Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat Vinsensia Poibe Sihombing, Akademi Ilmu Gizi Lubukpakam

Kan Kukenang Perjalanan Dengan Bram...

- Minggu, 23 November 2014 17:26 WIB
369 view
Aku -  mengenalnya sebagai pria  biasa-biasa saja. Maksudnya, penampilannya biasa, tidak ada yang terlalu istimewa. Misalnya, bila membandingkan dengan rekan satu gereja yang punya tubuh atletis itu, Bram kalah. Penampilan trendi dengan aroma harum. Atau dengan rekan lain yang punya kendaraan supercar.

Dengan sepeda motor keren seperti itu membuat perempuan menjadi suka. Minimal menoleh ke arahnya bila berada di atas kendaraan roda dua yang harganya bisa untuk DP mobil tersebut.

Tidak demikian halnya dengan Bram, pria sederhana yang selalu memerhatikanku.

Ia biasa-biasa saja. Tetapi bukan tak mampu memiliki apa saja yang dimauinya. Jangankan supercar yang bisa melaju kencang seperti kilat. Mobil pun bisa disopirinya. Tetapi, ia tak mau. Alasannya, apa yang dipunya orangtua bukan otomatis menjadi milik anak-anaknya.

Sejak menjelang SMA, ketika aku memutuskan tak suka berdekatan dengan cowok, baru kali inilah sekonyong-konyong aku punya perhatian tinggi. Dan baru kali ini pulalah sosok Bram mampu membuat jantungnya berdebar bila bertemu dengannya.

Hanya saja, aku selalu malu untuk mengatakan padanya tentang perasaanku. Perasaan itu lebih tepat dikatakan takut. Soalnya, mana ada perempuan yang buka suara lebih dulu tentang kesukaannya pada pria.

Disebabkan rasa itu, aku selalu curi-curi memandangnya. Bila masuk ke kelas, aku pasti mengarah ke lokalnya. Kadang, saking tak bisa menahan debaran di jantung, aku melintas dari kelasnya dengan  woles sambil bernyanyi-nyanyi. Bila melirik ke arahnya namun Bram masih fokus pada pelajaran, suaraku makin keras.

Suatu kali, ketika berdendang sesukanya, Bram melihatku juga. Saat itu pandangan kami tertunduk. Meski debaran di jantung makin kuat, tapi aku senyum. Bram juga senyum.

Di balik bibirnya itu tersimpan gigi yang kuat. Aku merasa, gigi-gigi dalam rahang itu seperti singa yang hendak menerkam mangsa dan melindungi orang yang disayanginya. Dan akulah orang yang hendak dilindungi tersebut.

Dugaanku benar. sahabat dekat Bram menyampaikan bahwa pria yang kusenangi itu selalu menanyakan tentang aku. Aku langsung menanggapi. Rasanya aku seperti melayang karena cerita kawan Bram tersebut.

Sejak saat itu pula aku terang-terangan mengatakan padanya. Tetapi ada yang mengganjal, aku tidak diizinkan orangtuaku untuk lebih dekat dengan Bram. Alasannya, aku harus fokus pada pelajaran. Padahal, bagiku, dengan dekat pada Bram, aku semakin semangat belajar.

Sama dengan Bram. Menurutnya, orangtuanya mendekatkannya pada paribannya (putri dari keluarga ibu-red) tapi ia tak suka. Alasannya, Bram suka dengan perempuan bertipe seperti aku. Yang takut tapi bersahabat dengan Tuhan serta patuh pada orangtua.

Aku berpikir, dari mana Bram tahu mengenai pribadiku. Soalnya, aku tak pernah cerita padanya mengenai aktivitas rohaniku. Jika benar aku penurut, pasti aku tak mau mendekat dengannya karena orangtuaku melarang. Bram bilang, suaraku merdu dan tiap bernyanyi kidung pujian, selalu menyejukkan hatinya.

Mengenai patuhnya pada orangtua, menurutnya, aku tetap mempertahankan prinsipku yang fokus pada pelajaran. Paparan Bram itu membuatku semakin suka pada filosofi hidupnya yang bijak. Ya, aku menilai Bram seorang pria bijaksana.

Buat apa tampan, jika tak bijaksana karena kehidupan yang sempurna adalah bijaksana menghadapi semua problem.

Suatu kali, saat kami berjalan berdua, tiba-tiba aku melihat ibuku di seberang jalan. Cepat-cepat aku menjauh sambil minta pada Bram untuk menghindar tapi dia justru berlari mengejar ke arah ibuku. Katanya, siapapun orangtuanya, jika hendak menyeberang, wajib dibantu apalagi dengan orangtuaku.

Aku bilang, “Jangan !” Karena akan berdampak marah padaku tapi Bram gak peduli. Semakin kuteriak, semakin kencang Bram lari.

Secara bersamaan mobil lintas provinsi melintas dan menabrak tubuhnya. Aku menangis sejadi-jadinya sambil merengkuh tubuh Bram yang berlumuran darah dan di pangkuanku Bram menghembuskan napas terakhir.

Bram tidak bersamaku karena Allah di surga lebih menyayanginya. Kejadian ini menjadi perjalanan hidupku yang tak dapat lekang dari ingatan. (i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru