Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat Kartika Nadia, SMP Budi Murni 3 Medan

Aku Pasti Bisa

- Minggu, 16 November 2014 16:02 WIB
321 view
Seperti-  kemarin... kemarin dan kemarinnya lagi, fokusku cuma belajar. Maksudnya sih agar jangan ada ketertinggalan sedikit pun dalam hal pelajaran yang kutimba di sekolah. Targetnya, masuk jajaran terbaik. Jika pun tidak dapat secara keseluruhan, terbaik di kelas pun sudah cukuplah.

Kemarin, diajak oleh kawan-kawan nonton Konser Karya Kasih Choir.

Namanya konser, pasti enak ditonton. Apalagi sebagian besar pertunjukan dilakonkan rekan-rekan disabilitas. Ada motivasi hebat bila hadir di tengah pertunjukan. Soalnya, yang jadi artis adalah anak-anak berkebutuhan khusus.

Jika kaum disabilitas mampu menunjukkan bakat dan kemampuan, kenapa orang-orang yang punya indera lengkap tidak dapat berbuat seperti itu? Mungkin, aku pun tidak punya kelebihan hingga tak pernah tampil seperti mereka yang menyuguhkan keistimewaan melalui kesenian. Tetapi, ya itu tadi... karena ingin fokus belajar, aku mengabaikan ajakan kawan-kawan.

Padahal kami sudah janji. Dari rumah bawa baju salin. Pulang sekolah, berangkat rombongan ke rumah kawan untuk mandi dan kemudian menuju lokasi. Ibuku juga sudah memberi izin. Disebabkan pembatalan sepihak, kawan-kawan pada tak enakan. Tetapi aku menetralisir dengan alasan bahwa ibuku hendak pergi hingga tak ada orang di rumah menjaga adikku.

Ibuku saja sampai heran. Aku sudah diizinkan menonton, sudah diberikan uang tambahan untuk ongkos dan jajan tapi kok tidak jadi pergi. Kukatakan pada ibuku bahwa hari mau hujan. Mendung pekat pun menggantung hitam.

Sebagai ganti, seperti biasa, usai mandi dan makan, aku langsung belajar. Tetapi, ada saja pekerjaan lain yang harus dilakukan. Adikku rewel banget hingga mengganggu konsentrasi ibuku bekerja. Aku mengambil alih menjaga adik.

Mungkin karena dilihat ibu bahwa aku bersungut-sungut, ibu langsung minta padaku agar meletakkan adik. Maksudnya, menjaga sih boleh tapi tidak harus menggendong. Cukup memerhatikan agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Tetapi aku tidak tega melihat adik yang terus bersandar ke badanku. Sambil membuka buku, aku mendekat padanya. Namun, tanpa sengaja, adikku mengoyak buku wajibku. Andai cuma koyak, bisalah diusahakan disambung dengan baik tapi buku itu sudah seperti bubur.

Adikku meremaskan tangannya  yang basah pada lembar-lembar buku. Semakin kutarik untuk lepas, semakin kuat dicengkeramnya. Alhasil ya itu tadi... buku remuk terkoyak.

Betapapun aku mengusahakan merapikan, tetap tak bisa. Apalagi remukannya basah hingga kertas tersebut menjadi lebur. Aku menyesali diri tapi harus bilang apalagi.

Ibuku tak tahu kejadian itu tapi aku harus menggantinya. Syukur saja uang lebih yang diberikan ibu untuk nonton konser belum kukembalikan. Tanpa seizin ibu, aku mengutang pada kawanku untuk menambah uangku membeli buku mengganti yang rusak.

Banyak lagi kegiatan yang harus kutinggalkan karena pertimbangan menghemat uang dan memanfaatkan waktu untuk belajar. Kadang, aku minder. Apalagi bila sedang istirahat dan kawan-kawan cerita betapa enaknya nonton Saint Seiya: Legend of Sanctuary. Animasi asal Jepang itu memang jadi favoritku tapi — lagi-lagi karena pertimbangan ingin belajar — kuelakkan menyaksikannya.

Aku jadi kuper sendiri. Setiap kawan-kawan cerita tentang infotainment, aku terpelongo. Soalnya, memang sama sekali tak tahu. Sebaliknya, jika soal pelajaran, apalagi yang diajarkan di kelas, aku oke-oke saja. Bahkan menjadi bintangnya.

Kawan-kawan dekatku prihatin dengan kondisiku tapi aku tetap bertahan dengan sikapku. Aku cuma terpukul tatkala cowok yang suka memerhatikanku menasihati agar aku istirahat dan refreshing. Alasannya, otak pun perlu istirahat.

Memang, belakangan ini kepalaku terasa berat. Kadang mumet sendiri. Tetapi sesuai agenda, aku harus menjadi yang terbaik. Kuyakin, aku pasti bisa. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru