Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 31 Maret 2026

Pendiri WhatsApp, dari Remaja Gelandangan Jadi Triliuner

- Minggu, 07 Desember 2014 15:48 WIB
278 view
Pendiri WhatsApp, dari Remaja Gelandangan Jadi Triliuner
California (SIB)- Jan Koum lahir dan besar di pinggiran kota Kiev, Ukraina, dari keluarga pas-pasan. Usia 16 tahun, nekat pindah ke Amerika, demi mengejar apa yang kita kenal sebagai “American Dream”. Dua tahun lebih hidup menggelandang dan hanya bisa makan dari jatah pemerintah. Koum tidur beratap langit, beralaskan tanah. Untuk bertahan hidup, bekerja sebagai tukang bersih-bersih supermarket.

Hidup Koum kian terjal saat ibunya didiagnosa kanker. Boro-boro membantu ibu, untuk makan saja berharap sedekah. Koum hampir tidak lulus dari sebuah SMA di Mission Viejo, California, AS tapi Koum ngotot di San Jose University sambil bekerja sebagai penguji keamanan di Ernst & Young. Keterbatasan membuatnya drop out tapi Koum terus belajar programming secara autodidak.

Pada tahun 1997, Koum bekerja di Google sebagai teknisi infrastruktur. Koum pun bertemu dan berteman akrab dengan Brian Acton saat bekerja di Ernst & Young. Karena keahliannya sebagai programmer, Jan Koum diterima bekerja sebagai engineer di Yahoo dan bekerja di sana selama 10 tahun. Resign dari Yahoo, dua sahabat karib itu melamar ke Facebook yang tengah menanjak popularitasnya namun ditolak.

Pada Januari 2009, Koum membeli iPhone dan menyadari bahwa App Store yang saat itu berusia tujuh bulan akan menggebrak industri aplikasi dunia. Koum mengunjungi temannya, Alex Fishman dan keduanya berdiskusi selama beberapa jam seputar ide aplikasi Koum di rumah Fishman. Pada hari ulang tahunnya tanggal 24 Februari 2009, Koum mendirikan WhatsApp Inc. di California.

Setelah WhatsApp resmi dibeli Facebook dengan harga 19 miliar dolar AS atau sekitar Rp 224 triliun, Koum melakukan ritual yang mengharukan. Koum datang ke tempat dimana ia dulu, saat umur 17 tahun, setiap pagi antre untuk mendapatkan jatah makanan dari pemerintah. Koum menyandarkan kepalanya ke dinding tempat dulu antre. Mengenang saat-saat sulit, dimana bahkan untuk makan saja ia tidak punya uang. Pelan-pelan, air matanya meleleh. Ia tidak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan nilai setinggi itu.

Koum lalu mengenang ibunya yang sudah meninggal karena kanker. Ibunya yang rela menjahit baju buat dia demi menghemat. “Tak ada uang, Nak…”. Jan Koum tercenung. Ia menyesal tak pernah bisa mengabarkan berita bahagia ini kepada ibunya. (T/R9/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru