Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Cerpen

Pohon Tujuh Hari

*Karya : Thom Chadwick Panjaitan, SMP Negeri 3 Sei Binjai
- Minggu, 02 November 2014 15:36 WIB
341 view
Bukan - main gelisahnya hatiku, bila malam mulai menyapa jagad. Kegelapan berpadu dengan suara satwa malam yang sangat asing di gendang pendengaranku. Dalam kepekatan malam, aku merenung betapa pedihnya kehidupan di sini. Bayangkan ! Dalam usia bangsa yang mulai uzur masa merdeka, ternyata mereka belum menikmati arti merdeka. Entah apa yang membuat, keadilan tidak sampai di sini. Hingga mereka begitu asyik menikmati malam tanpa listrik.

Tidak heran, dari banyaknya kendala, kegelapan malam lah yang menyebabkan banyak guru tidak betah bertugas di sini. Barangkali saya juga akan seperti mereka. Baru dua bulan, rasanya saya sudah dua tahun. Tapi, kasihan juga jika semua guru enggan betah di sini. Lalu siapa yang akan mengajari mereka? Kasihan kan?

“A...u...u...u...ng!,” suara serigala di kejauhan melipatgandakan rasa takutku. Aku melompat dari tempat tidur yang sudah mulai goyang. Seketika angin berhembus, menghentikan cahaya dian.

“Brak...!” jidatku berciuman dengan pintu kamar. Aku meringis lalu tertatih menuju kamar Opung Doli pemilik rumah.

“Takut ya pak Guru?,” Opung Doli terkejut karena ketidaksopananku mengganggu tidurnya.

“Ya sudah! kita tidur sama!,”
“Suara apa itu Opung?” tanyaku, saat serigala itu menjerit ketiga kali.

“Suara anjing yang lagi ditunggangi begu ganjang!,”
Mendengar kedua kata terakhir, refleks aku memeluk Opung Doli. Aroma tuanya yang sebenarnya menusuk hidung tidak kuhiraukan lagi.

“Begu ganjang hendak ke pohon tujuh hari,”
“Jadi dia menaiki anjing yang kebetulan menuju arah yang sama!,”
“Pohon tujuh hari?,” volume suaraku sekecil mungkin. Takutku membuncah.

“Begu ganjang suka bergentayangan di pohon tersebut!,”
“Pohon apa itu?”
“Pohon tujuh hari!” Opung Doli tidak tahu nama tumbuhan itu dalam bahasa Indonesia.

“Tidurlah pak Guru, besok saja kita teruskan cerita ini,” Opung Doli menyelimuti badannya yang lagi telentang.

Aku semakin ngeri melihatnya karena mirip mayat. Lalu menutupi badannya dengan lage*.

 Penduduk di sini terbiasa tidur dengan metode seperti itu untuk mengurangi dingin. Mau tidak mau saya harus seperti itu.

Malam ini mataku, susah dipicingkan. Pohon tujuh hari sebuah misteri baru dalam daftar pekerjaan rumah di daerah ini.

***
“Pak guru!,”
“Pak guru!,”
Teriakan anak-anak dari halaman rumah.

“Bagaimana kita hidup? Sedangkan tumbuhan saja tidak bisa tumbuh!,” Opung menegaskan.

“Dari indikator tujuh hari inilah maka dibuat istilah “pohon tujuh hari!,” Aku mengangguk-angguk.

Kagum akan kepintaran nenek moyang. Padahal mereka tidak mengecap dunia pendidikan formal.

“Oleh sebab itulah, pohon ini dikeramatkan penduduk. Tidak boleh ditebang.

Bagi yang mau meminta sesuatu pohon ini akan disembah dengan membawa sesajen.

“Besok kami akan membawa sesajen ke sini!,” ucap Rasta.

“O..ya? Kamu mau minta apa pada pohon ini?,” tanyaku tidak sabar.

“Rahasia pak guru. Kalau penasaran bapak guru ikut ya?,” sambung Malem.

Kami beranjak dari tempat “keramat itu”. Petang belum sempurna. Namun kegelapan mulai hadir di desa itu.

Karena mentari terhalang oleh pegunungan yang memagari desa terpencil itu. Hawa dingin terasa mulai menusuk pori.

***
Usai memberi jam pelajaran tambahan sore, kami berempat menuju pohon tujuh hari. Ukur membawa kuntum bunga dan sirih.

Wajah mereka begitu tegang. Sementara saya agak gemetaran. Ini pertama sekali saya melihat langsung.

“Mereka bertiga duduk bersila lalu mulai mengucapkan sesuatu yang tidak jelas. Semakin lama aku mengamati mulut mereka.

“O...opung mulai jadi na bolon... kami mohon agar bapak guru yang baru ini tidak pindah dari desa ini!,” suara mereka kompak.

Aku terkejut. Mengapa namaku dikaitkan dengan pohon tujuh hari ini.

“Gimana pak guru? Sudah tahu apa yang kami minta kan?” tanya Ukur. Aku tersenyum. Begitu polosnya hati mereka.

“Pak Guru berjanji akan tetap mengajar kalian dengan satu syarat...!,”

“Syarat apa itu? Kami bersedia mengabulkannya!,”

“Nanti tengah malam, kita kembali ke pohon ini!,” tantangku geli. Mereka protes tidak setuju. Alasan takut sama begu ganjang.

“Gimana kalau diganti dengan memasak trites?,” usul Rasta.
Aku menggeleng. Keinginan saya untuk membuktikan apakah ada begu itu. Tawaran itu tidak mereka kabulkan.
***
Sore ini saya berencana mencoba menyibak rahasia dibalik pohon keramat itu. Seperti biasa, dengan keberanian yang telah kutabung dua bulan. Sesajen yang aku ramu sendiri kugenggam dengan erat. Memasuki areal pohon dadaku berdegub kencang. Angin sore mempermainkan juntaian akar gantung yang mulai mencium bibir tanah. Di akar-akar inilah sang begu itu bergentayangan. Beberapa akar yang gantung telah menumbuhkan tunas setelah menancap lama di tanah. Sungguh tumbuhan ini penuh keistimewaan.

Saat hendak bersila, aku mendengar suara ranting patah terpijak. Daun-daun bersentuhan diterpa angin. Rasa takut kuusir dengan menarik napas.

“Ada apa?,” sahutku dari jendela setelah aku melap wajahku dengan kedua telapak tangan. Mana tahu ada kotoran mata yang keluar selama tidur siang tadi.

“Kami membawa makanan untuk pak guru?” ucap mereka sambil menaiki anak tangga yang berjumlah ganjil. Sungguh saya terenyuh melihat ketulusan mereka. Rasa perduli yang tergolong langkah saat ini. Dengan tertatih Malem, Ukur dan Rasta menjinjing periuk.

“Ini makanan enak pak guru!”
“Berkhasiat lagi!” mereka bertiga berlomba mempromosikan makanan yang mereka bawa. Aku tersenyum geli, apalagi bahasa mereka yang masih janggal bahasa Indonesia.

“Wah...kalian memang anak yang baik!” pujiku
“Tapi...”
“Tapi...apa?” Rasta tersenyum
“Nilai kami nanti ditambahi ya?”
Kami berempat tertawa.

“Bukalah pak guru!” tawar Malem tidak sabar.

“A...u...u...k...! Perutku mual saat periuk itu menyumbulkan aroma tidak sedap.

“Kalian kok teganya memberi ini pada bapak?” aku bangkit menjauhi makanan aneh tersebut. Wajah mereka bertiga pucat, karena aku emosi.

“Ini bukan makanan,” aku menutup hidung lalu melongok ke isi periuk. Warna kehijauan beraroma busuk seolah ingin menumpahkan seluruh isi perutku.

“Ada apa?” tanya Opung Doli yang baru sampai di rumah.

Opung heran setelah mencium aroma sesuatu.

“Pak guru...ini makanan tradisional di desa ini. Namanya trites!”
Aku bergidik saat Opung memakannya.

“Cobalah pak guru...rasanya enak, anak-anak ini tidak mungkin menipu”
“Jadi... ini makanan?”

Opung lalu menjelaskan nama makanan itu dan terbuat dari apa. Bahkan khasiatnya yang luar biasa membuat aku harus mencobanya.
“Maafkan pak guru ya?”

Ketiga anak yang baik itu mengembangkan senyum.
Usai menikmati trites, bersama Opung kami berlima menuju pohon misterius itu.
“Ini dia...pak guru!” tunjuk mereka pada sebuah pohon besar di pinggiran desa. Aku tidak begitu terkejut, karena pohon itu sudah sering saya lihat.
“Ini namanya beringin!”
“Pak guru tahu?”

“Yeah...anak kecil pun tahu ini beringin!”
Aku mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Di bawah rimbunan pohon tujuh hari, saya melihat banyak sesajen. Dan teringat dengan suara longlongan anjing tengah malam.

“Penunggunya harus diberi makan!” opung mulai bercerita. Pohon ini adalah lambang kemakmuran dan juga sumber kehidupan. Pada zaman dahulu saat nenek moyang orang Batak nomaden, pohon inilah indicator bagi mereka untuk menempati suatu daerah. Mereka terlebih dahulu menanam pohon ini. Jika dalam tujuh hari tidak tumbuh, maka daerah itu tidak cocok untuk ditempati. Tanah itu berarti tidak subur.

Sebuah bayang mendekat ke arah pohon. Getar hati berkecamuk saat ku toleh sosok bergaun putih rambut terurai dimainkan angin. Kutebar sesajen. Saat mataku mau merapat. Sebuah tangan hinggap di pundakku.

Desiran angin berpadu dengan suara aneh katak yang ada di pancuran dekat pohon tujuh hari itu. Dadaku tiba-tiba sesak akibat hipoksia.

“Ayo...ucapkan keinginanmu...cepat!” belahan hatiku mendesak bibirku untuk berucap. Namun aku tidak mampu.

“Bra...a..k...!,” sebuah ranting terjatuh usai kuucapkan permohonanku.

“H...a...i...sedang apa di sini?” aku terkejut. Sosok itu telah jelas di depan mataku.

“Maaf saya dari tadi membuntutimu...!”
“Saya bidan desa di sini!” ucapnya panjang lebar aku belum bisa menenangkan hati. Makanya saya banyak diam.

“Untuk apa ke mari?”
“Ini sudah sore... tidak enak sama penduduk...!”

“Kalau sedang mengunjungi pohon ini, mereka maklum!” Ternyata dia juga percaya pohon tujuh hari ini.

“Ini adalah pohon kemakmuran. Saya juga ingin makmur dalam hal “percintaan”, ucapnya pelan.

Sebenarnya aku ingin membiarkan dia sendiri bertapa. Tapi tiba-tiba dia merengek manja.

Sudah setahun saya mengabdi. Bersama bidan desa, kucoba membentangkan tali kasih. Karena sama sepenanggungan kami akhirnya menyatu. Ini juga yang akan membuat kami akan tetap bertahan mengabdi di desa itu.

Terima mkasih pohon  tujuh hari. (f)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru