Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026
Curhat Nela Cynthia, SMA Swasta Panti Harapan Lawe Desky - Kutacane - Aceh Tenggara

Sekarang... Hanya Doa yang Kualakukan, Ayah

- Minggu, 07 Desember 2014 15:41 WIB
225 view
Tiap-  hari sejak mata terbuka hingga istirahat menyambut pagi kembali, aku punya agenda tetap. Selain untuk sekolah, harus membantu ayah.

Sejak ibu menghadapNya, aku dan ayah hidup berdua di kami. Orang-orang mengatakan pondok sampah. Maklum, rumah tempat tinggalku memang dipenuhi sampah. Barang-barang tersebut tak terpakai, tapi bagi kami sangat berharga.

Dari barang-barang rongsokan itulah ayah menyambung hidup. Tak hanya sekadar untuk makan, tapi untuk membiayai sekolahku. Karena fokusnya ayah memerhatikan dan menempa masa depanku, kadang aku tak tega berangkat ke sekolah. Dalam benakku, bila tidak sekolah seharian, tentu lebih maksimal membantu ayah.

Tetapi ayah berpikiran lain. Menurutnya, aku harus fokus sekolah. Tak perlu membantunya. Bahkan, kalau boleh, tidak usah berpikir tentangnya. Hanya satu pintanya, aku belajar tekun. Cepat selesai studi. Jika ada rejeki, cepat kerja dan selanjutnya.

Namun, lagi-lagi aku tak sanggup menjalankan perintah ayah itu dengan tenang. Meski sebelum pergi ke sekolah semua sudah kubereskan, tapi aku tetap tak bisa menghilangkan pikiran tentang ayah.

Bila siang, misalnya. Saat aku melihat kawan-kawan makan nikmat di kantin sekolah, aku pasti ingat ayah. Apakah ayah sudah makan siang. Tadi, emang sudah kusiapkan masakan lengkap dengan sayuran. Tetapi, apakah ayah suka dengan olahanku?

Segala keperluan dapur memang disediakan ayah. Tiap malam, ketika pulang kerja, dibawanya beras dan sayur untuk kumasak keesokan harinya. Jadwalnya, pagi-pagi benar aku bangun. Cuci muka lalu menjerangkan air. Menanak nasi dan mengolah sayur.

Ketika semua selesai, aku berangkat sekolah. Kadang ayah masih ingin mengantarku tapi tetap saja kutolak. Ayah sampai heran,  kenapa aku tidak mau diantar ke sekolah. Padahal, jarak antara sekolah dan rumah, lumayan jauh.

Semua itu kutempuh dengan jalan kaki. Kadang, demi memburu waktu, aku setengah berlari bahkan berlari. Tidak jarang aku bertemu kawan yang bersedia kutumpangi. Soalnya, mereka naik mobil.

Terus terang, aku jadi segan bila tiap hari menumpang. Tetapi kawan-kawanku justru marah kalau aku menolak. Sebagai ucapan terima kasih, aku sengaja ikut sampai ke rumah kawan yang mengantar. Sampai disana, aku langsung memberi jasa. Mulai dari membersihkan kamar sampai mengurut kaki kawanku.

Mula-mula mereka sungkan. Aku pun segan. Tetapi lama-kelamaan jadi biasa. Aku pun dapat keahlian jadi mashir mengurut kaki. Kupikir, apapun yang dilakukan bila dikerjakan ikhlas, pasti ada manfaatnya. Dengan keahlianku mengusuk itu pula aku jadi dapat tambahan uang.

Semua hasilnya tidak kugunakan untuk bersenang, jajan, misalnya. Tetapi menambah biaya kehidupan sehari-hari termasuk keperluanku. Ayahku saja sampai curiga. Ia khawatir duitku berasal dari pekerjaan tidak halal.

Ayah bahkan sempat bertanya langsung, apakah aku memiliki uang dari cara tak halal, mencuri misalnya.

Aku bersumpah, tidak melakukannya. Ayah maklum dengan jawabanku karena ia pun tahu persis bahwa keluarga almarhum ibuku selalu memberiku uang. Khusus tentang penghasilanku, aku tidak bilang bahwa sekarang mahir mengurut. Sebab, sebelum ayah pulang ke rumah, aku sudah sampai dan menyelesaikan seluruh tugas sekolah plus tanggung jawab di rumah.

Bila sudah malam, aku pun mengurut kaki ayah. Ayah juga mengakui bahwa apa yang kulakukan sama anaknya seperti dilakukan tukang kusuk profesional. Mendengar ucapan itu aku bergumam dalam hati bahwa aku sekarang sudah profesional juga.

Kemahiran mengusuk menjadi pekerjaan baru buatku. Soalnya, tiap hari pasti ada yang minta jasaku.

Kadang, penghasilanku sehari bisa mengalahkan pendapatan ayah. Tetapi, lagi-lagi aku tak berani berterus terang. Aku cuma khawatir apa yang kulakukan menambah beban pikirannya.

Niatku cuma satu. Jika sudah sampai waktunya, aku tak mau lagi ayah melakoni pekerjaan memulung. Sekarang ini, aku cuma berdoa kiranya ayah diberi kekuatan dan kesehatan mahasempurna. (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru