Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Robert Irwin, Bocah 11 Tahun Mampu ‘Berbicara’ dengan Buaya

- Minggu, 16 November 2014 16:00 WIB
1.219 view
Robert Irwin, Bocah 11 Tahun Mampu ‘Berbicara’ dengan Buaya
Jakarta (SIB)- Robert Clarence Irwin datang ke Indonesia. Bocah berusia 11 tahun itu amat populer di Australia. Lewat tayangan Discovery Kids Asia wajah dan namanya sangat familiar di benua yang dihuni hampir separo penduduk dunia tersebut.

Di Ibu Kota, Robert menunjukkan kemahirannya ‘berbicara’ dengan buaya. "Banyak orang takut sama buaya. Tapi aku tidak, karena sudah terbiasa akrab dengan binatang buas ini," jelasnya di Gandaria City, Jakarta, Sabtu, (8/11).

Tak hanya buaya yang dapat ditaklukkan Robert. Sejumah binatang melata mematikan, takluk di tangannya seperti ular. Bahkan binatang langka ular bersayap yang hanya ada di hutan Australia, telah dijamahnya. Sama seperti ayahnya, Steve Irwin yang terkenal sebagai The Crocodile Hunter, Robert pun kini tumbuh sebagai anak pemberani.

Sejak kecil, Robert sudah akrab dengan buaya. Ibu dan ayahnya sering kali membawanya saat syuting berburu buaya. Berburu yang dimaksud bukanlah untuk dibunuh, tapi memindahkannya ke tempat yang lebih layak.

Ketika menghadapi buaya, tergantung bagaimana manusia memperlakukannya saja. "Buaya itu binatang yang indah. Bagaimana kita memperlakukannya saja. Buat buaya tersebut nyaman bersama kita. Kalau dia merasa nyaman, siapa pun juga bisa akrab dengan binatang buas ini. Tidak akan berbahaya," ujarnya.
Sejak usia 10 tahun sudah mengantar acara Discovery Kids Asia. Dalam acara bertajuk Liar Tapi Benar Robert menunjukkan pertemanan dengan binatang buas. "Seluruh ide adalah untuk anak-anak untuk belajar tanpa menyadarinya," lapor Sydney Morning Herald. "Apa yang saya lakukan tentang bagaimana ilmu pengetahuan telah mendapat ide dan dibangun dari penemuan dari alam!".

Robert bahkan mengajak siapa saja untuk berteman dengan alam dan penghuninya. "Saya benar-benar ingin memberdayakan orang untuk membawa konservasi dalam kehidupan mereka sendiri," sebutnya sambil menunjukkan kulit buaya sebenarnya sensitif bila diperlakukan istimewa. “Lihat, kulit mereka berwarna hijau zaitun ringan, dengan banyak shading dan bintik-bintik hitam. Yang menciptakan pola untuk mencocokkan lingkungan mereka bersembunyi," ceritanya soal binatang ganas yang dapat mematung seharian demi memangsa calon korban tersebut.

Meski punya pengalaman menakutkan — karena ayahnya tewas dalam kecelakaan ikan pari aneh pada tahun 2006 — Robert mengajak adiknya untuk menemani binatang buas. "Aku punya adik yang terbaik di seluruh dunia. Saya telah belajar banyak dari dia," kata Robert menunjuk kerabatnya yang bernama Bindi. (T/R9/ r)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru