. Ibuku pesan agar aku berubah sikap dan fokus pelajaran. Harapannya, aku meninggalkan kejahatan selama ini.

Untuk pertama kali sejak kematian ayahku, kali inilah aku menangis sejadinya. Berarti, ibu sakit karena aku dan obatnya ada padaku. Saat itu  juga aku berlutut memintaNya menuntunku. Memeluk ibuku dan membisikkan tekadku sambil meminta restunya.

Sambil meninggalkan ibu yang mulai renta dan tulangnya yang tak sekokoh dulu, aku bertekad melakukan yang terbaik untuk orang yang paling kukasihi di bumi ini. Jika dulu ibu yang bilang Tupa do i sude sekarang harus aku yang mengatakan: “Tupa do i sude, Inong!” (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru