Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
CERPEN

Memori Gunung Sinabung

*Karya Hendra Maringga, Biara Kapusin St Fransiscus, Pemtangsiantar
- Minggu, 23 November 2014 17:26 WIB
362 view
Gunung-  Sinabung. Kamu pasti pernah mendengarnya kawan. Jika tidak, betapa malangnya kamu kawan. Kamu tertinggal berita tentang negerimu atau kamu memang tidak memberi perhatian. Padahal surat-surat kabar selalu memberitakannya kawan. Stasiun televisi tak ketinggalan menyiarkannya.

Kawan. Aku mau bercerita padamu. Aku bukan penghuni posko pengungsian. Aku hanyalah relawan. Meski aku tak berpenampilan menawan. Tetapi aku relawan kawan. Rela menderita demi kawan. Seperti dikatakan dalam syair lagu Anak Medan. Yah … aku memang anak Medan. Tetapi aku menjadi relawan bukan mau menunjukkan citra aku anak Medan. Aku menjadi relawan, karena aku ingin turut merasakan penderitaan para kawan di tempat pengungsian.

Kau tahu kawan. Debu vulkanik erupsi Gunung Sinabung, itulah yang pertama kali menyambut kedatanganku. Tidak hanya aku, tetapi juga kelima kawanku.

Tepatnya kami berenam. Enam orang pemuda berpenampilan tak terlalu menawan. Kami setia kawan. Tiap malam kami tampil ibarat biduan. Biduan tanpa bayaran kawan. Dua jam, minimal kami menghibur para penduduk di pengungsian kawan. Kami bernyanyi. Kami menari. Tetapi jangan heran, kawan. Meski kami berletih-letih menghibur mereka, sampai suara parau. Tak selalu pengungsi memberi respon yang baik kawan. Respon itu tak masalah bagi kami. Hal terpenting bahwa kami telah berusaha membuat mereka senang kawan.

Kami tidak hanya tampil sebagai biduan. Sebagai pendengar setia itu pun kami kerjakan. Tak tahu secara pasti alasannya. Para pengungsi lebih berkurang bebannya, apabila bercerita kepada kami kawan daripada teman sesama pengungsi. Sebenarnya bukan hanya kepada kami, tetapi juga kepada para pengunjung yang berdatangan. Jika kamu juga menjadi relawan atau mengunjungi mereka kawan, pastilah kamu berada pada barisan kami. Sosok yang dapat dijadikan tempat pencurahan hati.

Ada banyak cerita kami dengarkan dari mereka. Tentulah cerita yang selalu dilandasi kesedihan. Memang mereka pantas berada pada situasi itu. Setahun lebih sudah mereka berada di pengungsian. Bukan hanya satu tempat, tetapi ada yang harus mengungsi berkali-kali mencari daerah aman. Kawan, rumah-rumah selama waktu itu telah mereka tinggalkan. Jika berani pulang melihat rumah, itu berarti nyawa dipertaruhkan. Sebab, Gunung Sinabung tak mampu diprediksikan kapan meletusnya.

Rumah-rumah itu telah banyak berantakan dan ambruk seluruh tiang. Sekolah dan jambur seakan tak mau ketinggalan. Rubuh, tak mampu menahan debu yang begitu banyak di atap. Makanya betapa menyedihkan bagi mereka, ketika ada orang yang memberitakan bahwa tak ada rumah yang rubuh oleh bencana alam Gunung Sinabung. Pelajaran berharga kawan, kita harus ingat jangan pernah menyampaikan berita kalau kamu belum mendapat kepastian.

Rumah ditinggalkan, ladang pun tak dapat dikerjakan. Kamu tahu kawan, para pengungsi memang selalu mendapat makanan dari dermawan. Pagi, siang dan malam. Tetapi terkadang semua makanan rasanya seperti sama di lidah. Itu penuturan mereka kawan. Namun, mereka bukan mati rasa. Tetapi pikiran membuat mereka tak mampu merasakan makanan.

Anak-anak bersekolah. Jika dibuat perhitungan, betapa banyak biaya yang dibutuhkan anak-anak mereka. Selama ini biaya itu tak menjadi masalah. Sebab mereka punya ladang yang dapat dikerjakan. Dari hasil panen mereka dapat memperoleh uang. Uang yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak mereka. Urusan yang satu ini, tak banyak yang dapat kulakukan. Aku hanya mengatakan semoga banyak donatur berbelaskasih membantu biaya pendidikan.

Apakah mereka masih mengingat Tuhan? Tentu saja kawan. Meski tempat yang tersedia ala kadarnya, mereka tetap beribadah dan bersembahyang. Para pemuka agama mereka pun selalu berdatangan. Semua orang menyambut mereka, karena mereka tahu para pemuka agama menyampaikan hal yang benar. Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka dan tetap berbelaskasih kepada mereka. Dalam hal ini, aku sungguh kagum kepada mereka. Itu berarti bahwa mereka sungguh orang beriman.    

Biasanya aku sering prihatin selama di pengungsian. Tetapi kali ini aku terheran-heran. Dalam sekejap beberapa tempat disulap. Jalanan yang biasanya berdebu, menjadi indah dipandang mata karena dibersihkan. Lampu-lampu yang jarang bernyala, kini terang benderang di malam hari. Inilah dunia yang penuh drama. Pembersihan dilakukan karena orang nomor satu di negeri kita datang berkunjung ke posko-posko pengungsian. Aku tak mempersalahkan upaya penyambutan. Hanya alam pikirku terus berputar dengan segala logika-logikanya. Kita tidak berani menampilkan adanya diri kita di hadapan para pembesar.

Jika kau berada di sini kawan. Pemandangan yang sungguh berbeda, apabila dibandingkan jalanan-jalanan menuju posko pengungsian lain. Jalanan berdebu dengan ukuran inci. Tambah lagi tempat penginapan yang berpenampilan sederhana tampak bersih dan nyaman. Jika itu dibuat di tempat pengungsian lain, kawan? Tetapi itulah gambaran orang-orang negeri kita. Bisa melakukan sulap meski ia bukan tukang sulap.

Hanya beruntunglah kita kawan. Orang nomor satu kita kali ini telah menjawab kebutuhan. Dia langsung terjun ke lapangan dengan kesederhanaan dan keramahan. Semua orang berusaha disapa kawan. Banyak kata penghiburan yang diberikan. Dan perkataan itu sesuai dengan perbuatan. Segala aturan yang memperlambat proses bantuan diselesaikan dengan aman. Semoga segala sesuatu dapat berjalan dengan cepat, ya kawan. Dengan demikian teman-teman kita di pengungsian segera mendapat tempat yang aman dan lahan pekerjaan. (h)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru