Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat Mulia P Dalimunthe, SMAN 4 Pematangsiantar

Aku Tak Bisa Berterus Terang

- Minggu, 09 November 2014 16:36 WIB
291 view
Selamat jalan kasih
Semoga engkau di sana bahagia
Walaupun maut merenggut kebersamaan
Cinta tidak berkhianat
Selagi nafas masih bernada

Aku cuma bisa menulis bait pendek tersebut. Padahal, banyak sekali kisah yang hendak kutoreh. Rasa sakit membungkam kemauanku menumpahkan keluh kesah. Sungguh, sakitnya alang kepalang menikam, sakitnya tuh itu di sini.
Dia kupanggil Ida. Namanya sebenarnya Parida Oetari Retno Marutiningsih. Sepanjang dan secantik namanya, sedemikian cantiknya, bahkan Ida mulia di mataku.
Mungkin karena keluwesannya itulah membuat tak sedikit pria di sekolah kami menyeksamainya. Ida tak hanya layak diperhatikan secara detil tapi harus dikagumi. Bila ada cowok yang tidak naksir dengannya, sangat rugi rasanya. Lebih tepat kalau dicurigai kejantanannya.
Aku adalah satu di antara ribuan manusia pemujanya. Ia tahu bahwa aku suka dengannya. Buktinya, bila aku SMS mempertanyakan apa saja, pasti dibalasnya. Hanya satu hal yang dianggapnya tabu, soal boy friend. Ia akan marah. Tak hanya tak mau membalas SMS bahkan mendiamkan panggilan dari HP-ku, tapi langsung ngambek.
Seperti hari ini. Sebenarnya aku cuma iseng. Mau tahu, malam Minggu atau  hari Minggu ke mana aja. Apakah pergi dengan seorang istimewanya.  Karena keusilanku, Ida langsung marah. Mungkin sudah tiga ratus tiga belas kali kubel, Ida cuek. HP-ku sampai panas.
Terus terang, sebenarnya sakit hatiku mempertanyakan dengan siapa Ida pergi malam panjang dan hari libur kemarin. Andai kata dijawabnya pergi dengan cowok, matilah aku. Duniaku pasti kiamat karena cemburu. Jika itu dilakukannya, akan kucari siapa pria yang lancang mengajaknya jalan-jalan. Bila kutemui, akan kuludahi cowok itu dengan ludah terbusukku. Biar bopeng mukanya.
Terus terang, tampan-tampan gini, aku punya sikap kasar lho. Seperti ganteng-ganteng serigalalah. Biar pun macho tapi akan mencakar kalau dicurangi. Bahkan menerkam bila dikadali. Lalu, karena kelancanganku tadi pagi, siang ini aku didiamkan Ida.
Sudah kucoba merayu dengan nyanyian yang paling digemarinya, tapi Ida cuek bebek. Uniknya, semakin merengut, Ida semakin cantik. Suer gak ada sisi jeleknya kekasihku ini. Mungkin, saat be’ol pun Ida tetap cantik. Putih, putih Ida beda dengan kebanyakan orang. Mungkin karena Ida gemar sayur dan menghindari daging. Gak seperti aku, kayak beruang. Lebih suka daging ketimbang kentang.
Hal itu kutanyakan langsung padanya. Karena geli, Ida tertawa lebar. Baru kali ini pula aku melihat gigi manisnya itu dengan bebas. Biasanya, Ida cuma senyum yang menunjukkan lesung pipi indahnya.
Tetapi memang aku usil. Aku tanya lagi siapa teman istimewa Ida. Aku atau siapa...soalnya kok tidak masuk sekolah. Kenapa tidak memberi tahu? Kenapa diam saja. Sama seperti yang lalu, kalau ditanya soal cowok, pasti marah dan merajuk. Tetapi, di situ pula aku yakin bahwa Ida pasti memilihku.
Aku saja yang tidak berani berterus terang dengannya. Soalnya, pe-de kalilah aku jika langsung siap mendampinginya. Meski demikian, pada kawan-kawan di sekolah, aku sudah memproklamirkan hubungan kami. Nggak percaya? Tengoklah puisi-puisi di majalah dinding. Terang-terangan di footnote kutujukan puisi itu untuk Ida.
Mau apa rupanya. Jika ada cowok  yang protes, langsung kusikat. Ida pun tidak pernah membantah hal tersebut. Itulah yang membuatku bahagia dan yakin hanya aku pria yang ada di hatinya. Benar kan, Idaku....
Tetapi kenapa sudah dua hari Ida tak masuk sekolah. Di kelas sudah geger tapi guru BP tidak reaktif. Aku mencari tahu, tapi jawaban  yang kuterima semakin tak memuaskan.
Kuberanikan diri ke rumah Ida. Emangnya kenapa dengan orangtuanya. Selama ini Ida selalu  melarangku main-main ke rumahnya karena khawatir orangtuanya marah. Kecuali kawan-kawan perempuan, Ida tak rela rumahnya dikunjungi. Tetapi, aku datang bukan untuk mengapeli, cuma ingin tahu keberadaan Ida.
Apalah jadi pergi liburan ke Hollywood karena ada kakak Ida yang tinggal di sana. Kalau liburan, kenapa aku tak diajak ya... kelewatan kalilah si Ida.
Sampai di ujung jalan arah rumah Ida, jantungku berdebar kencang. Kalau diukur dengan skala Richter, mungkin seperti gempa plus tsunami. Semakin dekat ke rumahnya, semakin berdebar. Tepat di depan kediaman Ida, aku pura-pura berhenti mogok. Melihat kiri kanan dan muka belakang. Sepi.
Kuberanikan mendekati pagar. Anjingnya menyambutku. Setelah jantung dan biji mataku hampir ke luar mengintip ke dalam, seorang perempuan bertanya keperluanku. Betapa terkejutnya aku, katanya Ida sakit dan dirawat.
Secepat kilat aku ke rumah sakit. Sampai di sana, diarahkan ke VVIP. Semakin dekat ke ruangan, semakin bergetar. Dengkulku pun beradu sampai-sampai aku tersandung kucing kurap itu.
Baru sampai selasar, aku berjumpa dengan papa Ida. Cepat-cepat aku tunduk, pura-pura tak lihat. Tetapi, calon mertuaku itu yang memanggil dan memelukku. Aku heran. Papa Ida ternyata ramah, tidak seram seperti cerita anaknya.
Beberapa detik, kudengar suara bertangisan seiring zuster mendorong kereta berisi mayat. Mama Ida meraung-raung. Refleks aku memeluk tubuh kaku bertutup kain yang ke luar ruangan. Nyawa Ida dimakan kanker darah. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru