Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Cerpen

Teman Terindah

*Karya Saria Purba
- Minggu, 30 November 2014 16:27 WIB
441 view
Untaian-  kata-kata pahit itu terus menguak di udara bergema di sudut hati paling dalam dari raga seorang gadis bernama Mika. Perihnya seakan tersayat sembilu, amat sangat menyakitkan tercabik habis kini segenap harapan yang telah dibangunnya. Saat terlontarnya bucian “anak bodoh tidak berguna”

menghampiri pelosok relung jiwanya. Sebegitukah dirinya? mengapa secepat itu mengalir dari mulut orang yang amat disayangnya? hampir tak habis pikir Mika mengingatnya. Sedetik kemudian diam menyelimuti ruangan itu.

Mika masih ingat jelas siapa yang ada di sana mama, papa dan kedua adiknya. 

Papanya tengah berdiri dengan rona muka yang siap menghabiskan musuh yang ada di hadapannya.

 Pintu terhempas jauh dari kutubnya. Lintasan memori itu terbuka kembali. Hampir tak disangka Mika lah pelakunya, dialah yang dengan sengaja melakukannya. Entah sudah berapa lama? Seberapa keras? Rusakkan pintu rumahnya itu? Segudang pertanyaan mengisi otaknya bukan itu yang mengganggu pikirannya tapi tangisan ibunya yang sempat melerai pertengkaran Mika dengan papanya, bukan cuma hari itu, tapi jauh di masa silam hanya saja sementara waktu Mika takut, tidak berani melawan kehendak papanya dia malah diam ikut aturan yang dibuat oleh sang papa yang telah membesarkan dirinya dari kecil. Kejadian itu telah membuktikan seluruh sakit hati yang dipendamnya selama ini. Jiwa pemberontak itu telah keluar dari permukaan.

 Puas rasanya Mika melakukan semua itu. Bayangan tangisan ibunya yang membuatnya jatuh remuk menyesalinya kembali.

Mika berlari secepat mungkin dari tempat yang hampir menyesakkan dadanya itu, dan segera menggapai tempatnya kini di sebuah rumah kost-kost-an kecil yang telah ditempatinya sejak 2 tahun belakangan sejak dia lulus pada sebuah Universitas Negeri yang diincarnya sejak masa SMA.

Mika berbaring dikasur berwarna biru bergambar mickey mouse kegemarannya. Pikirannya kusut. Jiwanya remuk. Sudah berapa jamkah dia berbaring? Mika terpaku. Isakan tangisnya mendera di seluruh ruangan, tubuhnya lemah, peluhnya kian membasahi tempat tidur beserta bantalnya pun menjadi korban kebanjiran yang ganas itu.

Tiba-tiba HP berdering menggelegar dari dalam tasnya. Mika pun segera meraihnya.

“Kak Mika” suara di seberang menyapa dengan lembut.

“Rangga” selanya pelan
“Kak Mika maafin papa ya, kakak jangan nangis lagi”

Mika mencoba mengontrol suasana hati dan suaranya agar tidak membuat orang yang disayanginya itu malah mengkhawatirkannya.

“Rangga jangan takut, kakak ga apa-apa kok” bujuknya lagi.

“Kakak jangan marah sama papa ya, kakak nanti ke sini lagi ya!” ujarnya dengan permintaan polos.

“Kalau nanti kakak ada liburan kakak pasti pulang, Rangga jangan bandel sama mama ya!” nasihat Mika pada adik bungsunya sambil mengakhiri pembicaraan.
Rangga adalah adik Mika yang masih berumur 6 tahun. Walaupun masih kecil perasaan seorang Rangga sudah bisa mengenal situasi yang terjadi.

 Anaknya lincah dan periang. Rangga adik tiri Mika. Sebab sepuluh tahun yang lalu ayah Mika menikah lagi dengan seorang perempuan yang kini menjadi mama tirinya. Banyak anggapan yang bilang ibu tiri sangat kejam. Tapi tidak untuk ibu Yanti yang jauh dari sindiran orang yang mengecapnya sebagai ibu tiri.

 Selama ini Yanti, ibu yang sudah berumur setengah baya itu mengurus Mika dan kedua adiknya dengan penuh sayang dia bangun keluarga Mika kembali dari kehancuran. Setelah kepergian ibu kandung Mika akibat sakit stroke yang dideritanya. Perlahan membawa mama yang dicintanya kepada sang Pencipta.

Mika mendapat pengganti mamanya. Juga mendapat 2 adik laki-laki dari mama Yanti. Mika menyadari semua itu dan tidak pernah mengeluh bahkan sangat menyayangi ibu dan kedua adiknya. Sifat otoriter dan keras dari papanya yang berprofesi sebagai polisi yang membuat Mika harus menuruti perintah papanya.

Semua yang terjadi mulai menimbulkan lahirnya seorang pemberontak.

Mika keluar dari istana kecilnya untuk mengobati kegundahan hatinya menuju kehangatan malam yang membawa serta tiupan angin mencoba menghapus seluruh lara yang membekas di hatinya. Mika terus berjalan menyusuri badan jalan dengan langkah terseok. Sementara pikirannya melayang jauh ke tempat lain. Hatinya menyimpan luka di ujung gang sebuah taman kecil telah menunggu jawaban kehadirannya. Mika baru ingat entah sudah berapa kali dia mampir ke taman kecil ini, memandangnya dari kejauhan tapi belum sempat menikmati keindahan yang ada di hadapannya dengan seksama. Mika mencari tempat dimana dia harus bersandar. Pandangannya menyapu sekelilingnya berbagai aktifitas menyebar, puluhan orang beraneka macam sikap dan tak ketinggalan pula penjual makanan minuman yang telah siap dengan barang dagangannya. Anak-anak bermain dan berlari hilir mudik bercengkarama dengan lepas bersama teman-temannya di tengah taman, pasangan muda-mudi memadu cinta di antara kerlap-kerlip lampu yang berwarna-warni menambah romantis suasana malam seakan dunia ini milik mereka berdua. Aduh... ternyata Mika baru ingat kalau hari kelam ini adalah malam minggu, malam yang selalu dinanti semua umat. Itupun hampir terlupakan oleh Mika akibat banyaknya beban pikiran yang tertimbun sehingga membuatnya lupa segalanya. Kembali dobrakan pintu itu terhempas begitu keras, tangisan ibunya yang memelas. “Ya, Tuhan ampuni aku karena tidak bisa menjadi apa yang diingini orangtua” batinnya lirih. Mika mengenang dirinya yang tidak memiliki kebanggaan sedikit pun yang dapat diberinya pada papa dan mamanya. Mika kecewa, air matanya merembes ke pipi yang mulus tanpa jerawat” apa yang sebenarnya diingini papanya!” tanya kata hati Mika. Selama ini Mika berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarganya tapi semua itu tidak pernah dianggap. Menyamakan Mika dengan yang lain yang lebih hebat dan berprestasi itulah setiap saat penuturan sepele dari papanya berhembus di kedua telinga Mika saat papanya berbicara dengan tetangga maupun kerabat kerja sang papa. Apakah dirinya ditakdirkan serendah itu? menderitakah jalan hidupnya? pikirannya melayang jauh tanpa disadarnya sebuah benda menyentuh kakinya, terasa ke syaraf sampai ke memori alam sadarnya. Mika melirik orang yang mengganggu ketenangannya. Seorang anak kecil berdiri di hadapannya begitu polos dan lucu. Mika teringat akan adiknya Rangga yang sudah sebaya dengan anak yang masih mematung di depannya.

“Kak itu bolaku!” ucapnya datar
Mika tersadar dari lamunannya sementara dan masih menahan bola berwarna putih milik anak kecil itu sembari mencoba tersenyum.

“Maafkan keponakanku ya” ujarnya dengan suara nyaring dan mencoba memecahkan kesunyian di antara Mika dan anak kecil itu. Mata Mika beranjak menoleh pada sesosok pria yang tengah berdiri merangkul pundak anak itu. Cowok itu mengeluarkan senyum ramahnya kepada perempuan yang baru ditemuinya itu.

“Tidak apa-apa, ini bolanya” jawab Mika sambil menyerahkan bola itu kepada pemiliknya. Anak itu dengan semangat meraih pemberian Mika lalu berlalu ke asalnya bersama temannya yang lain yang telah memanggilnya.

“Lagi sendiri aja nih?” tanya cowok bertubuh tinggi dan keren itu membuka pembicaraan.

“Boleh aku duduk di situ” sambil menunjuk bangku kosong di sebebalah Mika, Mika hanya mengangguk.

“Dian” tangannya terulur menwarkan pertemanan pada Mika.

“Mika” balas Mika sambil membalas uluran tangan cowok yang baru dikenalnya.

“Lagi nunggu seseorang?”
Kembali Mika hanya mengangguk.

“Jadi, lagi ngapain dong sendirian di sini!” selidiknya dengan rasa penasaran.

“Cuma iseng saja, cari angin segar” balasnya sekenanya.

“Cari angin seger ga malam gini non, tapi sore sambil jalan-jalan gitu. Ini sih namanya bikin masuk angin” seringainya dengan nada candaan. Mika hanya diam tidak menggubris.

“Kok bengong”?” tanyanya lagi.

“Lagi ada masalah ya”
Mika menatap orang yang ntah sudah berapa lama menjadi teman mengobrolnya dengan wajah kesal.

“Kamu bisa kok cerita ke aku, anggap saja aku ini sebagai temanmu yang sudah lama kamu kenal walaupun kenyataannya baru malam ini” tawanya dengan hati yang tulus. Mika masih juga diam tidak menjawab pertanyaan Dian.

“Makasih tapi aku ga mau ngerepotin orang!” tandasnya cepat sambil berlalu meninggalkan Dian yang terbengong sendiri.

“Tapi...Mika!” ujarnya memanggil cewek yang baru berlalu dari hadapannya. Namun yang dipanggil tetap berjalan tanpa menoleh suara itu berasa angin lalu yang mengalun begitu saja tanpa tujuan.

Pagi yang cerah menyeruak ke dasar bumi tepatnya di kamar mungil milik Mika. Begitu asyik Mika menikmati mentari pagi yang bersinar di balik tirai jendelanya. Betapa terkejutnya Mika begitu menatap jam weker yang terpajang manis di meja belajarnya. Ya... Tuhan sudah jam 8 pagi, aku terlambat ke gereja” selanya dalam hati. Mika melesat pergi untuk menyegarkan tubuhnya dengan segayung air murni pemberian Tuhan. Sesampainya di depan halaman gereja, lagu

puji-pujian mulai dikumandangkan dengan syahdu oleh seluruh jemaat gereja. Mika memilih bangku paling belakang supaya tidak mengganggu orang yang sedang khusuk beribadah. Khotbah disampaikan pendeta di depan mimbar benar-benar telah mengetuk hati Mika yang sedang galau. Mika mengikuti acara kebaktian pagi itu dengan doa dan ucapan syukur hingga tanpa disadarinya airmata tengah menetes perlahan di pipinya namun sama sekali tidak

diperdulikannya. Mika terus saja ingin membiarkan semua luka hatinya terbuang bersama sisa airmatanya. Tanpa disadarinya di sampingnya sudah memanggil seorang cowok, perlahan Mika menoleh ke asalnya suara itu bergema. Ya... Tuhan orang ini ada di sini!” lirih batinnya. Apakah dia sengaja mengikutiku?” tanya hatinya lagi.

“Selamat hari minggu Mika!” sapanya dengan senyum khasnya saat kebaktian telah selesai. Mika sambung membalas senyuman cowok yang ada di depannya dengan seadanya.

“Sendirian?” tanyanya.

Mika hanya mengangguk pelan
“Permisi, aku duluan” serganya sambil mencoba bergerak dari posisi semula namun dia menahan kepergian cewek yang dirasanya aneh itu.

“Tunggu, Mika bisa ga kamu tidak cuek seperti ini” ucap Dian. Mika hanya diam dan gerakan kakinya tertahan seketika. Dian mendekati Mika menatapnya jauh ke dalam lubuk hatinya terasa kepedihan terpancar saat itu juga. Kemudian Dian menarik lengan Mika menjauh dari gereja tepatnya di halaman depan gereja.
“Mika, aku tahu kami lagi ada masalah, aku bisa merasakannya dan aku juga punya masalah. Tapi kamu tidak harus memendamnya sendiri. Kamu bisa cerita ke aku. Mudah-mudahan aku bisa kasih solusi ke kamu. Walaupun kita baru kenal tapi kamu bisa anggap aku sebagai teman kamu.

Ingat kamu tidak sendiri. Tuhan selalu ada bersamamu dan tidak pernah membiarkan kamu menghadapi masalahmu sendirian,” ceritanya meyakinkan.

“Ga ada yang perlu diceritakan” ketusnya singkat.

“Mika, kamu tidak bisa bohong ke aku. Tuhan tidak suka sama orang pembohong. Kamu membohongi dirimu, aku dan Tuhan. Suasana hening dalam sekejap. Mika masih diam.

“Adakah sesuatu yang diciptakan Tuhan begitu rendah dan hina, jadi buat apa ia diciptakan” kilahnya mulai berbicara dengan mata mulai berkaca-kaca.

“Itu terjadi atas dasar pemikiran sempit manusia, di lain pihak semua orang ingin hidupnya berjalan mulus tanpa hambatan. Namun seringkali rintangan itu
datang untuk menguji kesabaran manusia,” jelasnya lagi.

“Kamu cuma bisa ngomong, karena kamu tidak berada di posisi aku!” bantahnya dengan suara agak meninggi.

“Aku juga pernah berada pada posisi kamu aku merasa sama seperti yang kamu alami tak berarti malahan dulu aku ingin mengakhiri segalanya namun aku diingatkan oleh sahabat dekatku dia telah dipanggil Tuhan 3 bulan yang lalu, akibat kecelakaan, aku mulai tersadar bahwa Tuhan begitu baik padaku dia tidak meninggalkanku seorang diri Tuhan juga mengirimkan sahabat untuk berbagi denganku. “Mika seakan tersengat dengan pernyataan Dian. Mika sejenak merenungi kata-kata Dian. Begitu butanya dia selama ini menganggap dirinya yang paling sengsara dan hanya sendirian menghadapi beban yang menghimpitnya kini.

“Dian” panggil sebuah suara dari arah belakang mereka. Mika dan Dian bersamaan menoleh ke arah empunya suara dari jarak tak begitu jauh tengah berdiri seorang lelaki setengah baya dengan senyum bak malaikatnya.

Pak pendeta yang menyampaikan khotbah di mimbar tadi tak lain adalah papa Dian, kejut Mika tiba-tiba, ini semua bukan kebetulan. Mika hampir tak mempercayainya Dian bagaikan pendeta kecil yang membuka hatinya yang tertutup selama ini. Dian segera menyambut panggilan papanya. “Mika, jika kamu perlu sharing sesuatu ke aku, aku bersedia kok menjadi tempatmu berbagi cerita asal kamu tidak mengacuhkanku lagi dan kurangi melamunnya ya” ujarnya seloroh dengan nada ramah.

“Mika aku pulang ya, sebenarnya aku mau bilang sama kamu. Aku bukan orang kota ini. Kebetulan papa ditugaskan berkhotbah pagi ini di sini.

Jadi terkadang aku ikut nemani papa, di sini kami tinggal di tempat kakakku dan semalam yang bersamaku itu keponakanku. Jika kamu tidak keberatan bolehkan aku meminta no Hpmu?” tanyanya. Mika masih terdiam, namun dia merasa ada yang dekat jauh di kedalaman mata lelaki yang baru dikenalnya penuh rasa tulus.

“Senang berkenalan denganmu” ucapnya mantap.

“Dian mengapa kamu baik padaku?” tanya Mika. “Karena Tuhan juga baik padamu!” jawabnya singkat.

Dian akhirnya pergi dari hadapan Mika sambil melambaikan tangan dan tersenyum penuh kemenangan.

Mika telah menemukan tempat terindah yang Tuhan berikan, begitu juga dengan kehadiran Dian. (f)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru