Pagi itu cerah. Sudut taman indah. Burung-burung berkicau mengelilingi taman kota. Ia menikmati udara pagi itu di salah satu taman kota. Dari kejauhan, dilihatnya sebuah gedung pencakar langit yang ia bangun sendiri.
"Inilah hasil semua perjuanganku, semua tiada sia-sia dan menyesal," ujar Yamin, yang larut dalam masa lalunya.
***
Yamin namanya, seorang anak laki-laki yang terlahir di sebuah desa bernama Paya Pasir. Desa kelahiran itulah membuat dirinya paham arti sebuah kehidupan. Hidup adalah pilihan, batinnya. Hidup tidaklah mudah. Banyak lika-liku yang harus dihadapi, tinggal bagaimana menyikapinya. Terlahir dari keluarga yang kurang mampu namun sedikit pun Yamin tak pernah mengeluh sebab orang tua Yamin tidak mempunyai pendapatan ekonomi yang tinggi. Terlahir sebagai anak pertama. Yamin harus menjadi contoh buat adiknya. Titi namanya.
"Min, ayo bangun. Sudah pagi. Nanti kamu terlambat nak," ketus ibu.
Yamin bergegas untuk bangun dari tempat tidur dan langsung mandi. Tak terasa waktu terus berjalan. Jantung Yamin pun berdegup kencang sebab ujian nasional menjadi penentu kelulusannya. Ditariknya nafas lalu dilepaskannya udara yang masuk. Itulah kebiasaan Yamin namun sebelum ke sekolah, Yamin membantu ibunya.
Yamin membersihkan warung untuk tempat berjualan dan membantu mengangkat makanan tersebut di meja dan menatanya dengan rapi. Setelah itu, ia siap pergi ke sekolah.
"Bu saya pergi ke sekolah dulu ya".
"Ya nak, hati-hati di jalan dan nanti pulang langsung ke rumah, jangan main-main".
Yamin menjawab, "Ya bu," kata Yamin singkat.
Sesampainya di sekolah, ia memasuki ruangan dengan semangat. Ujian pun dimulai.
"Anak-anak sebelum ujian marilah kita berdoa agar ujian kita berlangsung dengan lancar,".
Pak Udin memberi nasihat kepada ruang dua. Yamin berdoa dengan sungguh-sungguh. Dalam doanya ada keinginan dapat lulus dengan nilai bagus, mendapat beasiswa dan masuk perguruan tinggi negeri. Saat ujian berlangsung, masih banyak siswa yang melakukan budaya negeri ini. Seumpama malaikat yang turun memberi bantuan. Namun berbeda dengannya, Yamin berusaha untuk mengerjakannya sendiri. Yamin tak merasa takut untuk menghadapi ujian tersebut karena telah tiga bulan yang lalu Yamin memantapkan belajar untuk ujian.
Tidak terasa, waktu telah berlalu. "Anak-anak waktu kita telah selesai. Letakkan kertas jawaban kalian di meja. Saya akan mengambilnya secara berurutan".
Pak Guru mengambil kertas itu satu per satu. Setelah itu, ia mempersilakan para siswa untuk pulang".
"Baiklah, ujian kita telah selesai. Sekarang kalian boleh pulang".
Para murid melangkahkan kakinya keluar dari ruang dua itu karena hari ini adalah hari terakhir ujian nasional, maka banyak siswa yang melakukan salah satu budaya negeri ini. Tradisi yang kerap sekali dilakukan mencoret-coret baju sekolah dan konvoi keliling jalan di pusat kota hingga memicu keributan. Namun berbeda dengan Yamin. Yamin sangat menepati janji kepada ibunya.
Setibanya di rumah, Yamin langsung mengganti pakaiannya. Tak lupa Yamin beribadah kepada Tuhan dan berterima kasih karena telah berhasil menyelesaikan ujiannya.
"Sudah pulang Min," tanya ibu
"Ya bu tadi saya langsung pulang ke rumah".
"Malas ikut teman-teman konvoi," kata Yamin.
"Baguslah nak, kamu tidak mengikuti kegiatan yang salah karena kegiatan tersebut sangat berbahaya".
"Ayo nak, ada sedikit kerjaan untukmu, itu kelinci dan ayam-ayam kita belum dikasih makan dan sekalian dibersihkan kandangnya ya! ujar ibu.
"Baik bu. Yamin kerjakan," jawab Yamin.
Waktu pun terus berjalan. Matahari telah turun. Malam itu pun Yamin sangat lelah hingga Yamin tertidur. Tiba-tiba saja Yamin bermimpi.
"Yamin, ada surat untukmu nak," ketus ibu.
"Ya bu. Dari mana, kenapa ada surat untukku. Apa? Surat dari Harvard University. Congrulation for you because you get the sclorahship!" Yamin pun terkejut hingga meneteskan air mata.
Yamin pun tersenyum ketika masih tidur. Bu Yamin pun menampar pipi Yamin hingga Yamin pun sadar ternyata itu hanya mimpi.
***
Tibalah saat yang dinanti. Yamin mendapat undangan untuk ibunya mengambil surat tanda kelulusan. Yamin dan ibunya pun pergi ke sekolah untuk mengambil surat tersebut. Dengan senang hati keduanya membaca surat tersebut. Dan akhirnya, mereka pun gembira ternyata Yamin pun "LULUS". Mereka pun bersyukur kepada Tuhan dan pulang ke rumah dengan wajah sumringah
Entah mengapa, Yamin pun merasa sedih. Ia pergi keluar rumah menikmati sore sejenak. Ia pun pergi, menikmati udara segar dekat rumah. Tak hanya itu, ia sejenak berjalan-jalan. Seseorang menghampirinya.
"Nak saya mau bertanya. Kebetulan saya kehabisan minyak. Dimana tempat menjual minyak di sini ya?" tanya lelaki setengah abad itu.
"Oh tidak jauh dari sini pak," jawab Yamin.
"Baiklah. Bisakah saya minta tolong pada kamu untuk membelikannya".
"Oh bisa pak," Yamin pun membelikannya.
"Ya ini pak minyaknya dan kembaliannya".
"Oh terima kasih nak. Ambil saja kembaliannya. Saya senang melihat kamu. Kamu akan terpilih," jawab lelaki itu.
Yamin pun heran mendengar kata-kata lelaki itu. Namun Yamin tidak berpikir panjang. Diajak lelaki itu untuk minum kopi sembari bercengkarama mengenai keluarga Yamin hingga malam pun telah tiba.
Yamin pun bergegas untuk pulang. Dilihatnya ibu yang termenung di teras rumah.
"Bu. Apa yang ibu pikirkan? Aku tahu apa yang ibu pikirkan. Ya sudahlah bu. Tidak apa-apa. Kalau memang tidak sanggup jangan dipaksa bu. Titi masih ada yang sekolah."
"Tidak nak, kamu harus tetap melanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Ibu tidak ingin anak ibu sama dengan nasib ibu saat ini. Kamu harus tetap melanjut ke jenjang yang lebih tinggi," tegas ibu.
"Baiklah bu, Yamin juga akan berusaha untuk mencari biaya untuk kuliah Yamin dan membantu ibu, sebisa Yamin."
Beberapa hari kemudian, datanglah seorang lelaki ke rumah Yamin. Laki-laki berpakaian rapi yang ternyata seorang petugas dari sebuah perusahaan Pertamina.
"Selamat pagi" sapa lelaki itu
"Ya selamat pagi. Ya ada apa ya pak?" jawab Yamin terkejut.
"Loh, bapak yang minggu lalu itukan. Maaf pak, beginilah keadaan rumah saya. Ada yang bisa saya bantu pak," tanya Yamin.
"Beginilah Yamin. Saya adalah kepala bagian perusahaan Pertamina. Kami mempunyai program bantuan beasiswa bagi keluarga yang tidak mampu. Kami memilih dirimu, nak. Ketika kita bertemu, saya secara tidak langsung saya menguji kamu dan karakter. Ternyata kamu memang anak yang pintar di sekolah.
Dan kamu orang jujur. Sangat sulit sekali kami temukan seperti kepribadian kamu. Jika kamu masih ingat, saya pernah mengatakan, kamu terpilih."
Yamin tidak menyangka apa yang terjadi namun ia ingat tentang mimpinya seminggu yang lalu. Yamin terkesipu. Orang tua Yamin-ibunya pun senang hingga meneteskan air mata.
"Terima kasih pak. Saya sangat bersyukur dipertemukan oleh bapak".
"Sama-sama, Yamin. Persiapkanlah dirimu."
Semangat Yamin ibarat api yang berkobar-kobar. Ia belajar dengan tekun.
Arsitektur adalah pilihan jurusan yang ia favorite, kan. Ya kegemarannya menggambar sketsa rumah menjadi bakatnya. Sejak kecil ia suka sekali menggambar.
Yamin pun berhasil mendapatkan beasiswa Harvard Universty yang didambakannya. Kini, Yamin seorang arsitektur terkenal. Tidak heran banyak orang yang mengaguminya atas keramahan dan tanggung jawabnya tidak lain pada masyarakat New York.
***
"DER…Ayo apa yang ayah lamunkan?" tanya Caroline.
"Haha..ayah mengingat masa lalu ayah. Sekarang ayah telah kembali ke kampung halaman ayah".
"Ingat, Caroline. Hidup itu sama halnya dengan menanam Labu. Jika kau tanam labu maka engkau akan menuai banyak tempat seperti itulah hidup. Tanamlah kebaikan kepada seseorang. Jika kau sudah banyak membantu dan engkau memerlukan bantuan namun tidak diberikan tetaplah bantu teman sebab kamu akan dibantu oleh orang lain."
"Ya benar yang dikatakan ayah, Caroline," sahut Ashley istri Yamin. ***
(r)